Anak-anak perlu dibekali fondasi yang kuat untuk menghadapi perubahan iklim. (Ilustrasi: Internet) |
Pada perayaan Hari Anak Sedunia di Vietnam pada tanggal 20 November 2024, Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) dan mitra pelaksananya mengeluarkan seruan untuk bertindak agar setiap anak dapat tumbuh sehat dan aman dari ancaman iklim dan lingkungan.
Ibu Silvia Danailov, Perwakilan UNICEF di Vietnam, menekankan: "Topan Yagi telah menunjukkan kebenaran bahwa perubahan iklim telah menghancurkan masyarakat. Ini bukan masalah generasi mendatang, melainkan masalah kita semua. Kita harus melakukan segala yang kita bisa untuk melindungi anak-anak dan keluarga dari dampak dan kehancuran perubahan iklim. Setiap anak berhak atas masa depan yang aman dan cerah."
Di dunia yang semakin menghadapi tantangan berat akibat perubahan iklim, mulai dari banjir dan kekeringan hingga gempa bumi dan panas ekstrem, penting untuk membekali anak-anak dengan fondasi yang kokoh untuk menghadapi dunia yang bergejolak ini. Perubahan iklim bukan lagi cerita yang jauh, tetapi hadir dalam setiap banjir yang menutup sekolah, dalam cuaca yang semakin parah, dalam setiap badai yang melanda pedesaan, yang membuat banyak keluarga kehilangan tempat tinggal.
Bencana alam memang tak diinginkan siapa pun, tetapi juga menjadi ujian bagi kita untuk menunjukkan ketangguhan dan welas asih kita. Dengan membekali anak-anak dengan keterampilan hidup, stabilitas psikologis, dan solidaritas, kita tak hanya melindungi mereka dari perubahan alam, tetapi juga menanamkan benih bagi generasi baru yang tangguh, welas asih, dan berani. |
Vietnam adalah salah satu dari 10 negara di dunia yang paling terdampak bencana alam dan cuaca ekstrem. Anak-anak adalah yang paling rentan. Dampak ini tidak hanya terbatas pada masalah keselamatan tetapi juga terkait dengan kesempatan tumbuh kembang anak.
Bencana dapat mengganggu pendidikan anak-anak, menghilangkan kesempatan mereka untuk belajar dan berkembang, serta berdampak serius pada keuangan keluarga. Anak-anak lebih mungkin menderita penyakit, cedera, dan masalah gizi setelah bencana. Pengalaman negatif selama bencana dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Meskipun kita tidak dapat mencegah bencana alam, kita tetap dapat membekali anak-anak kita dengan "perisai" yang tak terlihat namun kuat untuk menghadapinya. Ini bukan hanya tentang ketahanan fisik, tetapi juga stabilitas mental. Pertama-tama, ini adalah keterampilan bertahan hidup dasar. Penting untuk mengajari anak-anak berenang, memberikan pertolongan pertama, mencari tempat berlindung yang aman, menyiapkan perlengkapan darurat, dan tidak panik saat terjadi kecelakaan.
Tanggung jawab melindungi anak bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga seluruh masyarakat. Dan perlindungan bukan hanya tentang memberi perlindungan dalam situasi darurat, tetapi juga tentang mempersiapkan anak-anak dengan keberanian untuk berdiri teguh dalam menghadapi kesulitan.
Terkadang kita berpikir bahwa kita harus mulai mendidik anak-anak sejak mereka agak besar. Namun, kenyataannya, membekali anak-anak dengan pengetahuan dan mentalitas yang kuat harus dimulai sejak usia dini. Usia prasekolah adalah tahap emas untuk mengajarkan anak-anak keterampilan dasar bertahan hidup. Ajari mereka untuk mencari bantuan dari orang dewasa ketika dalam bahaya, dan cara mengenali potensi ancaman dengan cara yang sederhana.
Seiring bertambahnya usia anak, mereka perlu diajari kebiasaan baik. Contoh sederhananya adalah mengajari anak-anak memeriksa prakiraan cuaca untuk memilih pakaian yang tepat untuk hari berikutnya. Tindakan kecil ini tidak hanya membantu mereka menjadi mandiri tetapi juga membentuk kebiasaan memantau cuaca dan mewaspadai perubahan iklim.
"Pelajaran bertahan hidup tidak hanya menyelamatkan nyawa anak-anak di saat bahaya, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi warga negara yang bertanggung jawab, mencintai lingkungan, dan menghargai kehidupan." |
Anak-anak perlu diajari keterampilan bertahan hidup dasar seperti cara menemukan tempat aman saat badai dan banjir, cara memberikan pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan, dan cara mengenali tanda-tanda peringatan bencana alam. Namun, seiring dengan keterampilan bertahan hidup, dibutuhkan pula stabilitas psikologis, faktor yang seringkali terabaikan. Tanpa persiapan mental, anak-anak lebih rentan panik, takut, dan bahkan mengalami trauma psikologis setelah mengalami bencana alam.
Melindungi anak-anak dari perubahan iklim bukan hanya tanggung jawab setiap keluarga, melainkan tanggung jawab sekolah dan seluruh masyarakat. (Foto: Nguyen Trang) |
Selama proses tersebut, anak-anak harus diajarkan tidak hanya keterampilan beradaptasi dan menyelamatkan diri, tetapi juga keterampilan untuk mengetahui cara menyelamatkan orang lain jika memungkinkan. Keterampilan ini bukan hanya alat untuk melindungi diri dalam situasi berbahaya, tetapi juga fondasi untuk membangun kepercayaan diri dan keberanian. Anak yang bisa berenang tidak akan panik saat air naik. Anak yang tahu pertolongan pertama akan mampu menolong diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Pelajaran yang tampaknya sederhana ini akan menjadi aset berharga, membantu mereka mengatasi bahaya.
Dapat dikatakan bahwa dampak bencana alam bukan hanya rumah yang hancur, tetapi juga obsesi, ketakutan, dan rasa kehilangan. Oleh karena itu, membekali anak-anak dengan stabilitas psikologis sangatlah penting.
Untuk melakukannya, orang tua perlu menjadi pendukung spiritual yang kuat, berbicara terbuka dengan anak-anak mereka, menjelaskan tentang perubahan iklim dan bencana alam dengan bahasa yang mudah dipahami dan sesuai usia. Ajari anak-anak tentang kemampuan beradaptasi, optimisme, terutama tentang kasih sayang dan berbagi dengan masyarakat. Ketika anak kuat secara mental, ia akan percaya diri dalam mengatasi kesulitannya sendiri.
Melindungi anak-anak dari perubahan iklim bukanlah tanggung jawab setiap keluarga saja, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat. Sekolah perlu memasukkan pelajaran tentang pencegahan bencana alam ke dalam kurikulum, menyelenggarakan latihan rutin untuk membiasakan anak-anak dengan prosedur tanggap darurat. Pihak berwenang perlu melakukan kampanye komunikasi yang efektif, memberikan informasi dan peringatan dini secara tepat waktu.
Bencana alam memang tak diinginkan siapa pun, tetapi bencana juga menjadi ujian bagi kita untuk menunjukkan ketangguhan dan welas asih. Dengan membekali anak-anak dengan keterampilan hidup, stabilitas psikologis, dan solidaritas, kita tak hanya melindungi mereka dari perubahan alam, tetapi juga menanamkan benih ketahanan, welas asih, dan keberanian bagi generasi baru.
Pendidikan dan ketahanan perubahan iklim harus menjadi bagian dari kurikulum formal, alih-alih menjadi kegiatan ekstrakurikuler tersendiri. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus menciptakan "jaring pengaman" bagi anak-anak yang tidak hanya melindungi mereka secara fisik tetapi juga memupuk kekuatan batin mereka.
Pelajaran bertahan hidup tidak hanya menyelamatkan nyawa anak-anak di masa bahaya, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi warga negara yang bertanggung jawab, mencintai lingkungan, dan menghargai kehidupan. Melindungi anak-anak dari perubahan iklim adalah tindakan yang sangat manusiawi dan merupakan tolok ukur pembangunan berkelanjutan suatu masyarakat.
Sumber: https://baoquocte.vn/trang-bi-ky-nang-sinh-ton-va-tam-ly-vung-vang-cho-tre-truoc-bien-doi-khi-hau-323490.html
Komentar (0)