Identitas hidup atau sekadar model pajangan?
Di Da Nang , desa Nam O, sebuah desa nelayan kuno yang terkenal dengan pembuatan saus ikan dan nyanyian rakyat tradisionalnya, secara bertahap diliputi oleh urbanisasi yang pesat. Resor pantai dan proyek real estat liburan telah bermunculan, secara signifikan mengubah ruang hidup penduduk setempat.

Industri pembuatan saus ikan secara bertahap menyusut, dan festival tradisional seperti festival perikanan dan festival desa tidak lagi diadakan secara rutin, atau hanya bersifat simbolis dan ditujukan untuk wisatawan.
Situasi di Hue tidak jauh berbeda. Kawasan pesisir Thuan An, wilayah yang dulunya melestarikan banyak situs warisan budaya maritim, kini menyaksikan penyusutan ruang budaya secara bertahap. Kawasan permukiman baru dan proyek pariwisata berskala besar sedang direncanakan tepat di sepanjang garis pantai.
Seiring dengan perubahan lokasi, terjadi pula penurunan popularitas lagu pengantar tidur dan lagu rakyat, yang merupakan bagian dari jiwa desa-desa nelayan kuno.
Di Quang Ngai, desa-desa nelayan seperti Binh Chau, Sa Ky, dan Ganh Yen juga menghadapi tekanan dari pembangunan pelabuhan dan kawasan industri pesisir.
Ruang hidup dan area komunitas masyarakat secara bertahap semakin terfragmentasi. Atap genteng tua dan kisah-kisah lama tentang laut memudar seiring berjalannya waktu.

Menurut Bapak Nguyen Tan Loc, seorang peneliti budaya di Hue: "Jika kita hanya mempertahankan beberapa ritual dalam gaya pertunjukan untuk menghibur wisatawan, kita akan terj陷入 dalam lingkaran setan 'budaya pameran'."
Budaya hanya dapat bertahan jika dipelihara oleh komunitas, oleh kenangan, dan oleh perilaku kehidupan nyata.
Upaya untuk melestarikan "jiwa desa pesisir"
Menghadapi situasi ini, beberapa daerah mengambil langkah positif untuk melestarikan budaya secara "hidup", yaitu dengan mempertahankannya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, alih-alih mengubah warisan budaya menjadi barang pajangan.
Di Da Nang, pemerintah kota telah bekerja sama dengan masyarakat desa Nam O untuk menghidupkan kembali festival memancing dan memulihkan bentuk seni nyanyian tradisional Ba Trao.
Para perajin diundang untuk mengajar kaum muda secara gratis melalui kelas-kelas di Pusat Kebudayaan Distrik Lien Chieu. Proyek pembangunan museum saus ikan dan ruang budaya maritim Nam O dipercepat untuk menghubungkan warisan budaya dengan kehidupan modern.

Hue juga secara aktif melestarikan budaya maritimnya dengan mendirikan klub-klub untuk nyanyian rakyat tradisional, menyelenggarakan pertunjukan di festival, dan memasukkannya ke dalam program ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. Dengan cara ini, warisan budaya ditransmisikan kepada generasi muda secara alami, akrab, dan tanpa paksaan.
Di Quang Ngai, model pariwisata berbasis komunitas yang terhubung dengan desa-desa pesisir sedang diimplementasikan di Ganh Yen (komune Binh Hai, distrik Binh Son). Di sini, wisatawan tidak hanya dapat mengagumi keindahan alam tetapi juga merasakan pengalaman memancing, belajar cara membuat kecap ikan, berpartisipasi dalam festival tradisional, dan mendengarkan cerita tentang laut dari penduduk setempat.
Selain itu, banyak daerah telah mulai menggunakan teknologi untuk mendukung konservasi. Proyek-proyek untuk mendigitalisasi warisan tak benda, seperti merekam dan memfilmkan lagu-lagu rakyat dan nyanyian tradisional, serta membangun basis data digital festival dan ritual rakyat, sedang diujicobakan.
Ini dipandang sebagai pendekatan baru untuk melestarikan memori komunitas di era digital.
Jangan biarkan desa-desa nelayan menjadi "model masa lalu".
Para ahli budaya berpendapat bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian budaya bukanlah dua kategori yang terpisah dan saling bertentangan. Sebaliknya, jika direncanakan dan diinvestasikan dengan tepat, budaya itu sendiri dapat menjadi kekuatan pendorong bagi pembangunan berkelanjutan.

Kita perlu memandang budaya sebagai sumber daya lunak yang membantu menciptakan identitas, meningkatkan daya tarik pariwisata, serta melestarikan kenangan dan kohesi komunitas.
Oleh karena itu, kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, dan peneliti merupakan elemen inti dalam menciptakan model yang efektif untuk melestarikan budaya maritim. Komunitas nelayan seharusnya tidak hanya menjadi pemeran pendukung dalam proyek pembangunan, tetapi harus menjadi aktor utama dalam menciptakan, melestarikan, dan mengembangkan identitas mereka sendiri.
Urbanisasi adalah tren yang tak dapat dihindari, tetapi di tengah arus ini, pilihan antara "budaya hidup" dan "budaya pameran" bergantung pada kemauan dan tindakan individu itu sendiri.
Jika kita hanya melestarikan aspek-aspek permukaan dari festival, arsitektur, atau kerajinan tradisional untuk kesempatan berfoto dan tujuan promosi, maka budaya secara bertahap akan menjadi hampa. Tetapi jika kita mendengarkan dan menghormati nilai-nilai desa pesisir, sebagai tempat di mana identitas terbentuk dan di mana penduduk pesisir telah terhubung erat selama beberapa generasi, maka budaya akan terus hidup dan menyebar, seperti irama ombak Laut Vietnam Tengah yang tak pernah berhenti.
Sumber: https://baovanhoa.vn/van-hoa/bai-2-vong-xoay-do-thi-hoa-va-nguy-co-hoa-thach-van-hoa-150354.html








Komentar (0)