Lebih ringan, lebih murah, lebih tahan lama
Pasar baterai kendaraan listrik (EV) cukup kaya dengan beragam pilihan, termasuk timbal-asam, litium-ion, LFP (Lithium Ferrous Phosphate), dan NiMH (Nickel-Metal Hydride). Saat ini, baterai litium-ion (Li-ion) adalah jenis baterai EV yang paling umum digunakan, dengan material yang umum digunakan adalah litium-besi-fosfat (LFP) atau nikel-mangan-kobalt katoda (NMC).

Di antara baterai-baterai tersebut, LFP dianggap lebih aman, berbiaya lebih rendah, dan kurang bergantung pada logam langka, serta menawarkan jangkauan sekitar 300-500 km dan dapat diisi daya dengan cepat dalam 30-60 menit. Baterai LFP direkomendasikan karena sangat aman, meminimalkan risiko ledakan dibandingkan dengan Litium-Ion konvensional, dan sangat cocok untuk kondisi cuaca panas dan lembap di Vietnam. Sebaliknya, baterai NMC cocok untuk jangkauan yang lebih jauh, sekitar 500 km, tetapi risiko ledakannya lebih tinggi jika tidak dirawat dengan baik.
Untuk sepeda motor listrik, baterai Litium-Ion 48V-72V merupakan pilihan populer, dengan kapasitas baterai sekitar 20-50Ah untuk jarak tempuh 50-100 km. Selain itu, teknologi baterai solid-state sedang menjadi tren utama dengan penggunaan elektrolit padat, alih-alih cairan, yang membantu meningkatkan kepadatan energi hingga 400Wh/kg, sehingga memperpanjang jarak tempuh hingga 800-1.000 km. Baterai jenis ini lebih ringan, dapat bertahan hingga lebih dari 10.000 siklus pengisian daya, dan memiliki fitur perlindungan keamanan.
Selain itu, banyak teknologi baterai kendaraan listrik baru juga sedang diteliti, seperti baterai Na-ion (Natrium ion) yang diproduksi oleh CATL, produsen baterai di Tiongkok, yang 30% lebih murah daripada Li-ion; baterai Li-S (Lithium Sulfur) memiliki kepadatan energi yang baik, 2-3 kali lebih tinggi dari biasanya tetapi tidak terlalu tahan lama. Baterai berbasis grafena dapat terisi penuh hanya dalam 5 menit dan memiliki waktu tempuh hingga 800 km. Tesla telah menguji dan menerapkan serangkaian baterai kendaraan listrik berbiaya rendah dan ramah lingkungan yang terbuat dari aluminium-ion atau lini baterai LMR (Lithium Manganese-Rich) yang diperkirakan akan digunakan GM pada tahun 2028, yang membantu mengurangi biaya hingga 20%.
Lebih menguntungkan daripada mobil berbahan bakar bensin, tapi…
Pada tahun 2025, pasar kendaraan listrik global akan mencatat pertumbuhan yang kuat, dengan dominasi korporasi Tiongkok. Produsen baterai terbesar di dunia, CATL, saat ini memimpin dengan pangsa pasar 37,9%. BYD terus menarik perhatian dengan lini baterai LFP Blade-nya yang bebas kobalt dan nikel, yang memungkinkan jangkauan maksimum 690 km.

Di Vietnam, pasar kendaraan listrik tumbuh pesat berkat kebijakan preferensial VinFast . VinFast telah mengirimkan lebih dari 11.000 kendaraan per bulan, mempertahankan posisi terdepannya di pasar EV domestik. VinFast menggunakan 3 jenis teknologi baterai EV, yaitu: baterai Litium-ion (Li-ion) untuk model VF e34, VF8, dan VF9, baterai LFP untuk model VF5 Plus, VF6, dan VF7. Selain itu, baterai Asam Timbal juga digunakan untuk model sepeda motor listrik seperti Feliz dan Klara A2.
Kendaraan listrik unggul dalam efisiensi energinya karena mampu mengubah 87%-91% listrik menjadi energi kinetik, sementara kendaraan berbahan bakar bensin hanya mencapai 20%-30%, yang membantu mengurangi biaya operasional secara signifikan. Sebagai perbandingan, saat ini pengisian daya baterai EV untuk 100 km hanya sekitar 20.000-30.000 VND, 40% lebih rendah dibandingkan bahan bakar konvensional. EV juga membatasi emisi langsung ke lingkungan, sehingga berkontribusi dalam mengurangi polusi lingkungan dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar bensin.
Namun, kekurangan EV tetap perlu diperhatikan, seperti harga beli awal yang tinggi karena baterai EV mencapai 30% dari nilai kendaraan. Waktu pengisian daya berkisar antara 30 menit hingga 8 jam, membuat EV kurang fleksibel dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional untuk perjalanan jauh. Cuaca panas dan lembap juga memengaruhi daya tahan baterai EV, dan impor baterai dari luar negeri menimbulkan risiko ketergantungan rantai pasokan... Dari segi lingkungan, produksi baterai EV pada awalnya menghasilkan lebih banyak CO2 daripada kendaraan berbahan bakar bensin, akibat penambangan litium, kobalt, dan nikel. Selain itu, daur ulang baterai masih menjadi tantangan, dengan tingkat penggunaan kembali hanya 50%-80% pada tahun 2025, yang menyebabkan limbah elektronik. Di Vietnam, impor baterai dari Tiongkok meningkatkan ketergantungan rantai pasokan, dan iklim panas dapat menyebabkan baterai terdegradasi 20% lebih cepat daripada di daerah beriklim sedang...
Pilih baterai yang tepat untuk menghindari risiko kebakaran dan ledakan
Untuk mobil listrik, pengguna sebaiknya memprioritaskan baterai LFP untuk kebutuhan perjalanan perkotaan, karena keamanannya yang tinggi (tidak meledak pada suhu tinggi atau benturan) dan daya tahannya yang baik. Untuk sepeda motor listrik, baterai Lithium-Ion 48V-72V merupakan pilihan populer, dengan kapasitas 20-50Ah, yang mampu menempuh jarak 50-100 km. Misalnya, baterai 48V-30Ah dapat mencapai 70-95 km, sementara baterai 72V-50Ah dapat mencapai 120-160 km. Baterai LFP direkomendasikan karena lebih aman dan mengurangi risiko ledakan dibandingkan dengan Lithium-Ion konvensional. Baterai timbal-asam sebaiknya dihindari, meskipun murah tetapi berat (20-30 kg) dan jarak tempuh pendek (25-40 km), sehingga hanya cocok untuk kebutuhan perjalanan singkat.
Di Vietnam, dengan cuaca panas dan lembap, baterai LFP unggul karena tidak mengandung kobalt dan tidak meledak jika terkena benturan keras. Baterai Litium-Ion memiliki kepadatan energi yang tinggi tetapi rentan terbakar jika pengisian dayanya tidak tepat (misalnya menggunakan pengisi daya yang tidak kompatibel). Untuk memilih baterai yang tepat, konsumen sebaiknya memeriksa sertifikasi internasional (UL/CE) untuk memastikan kualitas dan keamanannya.
Profesor Madya, Dr. DO VAN DUNG
(Wakil Presiden Asosiasi Otomotif dan Mesin Kota Ho Chi Minh, mantan Rektor Universitas Pendidikan Teknik Kota Ho Chi Minh)
Sumber: https://www.sggp.org.vn/giam-rui-ro-khi-su-dung-xe-dien-post807174.html
Komentar (0)