Antartika Dengan menggunakan data satelit, para ahli telah menemukan retakan yang meluas paling cepat dalam sejarah pada lapisan es Gletser Pulau Pine.
Citra satelit dari 8 Mei (kiri) dan 11 Mei (kanan) tahun 2012 menunjukkan patahan baru tersebut membentuk cabang berbentuk Y di sebelah kiri patahan lama. Foto: Olinger/AGU Advances
Para ilmuwan di Universitas Washington telah menemukan bukti retakan gletser tercepat yang pernah tercatat, IFL Science melaporkan pada 1 Maret. Retakan sepanjang 10,5 kilometer ini menembus lapisan es di Antartika dengan kecepatan hingga 35 meter per detik, atau sekitar 128,7 kilometer per jam. Studi baru ini dipublikasikan di jurnal AGU Advances.
Tim mengamati retakan yang memecahkan rekor pada tahun 2012 di lapisan es Gletser Pulau Pinus, gletser yang mencair paling cepat di Antartika, yang menyumbang sekitar 25 persen dari hilangnya es di benua tersebut. Mereka menemukan hal ini menggunakan data dari instrumen di lapisan es dan pengamatan radar dari satelit.
"Sejauh pengetahuan kami, ini adalah peristiwa pembukaan retakan tercepat yang pernah diamati," kata Stephanie Olinger, penulis utama studi tersebut.
Retakan adalah retakan yang menembus lapisan es. Retakan ini sering kali merupakan pertanda awal dari pecahnya lapisan es, ketika bongkahan es besar terlepas dari gletser dan hanyut ke laut. Retakan lain di Antartika dapat terbentuk dalam hitungan bulan atau tahun. Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa proses ini juga dapat terjadi dalam hitungan detik, terutama di wilayah-wilayah yang rentan di benua tersebut.
"Peristiwa ini menunjukkan bahwa, dalam kondisi tertentu, lapisan es dapat pecah dengan cepat. Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa kita perlu memperhatikan jenis aktivitas ini di masa mendatang, dan memberi tahu kita cara merepresentasikan retakan semacam itu dalam model lapisan es skala besar," jelas Olinger.
Memahami bagaimana gletser terpecah dapat membantu para ilmuwan lebih memahami bagaimana perubahan iklim memengaruhi lapisan es. Es gletser mungkin tampak padat dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang ia berperilaku seperti cairan yang mengalir.
“Sebelum kita dapat meningkatkan kinerja model lapisan es skala besar dan meningkatkan prediksi kenaikan muka air laut di masa mendatang, kita harus memiliki pemahaman yang baik dan berbasis fisika tentang proses-proses yang memengaruhi stabilitas lapisan es,” ujar Olinger.
Thu Thao (Menurut Ilmu Pengetahuan IFL )
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)