Tiongkok membuka jalan untuk "mengucapkan selamat tinggal" pada kendaraan berbahan bakar bensin
Sebagai ibu kota dengan populasi besar dan sistem lalu lintas yang padat, Beijing (Tiongkok) memelopori kebijakan pelarangan sepeda motor bertenaga bensin sejak tahun 1980-an. Pemerintah Beijing kemudian terus memperketat peraturan seperti membatasi registrasi kendaraan baru, meningkatkan standar emisi, dan mengatur batas usia penggunaan...
Selama proses ini, para pembuat kebijakan Tiongkok secara bertahap memperketat penggunaan sepeda motor dengan banyak tindakan drastis seperti menghentikan penerbitan surat-surat registrasi baru, melarang sepeda motor beredar di jalan-jalan utama...
Banyak daerah di Tiongkok juga telah memberlakukan larangan sepeda motor dari luar provinsi, yang memaksa penduduknya untuk menggunakannya hanya di area yang diizinkan. Shenzhen adalah kota pelopor yang melarang sepeda motor berbahan bakar fosil pada tahun 2003, dimulai dengan beberapa jalan dan kemudian meluas ke seluruh pusat kota.
Banyak sepeda dan sepeda motor listrik berhenti di lampu merah (Foto: Caixin).
Beijing dan Shanghai juga telah mengambil langkah-langkah drastis, seperti menghentikan penerbitan pelat nomor baru atau menaikkan biaya registrasi sepeda motor ke tingkat yang sangat tinggi. Strategi keseluruhan Tiongkok adalah kombinasi pembatasan bertahap dan hukuman berat, termasuk penyitaan kendaraan bagi pelanggar berulang.
Sejak 2017, Beijing juga menjadi salah satu daerah pertama yang menetapkan zona emisi rendah (LEZ), yang membatasi truk berat yang tidak memenuhi standar emisi China IV untuk memasuki pusat kota.
Tak hanya kota-kota besar, beberapa provinsi seperti Hainan juga memimpin dengan mengumumkan larangan penjualan mobil baru berbahan bakar bensin mulai tahun 2030. Menurut Straits Times, langkah ini dianggap sebagai langkah perintis untuk mendorong transisi menuju kendaraan listrik dan kendaraan energi baru (NEV).
Pemerintah Tiongkok juga telah menyetujui Rencana Pengembangan Kendaraan Energi Baru 2021-2035. Rencana tersebut menetapkan bahwa pada tahun 2025, setidaknya 20% dari seluruh kendaraan yang terjual harus bertenaga listrik atau hibrida; angka ini akan meningkat menjadi 40% pada tahun 2030, sementara emisi rata-rata per kendaraan akan berkurang sebesar 25%.
Untuk mendukung transisi ini, Tiongkok telah meluncurkan serangkaian kebijakan preferensial, termasuk pembebasan pajak, subsidi untuk pembelian kendaraan listrik, investasi di stasiun pengisian daya, produksi baterai, dan infrastruktur terbarukan. Pemerintah daerah juga didorong untuk menguji zona bebas bensin jika memenuhi persyaratan, dan kemudian memperluasnya ke seluruh negeri.
Ambisi hijau Inggris
Di Inggris, London adalah pelopor dalam penerapan kebijakan pengurangan emisi dari transportasi. Sejak 2017, kota ini telah menerapkan "T-Charge" untuk kendaraan tua yang tidak memenuhi standar emisi Euro 4 saat memasuki kawasan pusat kota pada jam sibuk.
Hanya dua tahun kemudian, pada April 2019, kebijakan ini digantikan oleh Zona Emisi Ultra Rendah (ULEZ). Meskipun tidak melarang mobil berbahan bakar bensin secara langsung, London menerapkan sistem pengisian daya yang ketat untuk mengurangi emisi kendaraan.
ULEZ mewajibkan kendaraan tua, termasuk sebagian besar mobil berbahan bakar bensin pra-2006 dan diesel pra-2015, untuk membayar biaya harian sekitar £12,50 untuk memasuki zona tersebut. Pelanggaran terhadap aturan ini akan mengakibatkan denda yang sangat besar.
Tujuan utama ULEZ adalah untuk secara bertahap menghilangkan kendaraan yang sangat berpolusi dari sistem transportasi perkotaan. Menurut Transport for London, setelah 5 tahun penerapan, konsentrasi NO2—salah satu bahaya kesehatan paling serius—telah menurun sebesar 54% di pusat kota London. Selain itu, lebih dari 85% kendaraan di jalan telah digantikan dengan kendaraan yang memenuhi standar emisi atau kendaraan listrik.
Kota Oxford juga telah menguji coba larangan penuh terhadap kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel (Foto: Alamy Stock).
Pengurangan jumlah kendaraan di bawah standar juga menghasilkan penurunan konsentrasi PM2.5 sebesar 31%. ULEZ telah memberikan insentif bagi warga dan pelaku bisnis untuk beralih ke kendaraan rendah emisi atau kendaraan listrik. Meskipun masih terdapat perdebatan, terutama mengenai dampak finansialnya terhadap masyarakat berpenghasilan rendah dan usaha kecil, manfaat lingkungan umumnya dipandang sebagai prioritas utama.
Oxford City (Inggris) juga telah menguji coba larangan total terhadap kendaraan bertenaga bensin, termasuk taksi dan mobil pribadi, di enam jalan utama mulai tahun 2020.
Mulai Februari 2022, kota ini akan menjadi yang pertama di Inggris yang menerapkan Zona Emisi Nol (ZEZ), yang melarang sepenuhnya kendaraan bermesin pembakaran internal mulai pukul 7 pagi hingga 7 malam setiap hari di sembilan jalan pusat.
Pada skala nasional, Pemerintah Inggris telah menyetujui peta jalan untuk melarang penjualan semua mobil berbahan bakar bensin dan diesel baru mulai tahun 2030. Mulai tahun 2035, semua mobil baru yang dijual di Inggris harus berupa kendaraan tanpa emisi, termasuk kendaraan listrik penuh atau kendaraan hidrogen.
Untuk mewujudkan tujuan ini, Inggris telah mengeluarkan regulasi "ZEV Mandate", yang mewajibkan produsen mobil untuk memastikan 80% kendaraan yang terjual adalah kendaraan tanpa emisi pada tahun 2030 dan 100% pada tahun 2035. Selain itu, negara ini juga telah menerapkan serangkaian kebijakan pendukung seperti investasi dalam pengembangan stasiun pengisian daya, insentif pajak bagi perusahaan manufaktur ramah lingkungan, dan dukungan finansial bagi pembeli kendaraan listrik.
Oslo (Norwegia) - Ibu kota trem
Oslo, ibu kota Norwegia, juga telah mulai menghapuskan mobil pribadi bertenaga bensin dari wilayah pusatnya, sementara kota tersebut telah berinvestasi besar dalam transportasi umum dan jalur sepeda.
Oslo menonjol karena insentif kendaraan listriknya yang kuat dan ambisinya untuk menjadi kota tanpa emisi sepenuhnya. Meskipun belum ada larangan langsung terhadap mobil berbahan bakar bensin di seluruh kota, insentif dan pembatasan telah menjadikan kendaraan listrik pilihan yang menarik.
Mobil listrik banyak digunakan di Norwegia (Foto: TU).
Secara khusus, Norwegia telah mengeluarkan kebijakan pembebasan pajak impor untuk kendaraan listrik, tidak mengenakan pajak pertambahan nilai (PPN), pembebasan biaya parkir, mengizinkan kendaraan listrik memasuki jalur bus, mengurangi biaya jalan raya hingga 75%...
Berkat insentif ini, lebih dari 80% mobil baru yang terjual di Oslo pada tahun 2023 akan bertenaga listrik. Banyak area di pusat kota juga telah diubah menjadi zona pejalan kaki atau dikhususkan untuk sepeda dan transportasi umum, sehingga secara signifikan mengurangi keberadaan mobil berbahan bakar bensin.
Negara-negara lain tidak tersingkir dari persaingan.
Di Paris (Prancis), sejak tahun 2020, mobil diesel tua juga telah dilarang beroperasi di pusat kota. Pemerintah kota menargetkan pelarangan total semua kendaraan pribadi berbahan bakar fosil pada tahun 2030.
Paris juga berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur alternatif seperti perluasan ruang pejalan kaki dan pengembangan sistem transportasi umum. Berkat hal tersebut, pada tahun 2024, konsentrasi NO2 di pusat kota telah turun ke level terendah dalam 25 tahun, sementara debu halus PM10 juga mencatat penurunan yang signifikan.
Oslo berambisi menjadi kota tanpa emisi kendaraan bermotor sama sekali (Foto: Asia Timur).
Ibu kota Spanyol, Madrid, juga telah menerapkan langkah serupa untuk meningkatkan kualitas udara. Sejak 2018, kota ini telah menetapkan Zona Emisi Rendah (LEZ), yang membatasi kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel tua memasuki pusat kota.
Studi menunjukkan bahwa LEZ telah mengurangi volume lalu lintas dan emisi secara signifikan, sekaligus mendorong masyarakat beralih ke angkutan umum, sehingga memperbaiki lingkungan perkotaan secara signifikan.
Tak luput dari tren global, Indonesia juga tengah mendorong transisi kendaraan. Menurut Menteri Energi Arifin Tasrif, Indonesia menargetkan penjualan sepeda motor listrik baru akan diizinkan mulai tahun 2040 dan mobil listrik mulai tahun 2050.
Peralihan ini diharapkan dapat mengurangi emisi CO2 dari mobil sebesar 2,7 juta ton dan dari sepeda motor sebesar 1,1 juta ton. Pemerintah Indonesia juga meluncurkan paket dukungan keuangan dan insentif untuk mendorong masyarakat membeli kendaraan ramah lingkungan.
Sejalan dengan konversi kendaraan, Indonesia juga berkomitmen untuk menutup semua pembangkit listrik tenaga batu bara pada tahun 2056 untuk bergerak menuju netralitas karbon.
Sumber: https://dantri.com.vn/kinh-doanh/cam-xe-xang-vao-trung-tam-cac-nuoc-lam-the-nao-20250716135111877.htm
Komentar (0)