Dalam artikel terbaru di Thai PBS World, pakar ASEAN senior Kavi Chongkittavorn mengenang cerita tentang Vu Khoan - seorang diplomat Vietnam berbakat dengan banyak kenangan terkait dengan ASEAN.
Artikel oleh pakar ASEAN Kavi Chongkittavorn tentang Bapak Vu Khoan di Thai PBS World. (Tangkapan layar) |
Pada akhir tahun 1994, Wakil Menteri Luar Negeri Vu Khoan memimpin delegasi ke Sekretariat ASEAN di Jakarta. Saat itu, Bapak Vu Khoan mengemban tugas penting, yaitu mempelajari ASEAN sebelum Vietnam membuat keputusan bersejarah untuk bergabung dan menjadi anggota ASEAN ke-7.
Pakar ASEAN Kavi Chongkittavorn, yang saat itu menjabat asisten khusus Sekretaris Jenderal ASEAN, mencatat pertanyaan dan pandangan Bapak Vu Khoan selama pertemuan selama 1,5 jam dengan pejabat senior Sekretariat.
Salah satu pertanyaan pertama yang diajukan oleh Bapak Vu Khoan adalah, “Apa manfaat menjadi anggota ASEAN?” atau “Berapa banyak perjanjian dan konvensi yang harus diikuti dan dipatuhi Vietnam jika ingin bergabung?”… Bapak Vu Khoan sangat penasaran dengan peraturan dan regulasi di ASEAN.
Pertanyaan Bapak Vu Khoan juga berfokus pada hubungan luar negeri blok tersebut, seiring Vietnam mempromosikan posisinya di kawasan dan dunia internasional. Menjelang akhir sesi, Bapak Vu Khoan juga mengirimkan serangkaian pertanyaan untuk dijawab oleh Sekretariat nanti.
Menurut pakar Kavi Chongkittavorn, di mata mereka yang bekerja di ASEAN, Bapak Vu Khoan dikenal sebagai negosiator yang santun namun berargumen kuat. Diplomat Vietnam ini fasih berbahasa Inggris, cerdas, dan memiliki respons yang fleksibel.
Bergabungnya Vietnam dengan ASEAN merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi ASEAN saat itu. Banyak orang masih ragu apakah Vietnam dapat berintegrasi ke dalam ASEAN atau tidak. Namun, yang jelas, Vietnam telah melakukannya dengan sangat baik. Setelah 28 tahun, Vietnam telah menjadi salah satu anggota terkemuka ASEAN.
Setelah Vietnam bergabung dengan ASEAN, Bapak Vu Khoan bergabung dengan para pejabat senior lainnya untuk membahas aspek-aspek kerja sama di ASEAN. Pada pertemuan para pejabat senior di Brunei Darussalam, yang kemudian menjadi Ketua ASEAN pada tahun 1995, Bapak Vu Khoan adalah orang yang membantu rekan-rekan ASEAN lainnya menyepakati singkatan Pertemuan Asia-Eropa (ASEM).
Selama diskusi dua hari tersebut, para pejabat ASEAN tidak dapat menyepakati akronim AEM untuk konferensi tersebut, karena tumpang tindih dengan akronim Pertemuan Ekonomi ASEAN. Akhirnya, Vu Khoan mengusulkan agar Pertemuan Asia-Eropa disingkat menjadi "ASEM". Menurut Vu Khoan, akronim ini akan menyelesaikan masalah tersebut. Di Vietnam, akronim sering kali menggunakan dua huruf pertama dari sebuah nama atau gelar.
Pertemuan sempat hening sejenak, lalu ketua pertemuan pejabat senior ASEAN bertanya apakah ada keberatan. Hening kembali. Ketua kemudian mengumumkan bahwa tidak ada keberatan. Momen ini menjadi momen yang tak terlupakan dalam sejarah perkembangan ASEAN.
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)