Wanita Nung U kerap mengenakan kostum khas berwarna hitam yang dipadukan dengan perhiasan perak saat Tet dan berbagai festival lainnya. |
Suku Nung U memiliki sejarah panjang dengan beragam adat dan praktik unik, tetapi yang paling menonjol adalah pakaian wanitanya. Pakaian wanita Nung U tidak seberwarna beberapa kelompok etnis lain, tetapi sederhana dan elegan dengan warna nila yang kalem.
Blus ini longgar, tepat di bawah pinggang, dengan kancing perak di tengah dada. Leher, lengan, dan ujung bawah dihiasi potongan-potongan kain biru dan putih, terkadang dengan benang berwarna kontras, halus namun mencolok. Rok wanita Nung U panjangnya sampai mata kaki, berlipit rapi, dan saat dikenakan, dililitkan di punggung dan diikat erat di pinggang. Saat bekerja di ladang, ujung rok diikatkan ke belakang, menciptakan tampilan yang anggun sekaligus bijaksana.
Rok ini dilengkapi dengan kemeja lima panel berwarna nila, cukup pendek untuk menutupi pinggul, dan cukup longgar sehingga nyaman dikenakan saat pergi ke ladang atau bekerja di ladang. Lengan dan dada seringkali dilapisi kain hitam, menciptakan sentuhan halus. Pada perayaan dan pernikahan, perempuan Nung U mengenakan selendang dan perhiasan perak seperti kalung, gelang, dan tusuk rambut, baik untuk mempercantik diri maupun sebagai tanda kepercayaan kepada dewa-dewa pelindung.
Ibu Vang Thi Phuong, Desa Thong Nhat, Kecamatan Nam Dan, mengatakan: “Untuk membuat kain nila yang tahan lama ini, tanaman nila memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Nung U. Gadis-gadis muda tumbuh besar di ladang nila, belajar cara menanam, memanen, dan memfermentasi daun nila, mengaduk air nila dengan jeruk nipis, dan menyaring saripati hijau gioknya. Dari kendi air nila, melalui tangan para perempuan, kain katun putih bersih secara bertahap menyerap warna biru-hitam, kemudian dijemur, dipoles dengan kerikil halus atau kayu halus, sehingga serat kain menjadi berkilau, halus, kuat, dan memiliki warna hitam yang khas.”
Saat ini, Nam Dan masih mempertahankan atap genteng rumah panggung, yang terletak di samping aliran sungai yang sejuk. Menjelang sore, saat matahari terbenam, para perempuan membawa keranjang berisi umbi cokelat dari hutan, mempersiapkan panen nila baru. Umbi cokelat berfungsi sebagai aditif agar nila lebih melekat dan warna kain lebih merata. Saat ini, masyarakat Nam Dan masih menekuni profesi pencelupan nila, menjahit pakaian, dan membuat kerajinan tangan untuk melayani wisatawan. Profesi lama ini masih diwariskan kepada keturunan mereka, setiap jarum dan benang seakan merangkum banyak kisah desa.
Tak hanya melestarikan dan menjaga kerajinan tradisional, masyarakat Nung U di Nam Dan kini menganggap pakaian nila sebagai penghubung bagi pariwisata komunitas. Wisatawan datang ke Nam Dan tak hanya untuk mengagumi lempengan batu kuno berukir misterius atau menikmati pemandangan pegunungan yang masih asli, tetapi juga untuk merasakan pengalaman memetik daun nila, menetaskan nila, mewarnai kain, menjahit kemeja, dan menyulam syal. Setiap kain nila yang dibawa pulang merupakan bagian dari kenangan, secuil budaya etnis Nung U di Nam Dan.
Di tengah pusaran integrasi, ketika banyak desa pegunungan kehilangan kerajinan tradisionalnya, masyarakat Nung U di komune Nam Dan tetap melestarikan warna nila seolah melestarikan akar mereka. Setiap lipatan rok, kemeja, dan jilbab masih menyimpan aroma pegunungan dan hutan. Itulah jiwa tanah air, identitas yang harus diwariskan dari generasi ke generasi suku Nung U.
Artikel dan foto: Van Long
Sumber: https://baotuyenquang.com.vn/van-hoa/202507/sac-cham-tren-vay-ao-phu-nu-nung-u-nam-dan-fc659e8/
Komentar (0)