
Atletik adalah salah satu olahraga yang menunjukkan kesulitan yang dihadapi oleh perempuan - Foto: DANG KHOA
Penderitaan perempuan, laki-laki tidak dapat memahaminya.
Isu pertama adalah kesehatan fisiologis. Tidak seperti pria, wanita dalam olahraga profesional harus berlatih dan berkompetisi sementara tubuh mereka dipengaruhi oleh siklus menstruasi, perubahan hormonal, dan risiko kesehatan yang berkaitan dengan endokrin.
Penelitian oleh Dr. Jane Thornton (Western University, Kanada), seorang ahli kedokteran olahraga, menunjukkan bahwa fluktuasi siklik pada kadar estrogen dan progesteron dapat memengaruhi kekuatan otot, fleksibilitas ligamen, kemampuan pemulihan, dan risiko cedera.
Sebuah survei oleh National Collegiate Athletic Association (NCAA) menunjukkan bahwa lebih dari 40% atlet wanita harus memodifikasi rencana latihan mereka karena pengaruh menstruasi.
Selain itu, amenore hipotalamik fungsional (FHA) cukup umum terjadi pada olahraga yang mengharuskan wanita untuk berlatih intensif dan menjaga kontrol berat badan yang ketat.
Menurut Jurnal Klinis Kedokteran Olahraga , prevalensi FHA pada wanita di olahraga profesional dapat berkisar antara 5% hingga 25%, dan bahkan hingga 69% di beberapa cabang olahraga seperti lari jarak jauh atau seni bela diri.
Kondisi ini tidak hanya mengganggu persaingan tetapi juga meningkatkan risiko osteoporosis, cedera, dan masalah kesehatan jangka panjang.
Selalu menghadapi risiko depresi.
Isu kedua, yang sama mengkhawatirkannya, adalah kesehatan mental. Statistik internasional menunjukkan bahwa perempuan dalam olahraga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, dan gangguan makan dibandingkan laki-laki.
Sebuah meta-analisis yang diterbitkan di Frontiers in Sports and Active Living pada tahun 2025 menemukan bahwa atlet wanita melaporkan gejala kecemasan dan depresi yang jauh lebih banyak, terutama dalam lingkungan kompetitif yang penuh tekanan.
Sebuah survei tahun 2018 oleh Asosiasi Psikologi Olahraga Internasional menemukan bahwa 26% atlet wanita elit mengalami gejala depresi, dibandingkan dengan 10% pria.

Para penggemar biasanya hanya mengetahui citra ceria para atlet wanita - Foto: TVA
Alasan-alasan tersebut tidak hanya berasal dari tekanan untuk mencapai hasil, tetapi juga dari prasangka masyarakat tentang citra tubuh, peran gender, tanggung jawab keluarga, dan masa depan setelah pensiun.
Psikolog olahraga Carla Edwards (Kanada) berkomentar: "Banyak atlet wanita harus menyeimbangkan jadwal latihan yang menuntut, studi atau pekerjaan, sambil juga menghadapi tekanan pernikahan dan memiliki anak, sesuatu yang jarang dipikirkan oleh atlet pria di puncak karier mereka."
Kekhawatiran tentang citra tubuh juga merupakan faktor utama, karena banyak cabang olahraga sangat menekankan estetika, memaksa wanita untuk mempertahankan persentase lemak tubuh yang sangat rendah, yang menyebabkan gangguan makan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam olahraga yang memprioritaskan kebugaran fisik, tingkat gangguan makan di kalangan atlet wanita dapat mencapai hingga 70%.
Risiko cedera bahkan lebih tinggi.
Terakhir, ada masalah cedera. Studi kedokteran olahraga menunjukkan bahwa atlet wanita memiliki risiko lebih tinggi mengalami jenis cedera tertentu dibandingkan pria, terutama cedera ligamen anterior cruciate (ACL).
Sebuah laporan dalam British Journal of Sports Medicine menunjukkan bahwa wanita memiliki risiko robekan ACL 2-4 kali lebih tinggi daripada pria, sebagian karena struktur panggul mereka yang lebih lebar, sudut sendi lutut yang berbeda, dan pengaruh estrogen terhadap kekuatan ligamen.

Tingkat cedera umumnya lebih tinggi di kalangan wanita dibandingkan pria - Foto: BAO NGOC
Selain itu, bola voli, bola basket, dan sepak bola wanita mencatat tingkat cedera pergelangan kaki, tendinitis patella, dan cedera bahu yang tinggi, karena sifat gerakan yang melibatkan lompatan, pantulan, dan putaran terus menerus.
Dr. Grethe Myklebust (Norwegia), yang telah melakukan penelitian ekstensif tentang cedera olahraga pada wanita, menekankan: "Pencegahan cedera pada wanita membutuhkan program pelatihan kekuatan dan keseimbangan khusus, karena risiko cedera mereka berbeda dari pria."
Ketika cedera terjadi, dampak psikologisnya juga lebih parah. Sebuah studi tahun 2022 di British Journal of Sports Medicine menemukan bahwa hampir 50% atlet wanita yang harus mengambil istirahat panjang dari kompetisi karena cedera mengalami depresi dalam berbagai tingkat.
Angka, bukti, dan kisah dari ilmu olahraga menunjukkan bahwa perempuan menanggung tekanan yang jauh lebih berlapis—baik fisik maupun mental—daripada yang biasanya dibayangkan oleh para penggemar.
Memahami perbedaan biologis dan psikologis ini, serta risiko cedera, tidak hanya menumbuhkan empati dalam komunitas tetapi juga memungkinkan administrator olahraga, pelatih, dan staf medis untuk memberikan dukungan tepat waktu.
Itulah mengapa di banyak cabang olahraga, akademi pelatihan dan pusat pelatihan remaja selalu membutuhkan pelatih wanita, karena hanya wanita yang dapat memahami, mendukung, dan membantu gadis-gadis muda mengatasi kesulitan.
Sumber: https://tuoitre.vn/phu-nu-choi-the-thao-phai-doi-mat-dieu-gi-20250814220214994.htm






Komentar (0)