Pada tanggal 27 November, Universitas Terbuka Kota Ho Chi Minh menyelenggarakan konferensi internasional "Bisnis, Ekonomi , dan Sumber Daya" tahun 2025 (VBER2025) yang dihadiri oleh 80 akademisi, pakar, dan pembuat kebijakan dari dalam dan luar negeri. Acara ini merupakan forum untuk bertukar penelitian terbaru tentang kesehatan masyarakat, kesejahteraan rumah tangga, dan kapasitas keuangan dalam konteks global yang terus berubah.

Para ahli dan ilmuwan yang berpartisipasi dalam lokakarya
Dengan tema "Kesehatan masyarakat, kesejahteraan rumah tangga dan kapasitas keuangan", lokakarya tersebut mengumpulkan presentasi seputar tiga kelompok topik: Bisnis - keuangan - pemasaran; ekonomi publik - ekonomi internasional - ekonomi dan sumber daya lingkungan - energi - pertanian .
Profesor Theodor F. Cojoianu (Universitas Manajemen Singapura) menekankan peran "taksonomi hijau" dalam mengarahkan aliran modal menuju kegiatan ekonomi berkelanjutan. Menurutnya, "taksonomi hijau" kini menjadi bahasa umum antara investor dan pelaku bisnis, membantu meningkatkan transparansi dan mengendalikan dampak lingkungan.
Namun, proses pengembangan standar ini sangat rumit, membutuhkan waktu yang lama, dan sumber daya yang besar. Saat ini, Uni Eropa dan organisasi riset internasional sedang menghimbau universitas untuk berpartisipasi dalam inisiatif "Sustainable Finance Taxonomy Mapper" untuk membandingkan dan menghubungkan sistem "klasifikasi hijau" secara global.
Salah satu studi penting yang dipresentasikan adalah bagaimana bank merespons risiko hilangnya keanekaragaman hayati. Berdasarkan data dari hampir 5.000 perusahaan Eropa antara tahun 2018 dan 2023, bank cenderung memperketat penyaluran kredit atau mewajibkan agunan yang lebih tinggi bagi pencemar air. Khususnya, bank yang telah menandatangani Prinsip Ekuator mengenakan premi risiko keanekaragaman hayati yang lebih tinggi daripada rata-rata.
Temuan ini menunjukkan bahwa keuangan berkelanjutan memperluas cakupannya, tidak hanya berfokus pada perubahan iklim tetapi juga mencakup ekosistem, sumber daya air, dan kesehatan masyarakat.
Dari perspektif pasar tenaga kerja, Profesor Sanjay Singh (Universitas Dundee, Inggris) menganalisis perubahan besar akibat perubahan pesat dalam teknologi dan demografi. Menurutnya, masa depan pekerjaan dipengaruhi oleh tiga faktor: pekerjaan, tenaga kerja, dan lingkungan kerja.
Kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan robotika mengubah karakter banyak industri, menciptakan tantangan dalam ketenagakerjaan, stres kerja, dan tren menuju manajemen algoritmik. Di saat yang sama, model ketenagakerjaan global menjadi lebih fleksibel dengan meningkatnya jumlah pekerja lepas dan pekerja gig. Populasi yang menua di banyak negara terus menekan pasar tenaga kerja dan jaminan sosial.
Profesor Singh juga menyoroti perubahan drastis di tempat kerja. Maraknya kerja jarak jauh pascapandemi COVID-19 telah menyebabkan banyak wilayah perkotaan menghadapi tingkat kekosongan kantor yang tinggi, sementara wilayah dengan kualitas hidup yang baik justru menarik minat pekerja muda. Para pekerja kini memprioritaskan lingkungan kerja yang berkelanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan daripada pendapatan.
Menurutnya, pergeseran ini dapat meningkatkan ketimpangan, menciptakan risiko hak asasi manusia akibat teknologi, dan menekan eksploitasi sumber daya untuk mengoperasikan AI. Meskipun masa depan pekerjaan masih belum pasti, Profesor Singh menekankan bahwa kuncinya adalah menempatkan pembangunan berkelanjutan dan manusia di pusat setiap strategi transformasi.
Source: https://nld.com.vn/chuyen-gia-goi-mo-tai-chinh-xanh-va-bien-dong-thi-truong-lao-dong-toan-cau-196251127115543712.htm






Komentar (0)