Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Nostalgia bukanlah perasaan yang hanya dimiliki oleh siapa pun!

Báo Gia đình Việt NamBáo Gia đình Việt Nam31/01/2025

Di suatu sore menjelang akhir tahun, saat angin dingin menyelinap melalui jalanan, hatiku terasa sakit karena kerinduan yang tak henti-hentinya kepada orang tuaku. Kerinduan ini sepertinya semakin berat setiap kali Tahun Baru Imlek berlalu.


Tahun ini, Tet (Tahun Baru Imlek) terasa lebih menyedihkan, karena menandai 58 tahun sejak ayahku meninggal dunia, dan lebih dari setahun sejak ibuku juga meninggalkan dunia ini. Di hari-hari menjelang Tet, kenangan tentang orang tuaku kembali menyerbu seperti air terjun, membangkitkan kerinduan yang mendalam dan rasa hampa yang tak berujung.

Tragedi Tet tanpa ayah: Separuh kenangan hilang selamanya.

Saya lahir di masa perang yang brutal. Ayah saya meninggal pada tahun 1967, ketika saya masih terlalu muda untuk sepenuhnya memahami kehilangan yang sangat besar itu. Kenangan saya tentang beliau adalah sosok yang tinggi dan kurus, senyum yang lembut, dan tangan yang kasar yang selalu memberikan perlindungan bagi keluarga saya. Beliau pergi ketika negara membutuhkannya, meninggalkan ibu saya untuk membesarkan anak-anaknya sendirian.

Selama tahun-tahun itu, Tết di rumah kecil kami selalu tanpa ayahku. Setiap kali aku mendengar petasan di malam Tahun Baru, hatiku sakit melihat ibuku duduk diam di dekat altar, matanya dipenuhi air mata. Pada beberapa malam Tahun Baru, ia tetap terjaga sepanjang malam, seolah-olah diam-diam bercakap-cakap dengan ayahku melalui asap dupa yang berputar-putar. Setiap doa yang diucapkannya adalah kenangan, sebuah harapan yang dikirim kepada almarhum.

Kenangan itu, meskipun puluhan tahun telah berlalu, tetap terukir dalam di hatiku. Baru setelah dewasa aku benar-benar memahami kehilangan yang diderita keluargaku. Ayahku bukan hanya pilar keluarga, tetapi juga kebanggaan dan dukungan emosional bagi ibuku dan kami.

Kehilangan seorang ibu: Musim semi tak lagi lengkap.

Tahun lalu, ibuku juga meninggalkan kami untuk bersatu kembali dengan ayahku di tempat yang jauh. Rasa sakit kehilangan ibuku seperti pisau yang menusuk dalam-dalam ke jiwaku. Jika kematian ayahku adalah rasa sakit yang berkepanjangan yang berlangsung sepanjang masa kecilku, maka kematian ibuku adalah rasa sakit yang membuatku berlutut di masa senja hidupku.

Tahun ini, rumah tetap bersih, pesta tetap meriah, tetapi tanpa kehadiran ibuku, Tết tiba-tiba terasa hambar dan tanpa jiwa. Aku ingat usaha ibuku yang tak kenal lelah menyiapkan kue ketan dan acar bawang dari subuh hingga senja; aku ingat tangannya dengan hati-hati membungkus setiap kue dengan penuh kasih sayang. Ibuku adalah jiwa dari perayaan Tết yang hangat dan penuh sukacita, orang yang menghubungkan semua generasi dalam keluarga.

Saat ibuku masih hidup, betapapun sibuknya aku dengan pekerjaan, aku selalu berusaha pulang lebih awal. Melihatnya duduk di dekat perapian, bercerita tentang kisah-kisah lama, membuatku merasa sangat tenang. Sekarang setelah ia tiada, dapur terasa dingin dan kosong, dan kisah-kisah itu telah lenyap bersamanya.

Sore terakhir tahun ini: Sebuah kenangan mengharukan tentang orang tua.

Siang ini, duduk di depan altar, menatap potret orang tua saya, rasa hampa dan kesedihan yang mendalam menyelimuti diri saya. Air mata jatuh tanpa suara, seperti kata-kata yang tak terucapkan. Mungkin, saat mereka masih hidup, saya tidak cukup menghargai setiap momen bersama mereka. Sekarang, apa pun yang ingin saya lakukan untuk menebusnya, itu mustahil.

Aku ingat setiap kata ajaran ayahku, setiap tatapan penuh kasih sayang dari ibuku. Aku ingat hari-hari Tahun Baru Imlek yang sederhana namun penuh cinta itu. Setiap kue, setiap cangkir teh yang disajikan ibuku di meja melambangkan pengorbanan dan cinta yang tak terbatas.

Di sore hari menjelang akhir tahun ini, sambil menyaksikan keramaian yang sibuk mempersiapkan Tết (Tahun Baru Imlek), diam-diam aku berharap bisa memutar waktu kembali, ke masa ketika orang tuaku masih hidup. Bahkan dengan makanan sederhana dan perayaan Tết yang minim kemewahan materi, selama orang tuaku berada di sisiku, semuanya terasa hangat dan lengkap.

Tahun Baru Imlek ini, tanpa orang tua, aku semakin mengerti betapa berharganya waktu, namun juga betapa cepatnya waktu berlalu. Orang tua adalah sumber, fondasi kokoh jiwaku, tempat hatiku kembali setiap kali aku merasa tersesat. Kehilangan orang tua seperti kehilangan sebagian jiwaku, sebagian musim semi yang takkan pernah kembali.

Meskipun aku tahu hidup itu tidak kekal, hatiku tetap merindukan orang tuaku setiap kali Tết (Tahun Baru Imlek) tiba. Aku hanya berharap bahwa, jauh di sana, mereka telah bersatu kembali dan masih mengawasi serta melindungiku seperti yang mereka lakukan di masa kecilku. Dan meskipun orang tuaku tidak lagi bersamaku di Tết ini, aku akan tetap hidup, mencintai, dan menghargai nilai-nilai keluarga yang pernah mereka tanamkan.

Tanpa orang tua saya, Tết (Tahun Baru Imlek) terasa tidak lengkap. Tetapi dalam ingatan saya, orang tua saya akan selamanya menjadi musim semi terindah, cahaya penuntun bagi saya di sisa hari-hari hidup saya. Saat Tết tiba dan musim semi kembali, pemandangan berubah, tetapi beberapa kenangan tetap tidak berubah. Itulah kenangan tentang orang tua saya – sumber cinta yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh waktu dan jarak.



Sumber: https://giadinhonline.vn/noi-nho-khong-cua-rieng-ai-d204339.html

Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Persiapan untuk musim tanam baru

Persiapan untuk musim tanam baru

Daun

Daun

Stasiun kereta api masa damai

Stasiun kereta api masa damai