Setelah beberapa waktu bekerja sama dalam berbagai kegiatan perlindungan lingkungan, sekelompok delapan mahasiswa tahun kedua di UniversitasFPT (Hanoi) secara resmi mendirikan proyek "Green Imprint".
Proyek ini merupakan kumpulan kemasan dengan keinginan untuk menyebarkan kesadaran akan perlindungan lingkungan dari hal-hal terkecil.
"Kami mengamati bahwa banyak orang masih memiliki kebiasaan mengumpulkan botol plastik untuk dijual sebagai barang bekas, tetapi sebagian besar kemasan seperti bungkus camilan, mi instan, kotak permen, dll. langsung dibuang ke tempat sampah. Tidak ada yang menyangka bahwa sebuah keluarga dapat membuang puluhan kemasan seperti itu setiap hari. Kenyataan inilah yang memotivasi kami untuk mulai memanfaatkan kemasan," ujar Pham Duc Vuong, Pemimpin Proyek.
Tidak berhenti pada seruan tersebut, kelompok tersebut memutuskan untuk langsung mengumpulkan dan mendaur ulang bahan-bahan yang tampaknya tidak berguna menjadi produk-produk buatan tangan seperti tatakan gelas, gantungan kunci, gelang, dan lain-lain untuk menyebarkan pesan perlindungan lingkungan.
Saat ini, kelompok ini beroperasi terutama di dua titik pengumpulan: Universitas FPT (Komune Thach Hoa, Distrik Thach That, Hanoi ) pada hari kerja dan ujung Jalan Ham Nghi (Distrik Nam Tu Liem, Hanoi) pada akhir pekan. Memperluas lokasi bukanlah hal yang mudah.
"Ketika membahas masalah ini dengan restoran, banyak tempat takut akan masalah, khawatir akan memengaruhi estetika, atau harus mengelola lebih banyak sampah. Sedangkan untuk tempat umum seperti taman atau sekolah, karena kami bukan badan hukum, sulit mendapatkan izin untuk menempatkan tempat sampah pengumpulan sampah," kata Vuong.
Pendanaan juga menjadi kendala besar bagi kelompok ini. Mulai dari merancang tempat sampah, mencetak dokumen, hingga biaya transportasi, kelompok ini harus mengurus semuanya sendiri. Namun, alih-alih menyerah, kelompok ini memilih untuk terus meyakinkan restoran, asrama, dan toko yang ramah, yang darinya mereka membangun model untuk berkembang secara bertahap.
Hidup hijau melalui tindakan
Tak ingin proyek ini berhenti hanya pada slogan-slogan, kelompok mahasiswa ini segera mengembangkan ide-ide daur ulang. Kemasan-kemasan tersebut dibersihkan, dipres, digulung, dan ditenun menjadi gelang, piring penyimpanan, tempat pensil, dan terkadang bahkan menjadi produk yang dipajang di lokakarya.
Selain itu, kelompok ini terhubung dengan individu dan organisasi yang bergerak di bidang daur ulang kreatif untuk mempelajari lebih lanjut tentang teknik pengolahan material. "Kami ingin menyebarkan pesan hidup ramah lingkungan tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui produk daur ulang dari sampah," ujar ketua kelompok.
Tidak perlu hidup hijau sempurna, cukup setiap hari setelah makan sebungkus mi, minum sekotak susu, jangan buang kemasannya. Letakkan di tempat yang tepat. Jika setiap orang melakukan hal kecil itu, lingkungan di sekitar kita akan sangat berbeda.
Kelompok Anjing Laut Hijau
Dalam waktu dekat, kelompok ini berencana untuk menyelenggarakan pameran di sekolah mereka untuk memperkenalkan produk daur ulang, dikombinasikan dengan lokakarya untuk membimbing siswa membuat kerajinan tangan dari kemasan, sehingga menciptakan pengalaman yang dekat bagi siswa.
Salah satu tantangan terbesar kelompok ini adalah faktor manusia. "Para siswa belajar keras dan bermain dengan giat. Jika media kurang terampil, pesan tentang hidup ramah lingkungan dapat dengan mudah terabaikan," ujar ketua kelompok, Pham Duc Vuong.
Itulah sebabnya kelompok tersebut memilih untuk bertanya alih-alih berteriak. "Ke mana bungkusnya setelah makan camilan? Jika 100 orang memasukkannya ke tempat pemilahan, apa yang akan berbeda?", pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul dalam mini-game, klip TikTok, dan unggahan Facebook kelompok tersebut.
Meski kecil namun efektif, lokakarya dan produk buatan tangan ini diterima dengan baik, bukan hanya karena kreativitasnya, tetapi juga karena pesan yang disampaikannya. Yang diharapkan kelompok ini setelah setiap pameran bukanlah pujian atas keindahannya, melainkan agar seseorang mulai berpikir berbeda tentang cara mereka hidup dan mengonsumsi.
Ada kenangan yang selalu diingat oleh kelompok ini, yaitu ketika mereka sedang bermain-main membuat produk daur ulang pertama mereka di sekolah, seorang petugas kebersihan lewat, berhenti sejenak untuk melihat, dan berseru: "Kenapa sampah terlihat begitu indah!". "Kami benar-benar tersentuh ketika mendengarnya dan yakin bahwa apa yang kami lakukan bukanlah hal kecil," ujar seorang anggota kelompok.
Meskipun proyek tersebut tidak memiliki sumber pendanaan resmi, kelompok tersebut tetap teguh pada tujuannya: Secara bertahap memperluas kegiatannya ke universitas-universitas lain, kemudian ke sekolah-sekolah menengah atas untuk menabur benih kesadaran perlindungan lingkungan sejak dini.
Sumber: https://phunuvietnam.vn/tao-dau-an-xanh-tu-vo-bao-bi-20250702112334231.htm
Komentar (0)