(CLO) Apakah munculnya influencer atau KOL di media sosial menandai berakhirnya jurnalisme tradisional atau justru menjadi peluang bagi jurnalisme untuk berinovasi?
Meskipun masa depan TikTok di Amerika Serikat terancam, meningkatnya ketergantungan pengguna pada platform media sosial untuk mendapatkan informasi berita telah menjadi tren yang jelas. Menurut studi Pew Research Center, satu dari lima orang Amerika secara teratur beralih ke influencer media sosial untuk mendapatkan berita.
Hal ini mencerminkan pergeseran signifikan dalam cara masyarakat mengakses informasi, dari membaca berita tradisional menjadi mengonsumsi konten video dan audio di platform media sosial. Namun, ini tidak berarti bahwa jurnalisme tradisional akan runtuh.
Jurnalis harus menggabungkan strategi sukses para influencer media sosial dengan keterampilan jurnalistik profesional untuk menarik audiens yang lebih luas. (Foto: ITN)
Justru sebaliknya. Hal ini menciptakan peluang bagi jurnalis dan organisasi media untuk beradaptasi dan berkembang di lingkungan media baru. Dengan kata lain, mereka dapat merebut kembali audiens atau setidaknya berbagi audiens tersebut.
Pew mendefinisikan influencer berita sebagai “individu yang secara teratur memposting tentang peristiwa terkini dan isu-isu sipil di media sosial. Influencer berita dapat berupa jurnalis atau mantan organisasi berita yang berafiliasi atau kreator konten independen, tetapi mereka haruslah orang, bukan organisasi.”
Sebuah studi Pew menunjukkan bahwa dua pertiga warga Amerika percaya bahwa para influencer telah membantu mereka lebih memahami isu-isu terkini. Para influencer ini berhasil terhubung dengan audiens mereka dengan berbagi informasi secara sederhana, mudah dipahami, dan dapat dipercaya. Hal ini telah membantu mereka menarik lebih banyak perhatian dan keterlibatan. Kemampuan untuk menciptakan koneksi dan berbagi informasi secara dekat dan autentik adalah sesuatu yang sedang dipelajari oleh media tradisional.
Influencer media sosial sering kali mengandalkan artikel dan riset dari jurnalis untuk membuat konten bagi audiens mereka. Dengan kata lain, mereka seperti pendongeng yang berlandaskan informasi yang telah diverifikasi oleh pers. Tanpa sumber dari jurnalis, influencer hanya akan memiliki sedikit hal untuk dibagikan. Hal ini menunjukkan bahwa peran jurnalisme tradisional tetap sangat penting dalam menyediakan informasi yang akurat dan dapat diandalkan.
Oleh karena itu, jurnalis tidak hanya berhenti pada menulis artikel untuk situs berita. Mereka dapat memanfaatkan berbagai platform untuk menyebarkan cerita mereka ke khalayak yang lebih luas. Misalnya, setelah sebuah artikel diterbitkan, jurnalis dapat berpartisipasi dalam podcast, menjawab pertanyaan di Reddit, atau bahkan membuat video pendek di TikTok. Hal ini membantu cerita tersebut menjangkau lebih banyak orang dan menghasilkan diskusi yang hidup.
Selain itu, ketika jurnalis berbagi lebih banyak detail tentang proses kerja mereka, seperti bagaimana mereka mengumpulkan informasi dan siapa yang mereka wawancarai, mereka membangun kepercayaan yang lebih besar dengan pembaca. Mengungkap informasi di balik layar tidak hanya membantu pembaca lebih memahami cerita, tetapi juga menunjukkan profesionalisme dan dedikasi jurnalis. Di era di mana berita palsu merajalela, transparansi ini sangat penting bagi jurnalis untuk mempertahankan kredibilitas mereka.
Munculnya para influencer di industri berita bukanlah alasan untuk takut terhadap jurnalisme, melainkan seruan untuk bertindak. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai inti dan terus berinovasi, jurnalisme dapat menunjukkan nilainya dan terus mempertahankan posisinya sebagai sumber informasi yang paling terpercaya.
Hoang Anh (menurut Pew, Poynter)
Sumber: https://www.congluan.vn/2-3-nguoi-my-tin-vao-nguoi-co-anh-huong-bao-chi-can-hoc-hoi-gi-post330061.html






Komentar (0)