Untuk lebih memahami dampak AI pada industri jurnalisme, serta tantangan dan peluang yang dibawanya, reporter Tien Phong berbincang dengan Profesor Lee Chang-Hyun - Profesor Departemen Komunikasi, Universitas Kookmin, Seoul (Korea) untuk lebih memahami masalah ini.
“AI mengancam jurnalis muda, terutama reporter baru”
Profesor, bagaimana Anda menilai dampak AI pada industri media saat ini?
![]() |
Profesor Lee Chang-Hyun |
AI tidak hanya mengotomatiskan produksi berita, tetapi juga sangat memengaruhi algoritma pengecekan fakta dan rekomendasi konten. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang hakikat dan identitas jurnalisme. Era jurnalisme massa perlahan-lahan berganti menjadi era jurnalisme berbasis algoritma di era AI. Tantangan sesungguhnya bukan terletak pada AI itu sendiri, melainkan pada bagaimana organisasi media merangkul AI sebagai "alat" dan memanfaatkannya untuk memperkuat etika dan tanggung jawab sosial jurnalisme.
Jurnalisme pada dasarnya adalah profesi yang "humanis". Keunggulan jurnalis dibandingkan AI terletak pada kemampuan mereka untuk membuat keputusan etis sebagai manusia.
Dibandingkan dengan jurnalisme tradisional, apa saja kelebihan dan kekurangan penggunaan AI dalam pelaporan? Apakah menurut Anda elemen manusia akan tergantikan sepenuhnya di masa depan?
Keunggulan jurnalisme berbasis AI terletak pada kecepatan produksi berita, kemampuan memperluas konten, dan kemampuan menganalisis data. Misalnya, AI dapat menganalisis informasi keuangan secara real-time atau tren media sosial jauh lebih cepat daripada manusia. Namun, AI juga memiliki keterbatasan yang nyata, seperti penilaian berdasarkan prasangka, kurangnya kecanggihan emosional, dan keterbatasan dalam pengambilan keputusan etis. Oleh karena itu, peran jurnalis menjadi semakin penting. Jurnalis tidak hanya memproses dan menyampaikan informasi, tetapi juga harus menafsirkan realitas melalui sudut pandang humanis dan berpikir kritis. Oleh karena itu, saya percaya bahwa peran jurnalis tidak dapat dan tidak boleh sepenuhnya digantikan.
Menurut Anda, apakah "otomatisasi berita" mengancam profesi media di Korea? Apa yang perlu dipersiapkan oleh reporter muda untuk beradaptasi?
Di era AI, cara ruang redaksi dikelola dan cara jurnalis meliput berita juga harus berubah. Perusahaan dan jurnalis harus beradaptasi. Otomatisasi berita dapat menjadi ancaman nyata bagi jurnalis muda, terutama mereka yang baru mengenal profesi ini. Namun, saya melihat ini sebagai tanda perubahan, bukan krisis.
Profesor Lee Chang-Hyun lahir pada tahun 1964.
Anggota Dewan Direksi Stasiun Penyiaran Nasional KBS (2009-2012); Anggota Komite Evaluasi Program Penyiaran Komisi Radio dan Televisi dari tahun 2022 hingga sekarang; Ketua Dewan Pemantauan Pemirsa KBS dari tahun 2020 hingga 2021; Anggota Dewan Penasihat Layanan Naver dari tahun 2020 hingga 2021; Dia memiliki lusinan artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka tentang komunikasi dan ilmu sosial.
Reporter muda perlu mempersiapkan tiga hal:
Kompetensi Teknologi: Memahami cara kerja AI dan masalah etika yang dapat ditimbulkannya.
Keterampilan bercerita dan interpretasi: AI masih belum sebaik manusia dalam bercerita dan menafsirkan konteks budaya.
Berpikir Kritis: Lebih penting daripada menemukan jawaban yang “benar” adalah kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang “tajam”.
Bagaimana Anda mengevaluasi perbedaan cara media di Korea dan Vietnam menyikapi AI?
Setiap masyarakat perlu mengadopsi teknologi dengan cara yang sesuai dengan kondisinya masing-masing.
Korea Selatan adalah masyarakat yang mengalami digitalisasi pesat, sehingga adopsi AI di media cukup proaktif. Stasiun-stasiun TV Korea telah menggunakan AI untuk sintesis ucapan, subtitel otomatis, analisis audiens, dan bahkan memiliki host AI virtual. Namun, adopsi yang pesat ini juga menimbulkan masalah etika dan kekhawatiran tentang hilangnya pekerjaan.
![]() |
Profesor Lee Chang-Hyun, Universitas Kookmin, Seoul (Korea) |
Sebaliknya, Vietnam mengambil pendekatan yang lebih hati-hati dan terfokus terhadap AI. Hal ini membantu memfasilitasi pengembangan pedoman etika yang kuat untuk adopsi AI jangka panjang. Saya yakin kedua negara dapat saling belajar: Korea dapat belajar dari Vietnam tentang pendekatan etika, sementara Vietnam dapat belajar dari Korea tentang inovasi eksperimental.
Dapatkah Anda berbagi pengalaman Anda dalam melatih mahasiswa media agar memiliki etika profesional dan kecakapan teknologi?
Saya berfokus pada dua pilar utama pengajaran: etika dan eksperimen. Siswa bebas menggunakan alat seperti ChatGPT, DALL·E, dan pengenalan suara di kelas, tetapi di saat yang sama, saya meminta mereka untuk mengevaluasi sendiri isu-isu bias, transparansi, dan ambiguitas asal usul yang dapat ditimbulkan oleh teknologi AI. Tanpa pelajaran etika semacam itu, teknologi menjadi ancaman bagi umat manusia.
Tujuan saya bukanlah untuk melatih jurnalis yang “pandai menggunakan teknologi,” tetapi untuk membina jurnalis yang mampu berpikir kritis tentang teknologi.
Sumber: https://tienphong.vn/hay-nuoi-duong-nhung-nha-bao-biet-suy-ngam-hon-la-chi-gioi-su-dung-cong-nghe-post1752084.tpo
Komentar (0)