Manipulasi lelang tanah baru-baru ini di distrik Soc Son ( Hanoi ) jika tidak dikendalikan, akan menjadi hambatan besar bagi pasar real estat.
Dalam beberapa hari terakhir, kasus manipulasi lelang tanah di Distrik Soc Son (Hanoi) telah menggemparkan publik. Kelompok yang terlibat menciptakan sistem manipulasi dengan tujuan mendongkrak harga tanah secara tidak wajar, kemudian mengatur untuk mendapatkan keuntungan dalam lelang-lelang berikutnya.
Berdasarkan investigasi awal, setelah mengetahui waktu lelang, kelompok ini menetapkan harga acuan untuk setiap bidang tanah, berkisar antara 20-32 juta VND/m2, setara dengan 1,7-3,9 miliar VND per bidang tanah. Selama lelang, jika harga melebihi estimasi, kelompok ini akan sengaja berkolusi untuk menaikkan harga di putaran ke-5 dan kemudian membatalkan lelang di putaran terakhir, sehingga lelang dibatalkan. Akibatnya, lelang harus direorganisasi, menciptakan peluang bagi kelompok ini untuk secara bertahap menyingkirkan penawar lain dan mengambil alih tanah dengan harga yang telah ditentukan.
5 orang dalam lelang tanah senilai 30 miliar VND/m2 di Soc Son, Hanoi, di kantor polisi. Foto: CACC |
Segera setelah kasus ini terungkap, pihak berwenang segera turun tangan dan mengungkap para penipu demi menjaga transparansi pasar properti. Dapat dilihat bahwa jika kasus ini tidak segera ditangani, konsekuensinya akan sangat serius, tidak hanya merugikan anggaran negara tetapi juga mengikis kepercayaan investor dan menyebabkan kekacauan pasar.
Sebenarnya, fenomena di atas bukanlah hal baru di Vietnam. Trik "manipulasi" serupa juga tercatat di Distrik Thanh Oai (Hanoi) Agustus lalu, ketika 68 bidang tanah di Desa Thanh Than, Kecamatan Thanh Cao, dilelang. Acara ini menarik 1.500 peserta dengan 4.200 aplikasi, sehingga harga tertinggi yang dimenangkan mencapai 103,3 juta VND/m². Namun, setelah lelang, 55 pemenang lelang (yang mencakup 80% dari total pemenang lelang) menarik uang jaminan mereka, yang mengakibatkan pasar terdistorsi dan terus merusak kepercayaan masyarakat.
Demam tanah semacam ini tidak hanya menciptakan "gelembung properti" tetapi juga berdampak serius pada pembangunan sosial -ekonomi. Kenaikan harga tanah yang "virtual" menyebabkan proyek pembangunan infrastruktur menghadapi biaya kompensasi yang mahal, yang mengakibatkan keterlambatan atau peningkatan beban anggaran. Pada saat yang sama, properti menjadi saluran investasi yang sangat spekulatif, menghilangkan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk sektor produksi lain, sehingga mengurangi daya saing perekonomian.
Dari perspektif sosial, eskalasi harga properti yang tak terkendali juga menimbulkan risiko bahwa sebagian besar penduduk, terutama kaum muda, tidak akan mampu membeli atau menyewa rumah. Hal ini menciptakan ketidakamanan sosial dan memperlebar kesenjangan antara si kaya dan si miskin dalam masyarakat.
Untuk memperbaiki situasi manipulasi, para ahli berpendapat bahwa perlu diterapkan berbagai solusi yang sinkron, mulai dari penyempurnaan regulasi hingga penguatan pengawasan. Pertama-tama, ketentuan Undang-Undang Pertanahan 2024 perlu ditegakkan, dengan fokus pada peninjauan dan penyesuaian daftar harga tanah agar mendekati nilai sebenarnya. Hal ini tidak hanya membantu transparansi lelang tetapi juga meminimalkan kemungkinan manipulasi.
Selain itu, perlu meningkatkan jaminan dan mewajibkan peserta lelang untuk membuktikan asetnya melalui rekening koran atau dokumen terkait. Hal ini memastikan bahwa peserta lelang memiliki kapasitas keuangan yang memadai dan komitmen yang nyata. Dalam kasus pembatalan jaminan, tindakan tegas harus diterapkan, dengan mewajibkan kompensasi yang setara dengan nilai tanah untuk mencegah tindakan penipuan.
Faktor penting lainnya adalah memperkuat pengawasan dan menindak tegas perilaku manipulatif. Pihak berwenang perlu berkoordinasi secara erat untuk mendeteksi dan mencegah penyimpangan dini dalam lelang. Menyoroti beberapa kasus umum seperti yang baru-baru ini terjadi akan membantu menciptakan efek jera dan meningkatkan kesadaran akan kepatuhan hukum di kalangan pelaku pasar.
Manipulasi lelang tanah, jika tidak dikendalikan, tentu akan terus menjadi hambatan utama bagi perkembangan pasar properti dan perekonomian secara umum. Lebih dari sebelumnya, keterlibatan pemerintah yang tegas, transparansi dalam proses lelang, dan kepatuhan para pelaku pasar merupakan faktor kunci untuk memastikan lingkungan bisnis yang adil dan sehat.
Perjuangan melawan manipulasi pasar tanah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga membutuhkan konsensus masyarakat dan investor sejati. Hanya ketika pasar investasi kembali bersih, real estat dapat benar-benar menjadi saluran pembangunan berkelanjutan, yang berkontribusi dalam mendorong kesejahteraan bersama bagi seluruh masyarakat.
[iklan_2]
Sumber: https://congthuong.vn/vu-thao-tung-dau-gia-dat-o-soc-son-xu-ly-nghiem-minh-dua-niem-tin-tro-lai-362588.html
Komentar (0)