Menurut Qantas, penutupan Jetstar Asia adalah keputusan strategis. Jetstar Asia, anak perusahaan Qantas Group yang berbasis di Singapura, telah menghadapi tantangan yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Keputusan untuk menutup maskapai penerbangan tersebut, yang dibuat bersama dengan pemegang saham utamanya, Westbrook Investments, merupakan konsekuensi dari melonjaknya biaya pemasok (hingga 200%), biaya bandara yang tinggi, dan persaingan regional yang ketat.

Meskipun sangat dihargai karena kualitas layanan dan keandalan operasionalnya, Jetstar Asia diperkirakan akan mencatat kerugian EBIT (laba sebelum bunga dan pajak) sebesar US$35 juta pada tahun fiskal ini sebelum keputusan untuk menutup maskapai diambil.

Pesawat Jetstar Asia Airbus 320 didorong mundur untuk lepas landas di Bandara Changi.jpg
Maskapai penerbangan berbiaya rendah Jetstar Asia tutup karena tekanan persaingan dan biaya operasional.

Maskapai ini akan terus mengoperasikan penerbangan dengan jadwal yang secara bertahap dikurangi selama tujuh minggu ke depan, sebelum secara resmi menghentikan operasinya pada 31 Juli 2025.