Kawasan Asia- Pasifik kini menjadi titik rawan serangan siber secara global. (Gambar dihasilkan oleh AI) |
New Straits Times (Malaysia) mengutip laporan tahunan Commvault – sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam ketahanan data – yang menyatakan bahwa kesenjangan antara tingkat kesiapan yang dirasakan dan ketahanan bisnis yang sebenarnya di Asia sangat mengkhawatirkan.
Menurut survei yang dilakukan oleh perusahaan riset dan konsultasi teknologi Tech Research Asia (TRA), mayoritas pemimpin bisnis yakin mereka siap merespons insiden siber. Namun, ketika menguji rencana respons mereka, hanya sepertiga organisasi yang disurvei yang merespons secara efektif setelah intrusi. Faktanya, 12% mengaku tidak memiliki rencana respons sama sekali dan merespons secara spontan.
"Ini menunjukkan ketidaksesuaian yang serius antara keyakinan dan kemampuan," ujar Gerard Russell, CTO untuk Asia Pasifik di Commvault, yang memperingatkan bahwa strategi pertahanan siber terbaik sekalipun dapat runtuh di bawah tekanan dunia nyata jika tidak diuji secara berkala dan diintegrasikan ke dalam operasi sehari-hari.
Kawasan Asia-Pasifik kini menjadi sarang serangan siber global. Sementara bisnis mempercepat transformasi digital, seperti penerapan komputasi awan, regulasi terkait kecerdasan buatan (AI) semakin ketat, membuat manajemen infrastruktur data dan kemampuan pertahanan siber semakin kompleks.
Di Singapura, sembilan dari 10 bisnis yakin mereka mampu bertahan dari serangan siber, dengan proporsi serupa di Malaysia, menurut laporan tersebut. Namun, kenyataannya, banyak bisnis masih kesulitan untuk pulih dengan cepat dan sepenuhnya.
72% bisnis yakin dapat melanjutkan operasi dalam lima hari setelah insiden siber, dengan hampir seperempatnya optimis pemulihan penuh hanya akan memakan waktu 12 jam. Namun, menurut para manajer TI, kenyataannya seringkali dibutuhkan tiga hingga empat minggu untuk memulihkan operasi minimal.
Lebih buruk lagi, hanya 30% organisasi yang sepenuhnya menguji beban kerja penting sebagai bagian dari rencana respons insiden (IRP) mereka, sehingga menimbulkan kesenjangan dalam ketahanan. Akibatnya, 85% bisnis mengalami pelanggaran data, 50% kehilangan akses sepenuhnya, dan hanya 40% yang berhasil memulihkan data mereka sepenuhnya.
Bisnis dengan ketahanan yang buruk dua kali lebih mungkin mengalami kehilangan data permanen dan 34% lebih mungkin terkunci sepenuhnya dari sistem mereka daripada populasi umum.
Saat Asia terus mendorong transformasi digital, pertanyaannya bukan lagi apakah serangan siber akan terjadi, tetapi apakah bisnis benar-benar siap ketika hal itu terjadi.
Sumber: https://baoquocte.vn/la-diem-nong-cua-cac-cuoc-tan-cong-mang-nhung-chi-13-doanh-nghiep-chau-a-co-kha-nang-ung-pho-tot-321663.html
Komentar (0)