(CLO) Kecerdasan buatan (AI) mengubah jurnalisme secara global, tetapi sebagian besar diskusi tentang dampaknya berfokus pada perspektif dari Global Utara.
Sebuah laporan baru dari Thomson Reuters Foundation (TRF) mensurvei lebih dari 200 jurnalis dari lebih dari 70 negara di Global Selatan dan negara-negara ekonomi berkembang untuk menyoroti bagaimana AI digunakan di wilayah tersebut, hambatan apa saja yang ada, dan apa implikasinya bagi masa depan jurnalisme.
Ilustrasi: AI
1. Adopsi AI sudah meluas namun belum merata
AI telah menjadi bagian penting dari alur kerja banyak jurnalis, dengan 81,7% dari mereka yang disurvei menggunakan AI, hampir setengahnya menggunakannya setiap hari.
Alat-alat populer seperti ChatGPT, Grammarly, Otter, dan Canva digunakan untuk menulis, mengedit, memeriksa fakta, mentranskripsi, dan meneliti. Seorang jurnalis dari Ghana mengatakan AI membantu mereka menganalisis data dengan cepat, terutama di bidang-bidang seperti penelitian HIV dan pelaporan lingkungan.
Namun, adopsi teknologi ini tidak merata. Beberapa ruang redaksi menggunakan AI untuk meningkatkan kinerja, sementara yang lain masih belum memiliki akses penuh. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang disparitas adopsi teknologi di berbagai wilayah dan organisasi berita.
2. Hambatan terhadap akses, pelatihan dan kebijakan
Meskipun AI memiliki banyak manfaat, hanya 13% jurnalis yang disurvei yang menyatakan bahwa ruang redaksi mereka memiliki kebijakan AI formal. Kurangnya panduan ini menyebabkan inkonsistensi dalam penerapan AI dan menimbulkan kekhawatiran etika.
Selain itu, banyak jurnalis kesulitan mengakses perangkat AI karena tingginya biaya, keterbatasan teknologi, dan kurangnya pelatihan. Tercatat, 58% jurnalis yang menggunakan AI sepenuhnya mengandalkan pembelajaran mandiri, yang menyoroti kebutuhan mendesak akan program pelatihan formal.
Seorang manajer ruang redaksi di UEA menekankan perlunya kerangka kerja etis untuk memastikan transparansi dan kepercayaan pembaca saat menggunakan AI.
3. Risiko: Misinformasi, Bias, dan Keamanan Kerja
Selain manfaatnya, AI juga menimbulkan kekhawatiran. Hampir 49% jurnalis khawatir AI dapat meningkatkan misinformasi dan bias, karena sebagian besar data pelatihannya berpusat pada Barat. Beberapa khawatir AI dapat mengikis keterampilan jurnalistik tradisional seperti berpikir kritis dan investigasi independen.
Selain itu, AI yang mengotomatiskan tugas-tugas seperti menulis ringkasan berita dapat menyebabkan hilangnya pekerjaan, terutama di tingkat bawah. Seorang jurnalis dari Kenya menyatakan kekhawatiran bahwa AI akan membuat banyak jurnalis kehilangan pekerjaan, sementara seorang editor dari Arab Saudi memperingatkan bahwa AI dapat mengikis keunikan dan orisinalitas jurnalisme.
4. Jalan ke Depan: Etika, Regulasi, dan Pelatihan
Lebih dari 57% jurnalis yang disurvei mengidentifikasi isu-isu etika sebagai tantangan paling mendesak saat menggunakan AI. Banyak yang menyerukan transparansi dalam penerapan AI dan agar ruang redaksi mengungkapkan kapan teknologi tersebut digunakan dalam proses produksi berita.
Selain itu, para jurnalis menyarankan perlunya regulasi untuk mengendalikan misinformasi, melindungi privasi data, dan memastikan bahwa AI tidak hanya melayani kepentingan negara-negara besar atau organisasi berita. Seorang jurnalis Rusia menyatakan kekhawatiran bahwa beberapa ruang redaksi lebih mengutamakan kepentingan komersial daripada standar jurnalistik saat menggunakan AI.
5. Solusi: Pelatihan, kebijakan dan kerjasama
Laporan ini mengusulkan lima solusi utama bagi AI untuk benar-benar memberi manfaat bagi jurnalisme di negara-negara berkembang:
Pelatihan dan peningkatan keterampilan : Berikan pelatihan AI kepada jurnalis untuk memastikan mereka menggunakan teknologi secara etis dan efektif.
Bangun kerangka etika : Tetapkan standar yang jelas untuk transparansi dan akuntabilitas saat menggunakan AI dalam jurnalisme.
Kolaborasi Industri : Dorong kemitraan antara ruang redaksi, pengembang AI, dan organisasi pendanaan untuk mengembangkan alat AI yang sesuai dengan beragam kebutuhan jurnalisme.
Regulasi dan kebijakan : Tetapkan perlindungan hukum untuk memastikan AI tidak merusak peran jurnalisme dan mengatasi masalah bias data.
Memastikan akses yang adil : Memungkinkan ruang redaksi yang kecil dan kekurangan sumber daya untuk mengakses dan memanfaatkan AI.
Meskipun AI telah memberikan dampak yang sangat besar, hanya 42% jurnalis yang optimis terhadap masa depan teknologi ini dalam jurnalisme. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak perdebatan mengenai dampak jangka panjang AI. Akankah AI menjadi alat yang membantu atau justru menjadi ancaman bagi jurnalisme di negara-negara berkembang? Jawabannya bergantung pada bagaimana industri jurnalisme mengelola dan mengarahkan teknologi ini di tahun-tahun mendatang.
Hoai Phuong (menurut IJnet, Medium)
[iklan_2]
Sumber: https://www.congluan.vn/intelligence-human-power-is-changing-newspaper-in-nam-ban-cau-nhu-the-nao-post337503.html
Komentar (0)