KPI yang disarankan AI perlu ditinjau dan disesuaikan oleh manusia agar sesuai dengan tujuan kerja.
Di era digital, kecerdasan buatan (AI) secara bertahap menjadi alat yang sangat diperlukan di banyak bidang, dan industri konten tidak terkecuali.
Secara khusus, penggunaan AI oleh pekerja kantoran di sektor konten untuk menetapkan KPI (Indikator Kinerja Utama) kerja muncul sebagai tren yang menjanjikan, membantu mengoptimalkan kinerja tetapi di saat yang sama menimbulkan banyak pertanyaan tentang peran manusia.
Bagaimana AI membantu Anda menetapkan KPI?
Pertama, AI dapat memproses dan menganalisis data dalam jumlah besar dari platform media sosial, situs web, pemasaran email, dll. untuk mengidentifikasi tren, perilaku pengguna, dan efektivitas kampanye konten sebelumnya. Hal ini membantu menyediakan basis data yang solid bagi KPI, alih-alih hanya mengandalkan intuisi.
Berdasarkan algoritma pembelajaran mesin, AI dapat memprediksi jenis konten apa yang akan menarik interaksi paling banyak, kapan postingan paling efektif, atau bahkan kemungkinan tercapainya tujuan tertentu. Hal ini membantu pemasar konten menetapkan KPI yang lebih realistis dan dapat ditindaklanjuti.
Selain itu, AI juga dapat mengotomatiskan pengumpulan dan pelaporan data, sehingga kreator konten dapat lebih fokus pada kreativitas. Di saat yang sama, AI juga dapat menyarankan penyesuaian untuk mengoptimalkan kinerja, seperti menyarankan perubahan judul dan menyesuaikan frekuensi posting untuk mencapai KPI yang ditetapkan.
Saran KPI harus spesifik dan relevan
AI dapat menganalisis kinerja individu setiap anggota tim konten, berdasarkan proyek yang telah mereka kerjakan, keahlian, dan tujuan pengembangan mereka. Dari sana, AI merekomendasikan KPI yang sesuai dengan kemampuan dan orientasi setiap orang, sehingga menciptakan keadilan dan motivasi pribadi.
Saat pengguna memasukkan keseluruhan kampanye atau sasaran bisnis (misalnya meningkatkan kesadaran merek, meningkatkan lalu lintas, meningkatkan konversi), AI dapat menyarankan KPI yang sesuai dan cara mengukurnya.
AI dapat membantu menguji dan menyesuaikan KPI untuk memastikannya mematuhi prinsip SMART (Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, dan Terikat Waktu). Misalnya, AI dapat memperingatkan jika suatu KPI terlalu samar atau tidak memiliki cara yang jelas untuk mengukurnya.
Otomatisasi pelacakan dan pelaporan kinerja
Alih-alih harus mengakses setiap platform secara manual untuk mendapatkan data, AI dapat terintegrasi dengan perangkat analitik dan secara otomatis mengumpulkan data kinerja konten. AI kemudian dapat secara otomatis menggabungkan data tersebut menjadi laporan visual yang mudah dipahami, dilengkapi dengan bagan dan tabel, sehingga memudahkan manajer dan karyawan untuk melacak kemajuan menuju KPI.
Jika kinerja konten tidak mencapai KPI yang diharapkan, AI dapat secara otomatis mengirimkan peringatan dan bahkan menyarankan tindakan spesifik untuk ditingkatkan, seperti:
Ubah judul postingan Anda untuk meningkatkan rasio klik-tayang (RKT). Sesuaikan waktu postingan Anda untuk menjangkau audiens dengan lebih baik. Sarankan pengoptimalan kata kunci untuk SEO dan sarankan jenis konten lain yang lebih potensial.
Berdasarkan data historis dan faktor eksternal (tren pasar, musim, peristiwa), AI dapat memperkirakan kinerja konten di masa mendatang, memberikan tim konten pandangan yang lebih proaktif tentang kemampuan mereka untuk mencapai KPI.
AI dapat dengan cepat mendeteksi tanda-tanda yang tidak biasa dalam kinerja konten (misalnya, sebuah kiriman tiba-tiba memiliki rasio pentalan yang tinggi, penurunan tajam dalam keterlibatan) sehingga tim dapat segera menyelidiki penyebabnya dan menemukan solusi.
Bagaimana cara mengoptimalkan efisiensi kerja?
Untuk memaksimalkan kekuatan AI tanpa kehilangan "kualitas mereka sendiri" dalam industri konten, pekerja kantoran perlu mendekatinya secara cerdas dan seimbang.
Alih-alih membiarkan AI menentukan KPI Anda sepenuhnya, anggaplah AI sebagai alat yang menyediakan data dan saran untuk membantu Anda membuat keputusan akhir. KPI harus mencakup metrik kuantitatif (tampilan, interaksi, konversi) dan faktor kualitatif (kepuasan pelanggan, keterlibatan, nilai merek). AI unggul dalam kuantitatif, sementara manusia unggul dalam kualitatif.
Dengan AI yang menangani pengumpulan dan analisis data, pembuat konten dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk berpikir strategis, mengembangkan ide-ide baru, dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang audiens target mereka.
Sumber: https://tuoitre.vn/thiet-lap-kpi-bang-ai-dan-van-phong-can-biet-dieu-gi-20250616170257484.htm
Komentar (0)