Kremlin mengatakan informasi yang tidak diketahui Tn. Zelensky tentang rencana bawahannya untuk menyerang jaringan pipa Nord Stream mengkhawatirkan Rusia dan Barat.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan hari ini bahwa "jejak Ukraina" semakin muncul dalam informasi terkait ledakan pipa gas Nord Stream.
"Informasi terbaru menunjukkan bahwa Presiden Volodymyr Zelensky mungkin tidak mengetahui tindakan bawahannya di badan keamanan. Ini merupakan tanda bahaya, tidak hanya bagi Rusia tetapi juga bagi negara-negara Barat. Sangat mengkhawatirkan bahwa otoritas Ukraina tidak dapat mengendalikan situasi di negara mereka sendiri," ujar Peskov.
Gelembung udara muncul dari kebocoran di Nord Stream 2 dekat Pulau Bornholm, Denmark, pada 27 September 2022. Foto: AFP
Pernyataan itu dibuat setelah Washington Post AS pada 11 November mengutip pejabat Ukraina dan sumber-sumber Eropa yang mengatakan bahwa Roman Chervinsky, seorang kolonel di pasukan khusus Ukraina, mengoordinasikan sabotase pipa gas Nord Stream.
Surat kabar tersebut melaporkan bahwa Chervinsky menerima perintah dari para petinggi yang melapor langsung kepada komandan militer Ukraina, Valery Zaluzhny. Presiden Zelensky dilaporkan tidak mengetahui rencana tersebut. "Peran Chervinsky merupakan bukti paling langsung keterlibatan pimpinan keamanan dan militer Ukraina dalam sabotase pipa Nord Stream," demikian pernyataan surat kabar tersebut.
Presiden Zelensky belum mengomentari informasi tersebut. Seorang juru bicara militer Ukraina mengatakan pada 12 November bahwa mereka "tidak memiliki data" mengenai konten yang dipublikasikan oleh surat kabar Amerika tersebut.
Chervinsky ditahan di penjara Kiev atas tuduhan menyalahgunakan kekuasaannya dalam skema untuk memikat seorang pilot Rusia agar membelot ke Ukraina pada Juli 2022. Pihak berwenang Ukraina menuduh Chervinsky, yang ditangkap pada bulan April, bertindak sewenang-wenang dan mengungkapkan koordinat bandara Ukraina, yang menyebabkan serangan tersebut.
Lokasi kebocoran setelah ledakan pada pipa Nord Stream 1 dan 2 pada bulan September 2022. Grafik: Guardian
Pipa Nord Stream 1 dan 2 dari Rusia ke Jerman yang melintasi Laut Baltik rusak akibat ledakan pada September 2022. Pipa-pipa tersebut tidak beroperasi saat itu. Denmark, Swedia, dan Jerman, tiga negara yang paling dekat dengan lokasi kejadian, meluncurkan penyelidikan dan menyimpulkan bahwa insiden tersebut merupakan tindakan sabotase, tetapi belum mengidentifikasi pelakunya.
Vu Anh (Menurut TASS, Reuters )
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)