Setelah lebih dari setahun pertempuran sengit antara Israel dan Hamas, dan berbulan-bulan upaya yang gagal untuk mempromosikan gencatan senjata, kedua mediator negosiasi, AS dan Qatar, mengumumkan pada tanggal 16 Januari sebuah kesepakatan untuk gencatan senjata dan membebaskan sandera.
Orang-orang bersorak di Khan Younis, Gaza pada tanggal 15 Januari.
Menunggu kesepakatan untuk "mencapai garis akhir"
Gencatan senjata tersebut mencakup pembebasan sandera secara bertahap dan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Gaza. Perlu dicatat bahwa perjanjian ini tidak serta merta mengakhiri pengeboman di Gaza, melainkan bergantung pada tekad para pihak untuk melaksanakan perjanjian di setiap tahap. Israel dan Hamas juga mencapai gencatan senjata pada November 2023, tetapi perjanjian tersebut segera runtuh. Sementara itu, melihat perjanjian antara Israel dan Hizbullah, kedua belah pihak masih saling serang dan saling tuduh melanggarnya.
Dalam perkembangan terbaru, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemarin mengatakan bahwa kabinetnya tidak akan bertemu untuk menyetujui perjanjian gencatan senjata sesuai rencana awal, dengan alasan Hamas menarik beberapa ketentuan di menit-menit terakhir. Reuters mengutip seorang pejabat senior Hamas yang mengatakan bahwa kelompok tersebut berkomitmen pada ketentuan gencatan senjata yang ditetapkan oleh para mediator. Jika tidak ada masalah di menit-menit terakhir, perjanjian tersebut diperkirakan akan berlaku pada 19 Januari.
Pasukan Houthi di Yaman dan kelompok bersenjata di Irak telah mengumumkan mereka akan menghentikan serangan terhadap Israel menyusul berita bahwa Israel dan Hamas telah mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Kabar gencatan senjata ini disambut baik oleh komunitas internasional. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan siap mendukung implementasi perjanjian dan memperluas skala bantuan kemanusiaan. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan gencatan senjata ini merupakan langkah penting menuju stabilitas regional. Kementerian Luar Negeri Tiongkok berharap gencatan senjata ini dapat diimplementasikan secara efektif dan mengarah pada gencatan senjata penuh di Gaza. Sementara itu, Presiden AS Joe Biden dan penggantinya, Donald Trump, sama-sama mengaku berjasa atas kontribusi mereka dalam upaya mendorong Israel dan Hamas untuk menandatangani perjanjian tersebut.
15 bulan yang panjang
Perang di Gaza telah berdampak signifikan terhadap lanskap geopolitik di kawasan tersebut. Menurut AP, Israel dapat mengklaim kemenangan taktis setelah lebih dari setahun bertempur dengan Hamas, termasuk melenyapkan para pemimpin senior dan memberikan pukulan telak kepada kelompok militan tersebut. Di saat yang sama, sekutu regional Hamas seperti Hizbullah dan Iran juga menderita beberapa kerugian.
Namun, Israel masih memiliki tujuan yang belum tercapai, yang berulang kali ditegaskannya di awal perang: kekalahan Hamas sepenuhnya. Beberapa sandera juga tewas saat ditahan di Gaza, termasuk mereka yang ditembak oleh pasukan Israel. Negosiasi gencatan senjata baru-baru ini telah menimbulkan perpecahan di dalam negeri Israel, dengan banyak pihak mengkritik Perdana Menteri Netanyahu karena mengutamakan kepentingan politik di atas keinginan untuk memulangkan para sandera sesegera mungkin. Di sisi lain, upaya mencapai gencatan senjata telah menyebabkan pemimpin Israel menghadapi oposisi dari koalisi sayap kanan, yang dapat mengancam posisinya.
Sedangkan Hamas, kelompok ini meyakini bahwa serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 merupakan balasan atas tindakan Tel Aviv di wilayah sengketa dengan Palestina. Keputusan tersebut jelas menarik perhatian dunia terhadap isu Palestina di kawasan tersebut, tetapi juga mengakibatkan kerusakan serius di Gaza, baik dari segi korban jiwa maupun harta benda. Menurut majalah Foreign Policy pada 15 Januari, alasan Hamas menyetujui gencatan senjata cukup jelas. Kelompok tersebut menderita kerugian besar, yang menurut Israel adalah 17.000 anggota Hamas tewas, banyak sistem terowongan dan infrastruktur yang melayani Hamas dalam perang hancur, pengaruh Hamas pun menurun di Gaza ketika rakyat menderita kerugian yang terlalu besar. Namun, para ahli mengatakan bahwa selama Hamas masih ada, masih mungkin untuk menata kembali kekuatannya dan memulihkan pengaruhnya.
Kerusakan di Gaza setelah 15 bulan perang
Otoritas kesehatan Gaza memperkirakan bahwa konflik yang berlangsung lebih dari setahun telah menewaskan lebih dari 46.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 110.000 orang. PBB menyatakan 90% rumah di Gaza telah hancur atau rusak, dan pertempuran yang terus-menerus telah menyebabkan sekitar 1,9 juta warga Palestina, atau 90% dari populasi Gaza, mengungsi. Kesehatan, pendidikan, dan pangan telah menjadi isu mendesak di Gaza, dengan lebih dari 1,2 juta kasus infeksi saluran pernapasan tercatat pada tahun 2024, lebih dari 870.000 orang menghadapi kerawanan pangan yang parah, dan 660.000 anak usia sekolah tidak memiliki akses ke pendidikan formal. Sekalipun gencatan senjata diberlakukan, membangun kembali Gaza akan menjadi tugas yang sulit.
[iklan_2]
Sumber: https://thanhnien.vn/hoa-binh-dang-den-voi-trung-dong-185250116212001913.htm
Komentar (0)