Peraturan Pemerintah ini mengatur mekanisme dan kebijakan kerja sama pemerintah-swasta untuk penanaman modal, penelitian ilmiah , pengembangan teknologi, inovasi, dan transformasi digital; kerja sama pemerintah-swasta sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Penanaman Modal dalam bentuk kemitraan pemerintah-swasta; kerja sama pemerintah-swasta sesuai dengan mekanisme pemanfaatan kekayaan negara untuk kepentingan usaha patungan dan asosiasi; tanggung jawab para pihak dalam kegiatan kerja sama pemerintah-swasta.
Ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi dan transformasi digital menerapkan kemitraan publik-swasta
Berdasarkan Peraturan Menteri ini, bidang ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan transformasi digital yang menerapkan skema kemitraan publik-swasta meliputi:
1- Teknologi tinggi, teknologi strategis sebagaimana ditentukan dalam undang-undang tentang teknologi tinggi, undang-undang tentang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi; infrastruktur bagi ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi untuk meneliti, mengembangkan, dan menerapkan teknologi tinggi dan teknologi strategis.
2- Infrastruktur digital untuk memenuhi persyaratan pengembangan ekonomi digital, masyarakat digital, pemerintahan digital sesuai dengan keputusan Perdana Menteri tentang strategi infrastruktur digital di setiap periode.
3- Platform digital bersama sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 10 Resolusi No. 193/2025/QH15 tanggal 19 Februari 2025 Majelis Nasional tentang uji coba sejumlah mekanisme dan kebijakan khusus untuk menciptakan terobosan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan pengembangan transformasi digital nasional.
4- Kegiatan pelatihan bagi SDM teknologi digital, SDM industri teknologi digital; infrastruktur yang melayani pelatihan bagi SDM teknologi digital, SDM industri teknologi digital, meliputi:
a) Berinvestasi dalam, membangun dan mengoperasikan platform pendidikan dan pelatihan daring, model pendidikan universitas digital, dan meningkatkan kapasitas digital di masyarakat;
b) Melakukan investasi, pembangunan, pengoperasian atau renovasi, peningkatan, dan perluasan fasilitas pendidikan dan pelatihan, lembaga penelitian, dan pusat pelatihan khusus mengenai teknologi strategis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 Pasal ini; fasilitas penelitian ilmiah nasional utama, pengembangan teknologi, dan promosi inovasi, dan fasilitas lain yang berperan serta dalam pengembangan sumber daya manusia untuk teknologi digital dan teknologi strategis;
c) Membangun, menghubungkan, dan mengembangkan program pelatihan sumber daya manusia teknologi digital dan sumber daya manusia industri teknologi digital antar lembaga pendidikan pelatihan, lembaga penelitian, dan pusat inovasi di dalam negeri dan luar negeri atau antara lembaga pendidikan pelatihan, lembaga penelitian, dan pusat dengan organisasi, perseorangan, dan dunia usaha.
5- Jenis teknologi, produk, layanan, dan aktivitas lain yang sesuai untuk tujuan penelitian ilmiah, pengembangan dan inovasi teknologi, serta mendorong transformasi digital.
Kebijakan preferensial dan dukungan Negara
Organisasi dan individu yang berpartisipasi dalam kemitraan publik-swasta untuk investasi, penelitian ilmiah, pengembangan teknologi, inovasi dan transformasi digital berhak atas bentuk insentif dan dukungan berikut dari Negara:
1- Berhak memperoleh insentif perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan, termasuk kebijakan yang memperbolehkan badan usaha untuk mengurangkan biaya dalam rangka penetapan penghasilan kena pajak atas biaya kegiatan penelitian dan pengembangan badan usaha sebesar 200% dari biaya sesungguhnya kegiatan tersebut pada saat menghitung pajak penghasilan badan menurut peraturan pemerintah.
2. Berhak memperoleh kebijakan pembebasan dan keringanan biaya penggunaan tanah, sewa tanah, dan insentif penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan, peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal, dan peraturan perundang-undangan terkait.
3- Memiliki hasil penelitian ilmiah, pengembangan teknologi, dan inovasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi serta Pasal 6 Peraturan Pemerintah ini.
4- Menerapkan mekanisme penerimaan risiko dalam kegiatan ilmiah, teknologi, dan inovasi sesuai dengan ketentuan undang-undang tentang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Kriteria penentuan risiko yang dapat diterima, proses penilaian kepatuhan, mekanisme perlindungan pelaku, dan pengelolaan tugas ilmiah, teknologi, dan inovasi harus mematuhi ketentuan undang-undang tentang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
5- Organisasi dan perseorangan yang berpartisipasi dalam pelaksanaan proyek penanaman modal dalam bentuk sebagaimana dimaksud dalam Bab II Keputusan ini, memperoleh kebijakan preferensial dan dukungan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini dan Pasal 17 Keputusan ini.
6- Organisasi dan perseorangan yang berpartisipasi dalam kemitraan publik-swasta berdasarkan mekanisme penggunaan aset publik untuk tujuan usaha patungan dan asosiasi sebagaimana dimaksud dalam Bab III Keputusan ini akan mendapatkan kebijakan preferensial dan dukungan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini dan Pasal 21 Keputusan ini.
7- Organisasi dan individu yang berpartisipasi dalam kemitraan publik-swasta dalam bentuk yang ditentukan dalam Bab IV Keputusan ini akan mendapatkan kebijakan dan dukungan istimewa dari Negara yang ditentukan dalam Pasal ini dan undang-undang tentang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
8. Negara memesan dan menunjuk kontraktor untuk produk dan barang hasil kerja sama publik dan swasta guna melaksanakan tugas khusus di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Kepemilikan, kekayaan intelektual, data dan pembagian keuntungan dalam kemitraan publik-swasta
Peraturan tersebut juga secara khusus mengatur kepemilikan, hak kekayaan intelektual, data dan pembagian keuntungan dalam kemitraan publik-swasta:
1- Hak kepemilikan, pengelolaan, dan penggunaan aset yang timbul dari kegiatan penelitian dan pengembangan dalam kemitraan publik-swasta, termasuk program komputer, produk, platform teknologi, dan aplikasi lain yang terbentuk dari kegiatan eksploitasi, analisis, dan pengembangan data dalam kemitraan publik-swasta, ditentukan oleh para pihak dalam kontrak proyek atau perjanjian kerja sama, memastikan kepatuhan terhadap ketentuan hukum tentang kekayaan intelektual, hukum tentang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi, dan peraturan perundang-undangan yang relevan, kecuali untuk kasus yang ditentukan dalam Klausul 2 Pasal ini.
2- Kepemilikan dan hak kekayaan intelektual atas data yang dihasilkan dari kegiatan eksploitasi, analisis, dan pengembangan data dalam kemitraan publik-swasta ditentukan sebagai berikut:
a) Instansi negara merupakan pemilik data asli yang secara langsung diciptakan oleh instansi negara dalam menjalankan tugasnya, atau yang dikumpulkan dan diciptakan dari kertas, dokumen, dan bentuk materi digital lainnya, kecuali disepakati lain oleh para pihak;
b) Data yang timbul dari kegiatan penggalian, analisis, dan pengembangan data dilakukan berdasarkan kesepakatan para pihak, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang data, peraturan perundang-undangan tentang kekayaan intelektual, peraturan perundang-undangan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi, serta peraturan perundang-undangan yang terkait.
3- Pembagian keuntungan setelah pajak dari eksploitasi komersial atas aset yang timbul dari kegiatan penelitian dan pengembangan dalam kemitraan publik-swasta dilakukan berdasarkan kesepakatan para pihak dalam kontrak proyek atau perjanjian kerja sama, sesuai dengan ketentuan undang-undang tentang kekayaan intelektual, undang-undang tentang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dan undang-undang terkait lainnya untuk memastikan pembagian keuntungan yang adil, sepadan dengan kontribusi keuangan, sumber daya, dan teknologi masing-masing pihak.
Bentuk-bentuk kemitraan publik-swasta di bidang ilmu pengetahuan, pengembangan teknologi, inovasi dan transformasi digital
Peraturan Pemerintah ini mengatur bentuk-bentuk kemitraan publik-swasta di bidang ilmu pengetahuan, pengembangan teknologi, inovasi, dan transformasi digital, antara lain:
1. Penanaman modal dalam bentuk kerjasama pemerintah dengan badan usaha sesuai dengan ketentuan Undang-Undang tentang Penanaman Modal dalam bentuk kerjasama pemerintah dengan badan usaha.
2. Menggunakan aset publik untuk tujuan usaha patungan dan asosiasi.
3. Bentuk-bentuk kemitraan publik-swasta lainnya.
Kemitraan pemerintah-swasta berdasarkan ketentuan Undang-Undang Penanaman Modal dengan metode kemitraan pemerintah-swasta
Terkait dengan kerja sama pemerintah dan badan usaha sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Penanaman Modal dengan metode kerja sama pemerintah dan badan usaha, Peraturan Pemerintah ini mengatur bahwa penanaman modal dengan metode kerja sama pemerintah dan badan usaha dilakukan pada proyek-proyek investasi, konstruksi, dan operasi yang menggabungkan kegiatan riset dan bisnis (selanjutnya disebut proyek KPS iptek) untuk melaksanakan satu atau lebih infrastruktur berikut:
1- Infrastruktur untuk penelitian dan pengembangan teknologi tinggi dan teknologi strategis.
2- Infrastruktur digital, layanan digital, data.
3- Infrastruktur untuk pelatihan sumber daya manusia teknologi digital.
4- Infrastruktur lainnya di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan transformasi digital sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Proyek KPS di atas dilaksanakan berdasarkan satu atau kombinasi jenis kontrak KPS berikut:
1- Kontrak BOT (Bangun - Kelola - Alih), BTO (Bangun - Alih - Kelola), BOO (Bangun - Milik - Kelola) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 Ayat 1 Undang-Undang Penanaman Modal dengan metode kemitraan pemerintah dan swasta, diterapkan pada proyek dengan tujuan investasi, pembangunan, peningkatan, perluasan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi dan transformasi digital, atau penggabungan kegiatan penelitian ilmiah, pengembangan teknologi, dan penciptaan produk dan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan bisnis dan komersialisasi.
2- Kontrak BTL (Bangun - Alih - Sewa) dan BLT (Bangun - Sewa - Alih) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 Ayat 2 Undang-Undang Penanaman Modal dengan pola kemitraan pemerintah dan badan usaha, diberlakukan pada proyek yang kegiatannya meliputi penanaman modal, pembangunan, peningkatan, perluasan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi dan transformasi digital, atau menggabungkan kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi untuk menghasilkan barang dan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi bukan untuk tujuan komersialisasi.
3- Kontrak BT (Bangun-Serah) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 Ayat 2a Undang-Undang Penanaman Modal dengan metode Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 57 Tahun 2024/QH15) berlaku untuk proyek yang bersifat investasi, konstruksi atau renovasi, peningkatan, perluasan infrastruktur ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan transformasi digital untuk dialihkan kepada instansi pemerintah setelah selesai tahap investasi konstruksi.
4. Kontrak O&M (Operasi Manajemen) sebagaimana dimaksud pada huruf d ayat 1 pasal 45 UU Penanaman Modal dengan metode kerja sama pemerintah dan badan usaha, diterapkan pada proyek-proyek instansi pemerintah yang memiliki infrastruktur ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan transformasi digital serta memerlukan pengalaman manajemen dan operasional penanam modal dalam rangka penelitian ilmiah, pengembangan teknologi, dan komersialisasi produk ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kebijakan dukungan negara, insentif dan jaminan investasi untuk proyek KPS
Peraturan Pemerintah ini mengatur bahwa proyek KPS bidang sains dan teknologi tunduk pada mekanisme khusus mengenai dukungan, insentif, dan jaminan investasi dari Negara sebagai berikut:
1- Tingkat partisipasi modal Negara dalam proyek KPS sampai dengan 70% dari total investasi untuk mendukung konstruksi dan membayar kompensasi, pembersihan lokasi, dukungan, pemukiman kembali; dan mendukung konstruksi pekerjaan sementara.
2- Proyek KPS yang melibatkan kegiatan penelitian ilmiah, pengembangan teknologi, dan inovasi dipesan atau didanai sebagian atau seluruhnya dari anggaran pendapatan dan belanja negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 Peraturan Pemerintah ini. Pendanaan ini tidak bergantung pada modal negara yang berpartisipasi dalam proyek KPS sebagaimana dimaksud dalam Ayat 1 Pasal ini.
3- Mekanisme pembagian hasil peningkatan atau penurunan pendapatan sebagaimana diatur dalam Pasal 82 Undang-Undang Penanaman Modal dengan metode kemitraan pemerintah-swasta diterapkan. Dalam 3 tahun pertama setelah beroperasi dan beroperasi, tingkat pembagian sebesar 100% dari selisih antara pendapatan aktual dan pendapatan dalam rencana keuangan diterapkan apabila pendapatan aktual lebih rendah daripada pendapatan dalam rencana keuangan. Pembagian hasil penurunan pendapatan dalam klausul ini diterapkan apabila proyek KPBU memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Pasal 2, Pasal 82 Undang-Undang Penanaman Modal dengan metode kemitraan pemerintah-swasta.
4. Ketentuan mengenai pemutusan kontrak lebih awal dalam Pasal 52 Undang-Undang Penanaman Modal dengan pola kemitraan pemerintah dan badan usaha berlaku apabila produk ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang dihasilkan oleh badan usaha proyek KPBU telah menerapkan mekanisme pembagian hasil pengurangan pendapatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Pasal ini dalam jangka waktu 3 tahun pertama sejak saat kegiatan usaha dan kegiatan usaha, namun realisasi pendapatannya masih kurang dari 50% dari pendapatan yang diharapkan dalam rencana keuangan.
Penanam modal dan badan usaha proyek akan dibayar oleh Negara atas seluruh biaya penanaman modal, pembangunan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi, serta biaya operasional yang sah yang berkaitan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi apabila memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Penanaman Modal dengan metode kemitraan pemerintah dan swasta.
Dalam hal terjadi pemutusan kontrak lebih awal, aset yang terbentuk dari proyek tersebut akan dialihkan kepada Negara sesuai dengan ketentuan Pasal 3 Bab V Undang-Undang tentang Penanaman Modal dengan metode kerja sama pemerintah dan badan usaha; produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang terbentuk dari proyek tersebut akan ditangani sesuai dengan perjanjian dalam kontrak proyek KPS.
Kemitraan publik-swasta berdasarkan mekanisme penggunaan aset publik untuk tujuan usaha patungan dan asosiasi
Bahasa Indonesia: Mengenai metode kemitraan publik-swasta menurut mekanisme penggunaan aset publik untuk usaha patungan dan asosiasi, Keputusan tersebut menetapkan: Unit layanan publik diizinkan untuk menggunakan aset publik (termasuk data) untuk usaha patungan dan asosiasi satu sama lain atau dengan organisasi dan individu lain untuk penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi sebagaimana ditentukan dalam Klausul 1, Pasal 2 atau untuk melakukan kegiatan kerja sama pelatihan sebagaimana ditentukan dalam Klausul 4, Pasal 2 Keputusan ini. Organisasi sains dan teknologi publik dan unit layanan publik tidak diharuskan untuk membayar jumlah minimum 2% dari pendapatan sebagaimana ditentukan dalam Keputusan Pemerintah yang merinci sejumlah pasal Undang-Undang tentang Pengelolaan dan Penggunaan Aset Publik dalam kasus penggunaan untuk usaha patungan dan asosiasi untuk penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi strategis sebagaimana ditentukan dalam Klausul 1, Pasal 2 Keputusan ini atau untuk melakukan kegiatan kerja sama pelatihan sebagaimana ditentukan dalam Klausul 4, Pasal 2 Keputusan ini.
Keputusan ini berlaku mulai tanggal 1 Juli 2025, kecuali ketentuan dalam Pasal 2 Pasal ini. Ketentuan dalam Pasal 6, Pasal 19, dan Pasal 22 Keputusan ini berlaku mulai tanggal 1 Oktober 2025.
Surat Salju
Sumber: https://baochinhphu.vn/co-che-chinh-sach-hop-tac-cong-tu-trong-linh-vuc-phat-trien-khoa-hoc-cong-nghe-doi-moi-sang-tao-va-chuyen-doi-so-102250702182009765.htm
Komentar (0)