Dengan mengirimkan petisi kepada Kementerian Keuangan, para pemilih Kota Hai Phong mengusulkan untuk mempercepat kemajuan penyusunan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (diamandemen), melaporkan kepada Pemerintah untuk diserahkan kepada Majelis Nasional guna dipertimbangkan dan diputuskan sesegera mungkin guna menghilangkan kesulitan bagi perusahaan produksi pupuk dalam negeri, menciptakan lingkungan persaingan yang setara antara pupuk produksi dalam negeri dan barang impor.
Menanggapi hal tersebut, pada tanggal 25 September, Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa Kementerian telah melakukan kajian dan penilaian terhadap pelaksanaan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai, menghimpun pengalaman internasional; menyusun berkas usulan perubahan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai sesuai dengan ketentuan Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan; meminta tanggapan dari kementerian, lembaga, dan DPRD provinsi serta kota/kabupaten di tingkat pusat; menerima tanggapan dari berbagai organisasi dan perorangan terkait melalui portal informasi elektronik milik Pemerintah dan Kementerian Keuangan, serta menyusun dan menjelaskan tanggapan tersebut; meminta pendapat penilaian dari Kementerian Hukum dan HAM , serta menyusun dan menjelaskan pendapat penilaian untuk disampaikan kepada Pemerintah guna dipertimbangkan dan diputuskan.
Saat ini, Kementerian Keuangan telah menyampaikan kepada Pemerintah Surat Nomor 150/TTr-BTC tanggal 18 Juli 2023 tentang Usulan Pembentukan Rancangan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (perubahan) untuk diajukan kepada DPR, dengan mendaftarkan rancangan undang-undang tersebut dalam Program Pembentukan Peraturan Perundang-undangan DPR sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Terkait usulan pengenaan PPN terhadap pupuk, Kementerian Keuangan mengusulkan perubahan status pupuk dari bukan objek PPN sesuai ketentuan saat ini menjadi objek PPN, dengan tarif pajak sebesar 5%.
Dengan demikian, sejumlah badan usaha produksi dan perdagangan pupuk (bukan wajib PPN) mengalami kesulitan karena tidak dapat menyetor dan memotong PPN masukan atas barang dan jasa, tetapi harus memasukkannya ke dalam biaya produksi, sehingga mengakibatkan harga naik dan laba berkurang.
Hal ini menimbulkan kerugian dalam persaingan dengan barang impor sejenis, sehingga membuat bisnis enggan berinvestasi, membeli, memperbaiki, dan meningkatkan aset tetap guna menciptakan produk berkualitas tinggi.
Berdasarkan situasi di atas, banyak pendapat yang menyarankan agar produk pupuk diubah menjadi Objek Pajak yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai Masukan, sehingga daya saing barang produksi dalam negeri meningkat.
Dengan demikian, apabila usulan tersebut di atas segera disahkan dalam Undang-Undang, maka Pajak Pertambahan Nilai Masukan (PPN) perusahaan pupuk akan terutang sekitar Rp950 miliar; sedangkan PPN masukan yang masih terutang (sekitar Rp250 miliar) akan terutang pada periode berikutnya atau dikembalikan.
Jelasnya, pupuk produksi dalam negeri akan mempunyai kondisi yang lebih kompetitif dengan pupuk impor, karena mempunyai lebih banyak peluang untuk menurunkan biaya dan meningkatkan mutu produk.
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)