Liga Arab pada 26 Januari memperingatkan "upaya pengusiran warga Palestina dari tanah mereka" setelah Presiden AS Donald Trump mengusulkan rencana untuk merelokasi penduduk Jalur Gaza ke Mesir dan Yordania.
Warga Deir al-Balah, Gaza, merayakan penandatanganan perjanjian gencatan senjata Hamas-Israel pada 19 Januari. (Sumber: Reuters) |
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Mesir mengeluarkan pernyataan tegas yang menentang usulan mantan Presiden AS Donald Trump, sembari menegaskan dukungan teguhnya terhadap hak-hak Palestina di wilayah mereka.
Menurut AFP, dalam pernyataan yang dikeluarkan pada tanggal 26 Januari, Kementerian Luar Negeri Mesir menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima tindakan apa pun yang melanggar hak-hak Palestina, baik melalui kegiatan permukiman, aneksasi wilayah, atau pemindahan paksa penduduk.
Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi memperingatkan bahwa rencana relokasi warga Palestina pada dasarnya bertujuan untuk menyabotase proses pembentukan negara Palestina yang merdeka, dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan "garis merah" yang dapat secara langsung mengancam keamanan nasional Mesir. Kementerian Luar Negeri Mesir mendesak masyarakat internasional untuk mendorong implementasi solusi dua negara, dan memperingatkan bahwa hal itu tidak akan mungkin terwujud jika warga Palestina dipaksa meninggalkan wilayah mereka.
Sejak konflik Israel-Hamas meletus pada Oktober 2023, baik Mesir maupun Yordania telah berulang kali menyatakan keprihatinan mendalam atas rencana pemindahan warga Palestina dari Gaza ke Mesir dan dari Tepi Barat ke Yordania.
[iklan_2]
Sumber: https://baoquocte.vn/lien-doan-arab-canh-bao-ve-ke-hoach-di-doi-nguoi-palestine-khoi-gaza-ai-cap-to-thai-do-cung-ran-302436.html
Komentar (0)