Manusia memberikan pengetahuan dengan dinamisme dan kreativitas, sangat berbeda dengan AI yang dingin.
Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, kecerdasan buatan (AI) semakin merambah kehidupan pembelajaran dan penelitian masyarakat. Dari ruang kelas SMA hingga ruang kuliah universitas, dari kursus daring hingga penelitian mendalam, AI telah menjadi "guru" baru, yang mendukung akses pengetahuan yang cepat dan mudah.
"Guru" AI naik takhta
Alat seperti ChatGPT, Gemini atau Copilot... mampu menjawab pertanyaan di hampir setiap bidang mulai dari bahasa asing, pemrograman, sains hingga keterampilan lunak hanya dalam beberapa detik.
AI tidak hanya dapat memberikan jawaban, tetapi juga menjelaskan secara detail, memberikan contoh, dan bahkan mempersonalisasi jalur pembelajaran berdasarkan tingkat dan kebutuhan setiap orang. Hal ini menghemat waktu, mengurangi biaya, dan membuka akses pengetahuan bagi mereka yang kesulitan dengan metode pembelajaran tradisional.
Banyak guru dan orang tua memandang AI sebagai asisten pengajar atau tutor di rumah, membantu perencanaan pembelajaran, latihan, dan penguatan. Siswa menggunakan AI untuk meneliti, mengerjakan pekerjaan rumah, dan melatih keterampilan...
Dari perspektif ini, AI tampaknya membuka pintu pengetahuan yang lebar, membantu pelajar maju lebih cepat dalam perjalanan mereka untuk menaklukkan pengetahuan.
Ngoc Thien, seorang mahasiswa teknologi informasi, mengatakan ia sering menggunakan ChatGPT untuk menyelesaikan latihan pemrograman dengan cepat. Cukup masukkan permintaan, AI langsung memberikan kode lengkap beserta penjelasannya, menghemat waktu dibandingkan mencari di Google atau membolak-balik buku.
Ketika pengetahuan dilihat melalui "lensa" algoritma
Namun, di balik manfaat itu, terdapat pertanyaan yang mengkhawatirkan: apakah pengetahuan manusia benar-benar berkembang, atau justru dibatasi oleh kerangka kerja yang diciptakan oleh algoritma?
AI, betapapun pintarnya, tetaplah produk dari data pelatihan. Setiap model "diberi" kumpulan informasi yang tersedia yang memiliki bias, kekurangan, dan keterbatasan tertentu. Jawaban yang diberikan AI bukanlah "kebenaran mutlak", melainkan versi informasi yang telah dipilih, disintesis, dan dioptimalkan sedemikian rupa sehingga algoritma menganggapnya paling tepat, aman, atau populer.
Menurut studi Your Brain on ChatGPT (6-2025) yang dilakukan MIT Media Lab, penggunaan AI yang berlebihan dalam penulisan esai menghasilkan hasil yang homogen, dengan banyak esai dinilai "tidak berjiwa" dan menunjukkan tanda-tanda berkurangnya kemampuan berpikir kritis. Saat belajar pemrograman, AI juga sering kali membimbing siswa dengan "cara yang paling umum", mengabaikan metode yang kreatif atau kurang umum namun tetap efektif.
Akibatnya, kemampuan untuk mencari dan membandingkan informasi perlahan memudar. Pembelajar dengan mudah menerima jawaban pertama sebagai kebenaran, alih-alih terus bertanya atau belajar lebih lanjut. Seiring waktu, pemikiran dibentuk oleh algoritma, yang menyebabkan keragaman dan kreativitas dalam mengakses pengetahuan menjadi terbatas.
Pengetahuan terbuka atau pengetahuan tertutup?
AI tentu akan terus memainkan peran penting dalam pendidikan , tetapi tidak dapat dan tidak seharusnya sepenuhnya menggantikan pembelajaran aktif manusia. Alih-alih memandang AI sebagai "guru" utama, kita perlu melihatnya sebagai alat pendukung yang bermanfaat namun terkendali.
Pembelajar harus secara aktif memverifikasi informasi, membandingkannya dengan berbagai sumber, baik daring maupun tradisional. Lebih penting lagi, mereka perlu melatih berpikir kritis dan kemampuan mengajukan pertanyaan mendalam, tidak hanya untuk menerima pengetahuan, tetapi juga memahami konteks, asal, dan keterbatasannya.
Pengetahuan hanya benar-benar berkembang ketika manusia berani keluar dari cetakan yang diciptakan oleh algoritma. Pada saat itu, AI bukanlah kerangka kerja yang membatasi pemikiran, melainkan perpanjangan tangan yang membantu kita melangkah lebih jauh di jalur penemuan dan kreativitas.
Apa pendapat Anda tentang isu ini? Menurut Anda, bagaimana AI seharusnya diterapkan dalam pembelajaran agar tidak pasif dan tidak kehilangan kemampuan berdebat? Silakan kirimkan komentar Anda ke Tuoi Tre Online di kolom komentar di bawah artikel, atau kirimkan email ke tto@tuoitre.com.vn.
Sumber: https://tuoitre.vn/khi-ai-lam-thay-tri-thuc-dang-bi-thuat-toan-lap-khuon-20250805163518447.htm
Komentar (0)