Jepang merupakan salah satu dari tiga pasar impor makanan laut terbesar Vietnam.
Menurut refleksi perusahaan eksportir udang, saat ini terdapat masalah besar akibat regulasi Jepang yang terlalu ketat dibandingkan dengan banyak negara lain terkait ambang batas penggunaan antibiotik doksisiklin dalam makanan laut yang diekspor ke Jepang. Hal ini menyebabkan kesulitan dan kerugian besar bagi makanan laut Vietnam, karena antibiotik ini masih diizinkan untuk digunakan dalam akuakultur di Vietnam.
VASEP menyatakan bahwa banyak negara tidak melarang penggunaan antibiotik Doksisiklin (dari golongan Tetrasiklin) dalam akuakultur dan tidak memeriksa residu antibiotik ini dalam produk akuakultur impor. Beberapa pasar seperti Uni Eropa, Tiongkok, dan Selandia Baru memang memeriksa indikator ini, tetapi semuanya menetapkan batas residu maksimum (BMR) sebesar 100 ppb. Batas ini dianggap sesuai, dengan penilaian risiko, dan produk akuakultur Vietnam yang dikontrol ketat dapat sepenuhnya memenuhi persyaratan ini.
Namun, Jepang hanya mengatur kadar maksimum Doksisiklin yang diizinkan dalam produk Perciformes Order sebesar 50 ppb dan belum mengatur MRL untuk produk akuatik lainnya. Berdasarkan peraturan yang berlaku di Jepang, untuk indikator kimia dan antibiotik yang tidak memiliki peraturan MRL, kadar umum 10 ppb (Batas Seragam) akan diterapkan pada indikator-indikator ini. Artinya, ambang batas maksimum yang dapat diterima di Jepang untuk indikator ini dalam produk akuatik impor 10 kali lebih ketat, hanya 1/10 dari ambang batas maksimum yang dapat diterima di banyak pasar lainnya.
Menghadapi masalah ini, VASEP merekomendasikan agar Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan mempertimbangkan dan berkonsultasi dengan badan pengawas Jepang sehingga Jepang dapat menyesuaikan peraturan tentang batas maksimum yang diizinkan (MRL) untuk antibiotik Doxycycline agar sama dengan tingkat pengawasan di negara lain seperti Uni Eropa, Cina, dan Selandia Baru.
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)