Ilmuwan Korea Selatan di Universitas Yonsei, Seoul, telah mengembangkan makanan berkelanjutan baru, hibrida daging sapi-nasi, yang dapat membantu mengatasi krisis pangan dan perubahan iklim.
Hibrida daging sapi-beras hasil laboratorium. Foto: Universitas Yonsei
Beras baru ini ditanam di laboratorium universitas, dikombinasikan dengan sel otot dan lemak sapi. Hasilnya adalah beras merah muda yang dapat menjadi alternatif daging yang lebih murah dan lebih ramah lingkungan dengan jejak karbon yang kecil, lapor Phys.org pada 18 Februari. Tim peneliti menjelaskan prosesnya dalam jurnal Matter.
"Bayangkan mendapatkan semua nutrisi yang Anda butuhkan dari beras protein hasil kultur sel," ujar rekan penulis studi Park So-hyeon. "Beras sudah memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, tetapi menambahkan sel dari ternak dapat meningkatkannya."
Butiran beras dilapisi gelatin ikan agar sel-sel daging sapi dapat menempel, kemudian ditumbuhkan dalam cawan kering selama 11 hari. Produk akhir mengandung 8% lebih banyak protein dan 7% lebih banyak lemak daripada beras biasa, serta lebih kenyal dan renyah. Produk terbaru ini memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah karena proses produksinya tidak memerlukan pemeliharaan hewan, yang menghabiskan banyak air dan sumber daya serta melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar.
Untuk setiap 100 gram protein, hibrida beras-daging sapi diperkirakan melepaskan kurang dari 6,27 kilogram karbon dioksida (CO2), sementara produksi daging sapi melepaskan CO2 delapan kali lebih banyak. Jika dikomersialkan, hibrida ini dapat menjadi pilihan yang jauh lebih murah bagi konsumen. Tim menghitung bahwa beras hibrida akan berharga $2,23 per kilogram, sementara daging sapi berharga sekitar $15 per kilogram di Korea Selatan.
Para peneliti berencana untuk menyempurnakan proses lebih lanjut sebelum beras baru tersebut dipasarkan agar memungkinkan pertumbuhan sel yang lebih baik, sehingga meningkatkan nilai gizinya.
An Khang (Menurut Phys.org )
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)