Truong Thien Nhat (1990) lahir dari keluarga intelektual di Thuong Duc (Hunan, Tiongkok). Ayahnya seorang dokter, ibunya seorang pengacara, dan pendidikan terbuka keluarganya membuat masa kecilnya penuh warna.
Pada tahun 2008, ia mengikuti ujian masuk universitas dan lulus dari fakultas hukum Universitas Studi Luar Negeri Beijing. Sejak tahun pertama kuliah, ia telah bekerja paruh waktu, mulai dari asisten, sekretaris, hingga pekerja konstruksi dan resepsionis. Di akhir pekan, ia pergi ke pasar grosir untuk membeli headphone seharga 5 yuan (17.000 VND), lalu menjualnya dengan harga lebih tinggi.
Pada tahun kedua kuliahnya, Thien Nhat menggunakan tabungan sebesar 30.000 yuan (102 juta VND) untuk membuka toko pangsit. Bisnisnya berjalan lancar, sehingga ia melanjutkan membuka toko kedua. Meskipun fokusnya pada bisnis, prestasi akademiknya tetap cemerlang. Nilai kelulusan universitasnya berada di peringkat ke-3 di seluruh kelas, sehingga Thien Nhat dengan mudah lulus ujian masuk ke Jurusan Hukum Universitas Peking untuk meraih gelar magister.
Selama kuliah, nilai-nilai Thien Nhat selalu tinggi. Selain belajar dengan giat, ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Thien Nhat memenangkan juara pertama dalam Lomba Pidato Universitas Beijing.
Pada tahun 2014, setelah lulus dengan gelar magister, ia bergabung dengan sebuah firma hukum ternama dengan gaji yang relatif tinggi. Namun, setelah beberapa waktu, Thien Nhat menyadari bahwa profesi hukum perlahan-lahan mulai jenuh. Alih-alih bekerja di kantor yang stabil, ia memutuskan untuk memulai bisnis di awal usia 20-an.
Pada Mei 2014, Thien Nhat dan tiga temannya bergabung untuk membuka restoran Phuc Nguu yang khusus menyajikan mi sapi. Untuk membuka kedai mi sapi pertama ini, Thien Nhat menyumbang 70.000 NDT (lebih dari 240 juta VND), sementara tiga temannya menyumbang 35.000 NDT (lebih dari 120 juta VND).
Namun, jumlah tersebut masih belum cukup untuk membuka toko di Beijing. Ketika ia putus asa dan ingin menyerah, keberuntungan datang. Sebuah toko di pusat jajanan di ruang bawah tanah pusat perbelanjaan mengembalikan tempat tersebut, dan ia segera menyewakannya kembali.
Awalnya, toko ini hanya memiliki tiga karyawan, yaitu koki, pelayan, dan kasir. Mengenang masa-masa awal berdirinya, karena kekurangan staf, ia bangun pagi-pagi sekali untuk membeli bahan-bahan, lalu sibuk hingga malam. Hanya dalam waktu satu minggu, omzetnya mencapai 20.000 NDT (lebih dari 68 juta VND).
Karena kecintaannya pada sastra dan menulis, ia sering menulis artikel di majalah dan surat kabar di waktu luangnya. Secara kebetulan, Thien Nhat menulis sebuah artikel: "Mengapa saya berjualan mi setelah lulus dengan gelar master?". Artikel tersebut langsung menarik perhatian, sehingga banyak pelanggan dan wartawan datang untuk mencari tahu.
Pendapatan restoran tersebut anjlok hingga nol sejak wabah Covid-19. Saat itu, Thien Nhat sangat khawatir. Setelah tenang, ia berpikir untuk berjualan daring. Begitu ide bisnis daring muncul, ia langsung memulai siaran langsung selama 16 jam sehari. Pada hari yang memecahkan rekor itu, ia berhasil menjual lebih dari 100.000 porsi mi sapi.
Setelah 10 tahun, restoran mi daging sapi milik Thien Nhat, Phuc Nguu, kini memiliki lebih dari 15 gerai di Beijing. Nilai pasar jaringan restoran mi daging sapinya diperkirakan sekitar 1,5 miliar yuan.
Keputusan Thien Nhat untuk meninggalkan pekerjaan tetapnya demi memulai bisnis telah menimbulkan banyak kontroversi. Pada tahun 2014, dalam program Chinese Youth Speaks , kisah penjualan mi oleh magister hukum di Universitas Peking menjadi topik hangat.
Saat itu, ratu peralatan rumah tangga, Dong Minh Chau, menganggap Thien Nhat menyia-nyiakan sumber daya pendidikan negara: "Anda harus menutup toko itu. Saya tidak mengerti apa yang terjadi?". Menanggapi reaksi keras Chau, Thien Nhat hanya menjawab: "Beijing tidak kekurangan pengacara yang baik, tetapi kekurangan semangkuk mi yang lezat."
Kini, 10 tahun kemudian, kesuksesan Thien Nhat adalah jawaban atas pilihan yang tepat ini. Definisi kesuksesan setiap orang memang berbeda, namun, generasi muda masa kini membutuhkan lebih banyak pilihan. Berdasarkan pengalamannya sendiri, Thien Nhat percaya bahwa kaum muda seharusnya didorong untuk mengikuti kata hati mereka, alih-alih membabi buta mengikuti jalan tradisional menuju kesuksesan.
Pengalaman Thien Nhat menunjukkan bahwa meskipun pilihannya dulu dianggap tidak lazim, setelah 10 tahun, kesuksesannya merupakan jawaban atas kegigihan dan keberaniannya. Pilihannya untuk memulai bisnis mi sapi bukan hanya peluang bisnis, tetapi juga cara untuk melestarikan budaya kuliner kampung halamannya. Ia tidak terikat oleh faktor-faktor tradisional, dan berani mengikuti jalan yang dipilihnya.
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)