Sejak inisiatif dukungan siswa untuk kembali ke sekolah berlangsung, situasinya telah membaik secara positif.
Maroko, negara berpenduduk 37 juta jiwa, memiliki tingkat putus sekolah yang sangat tinggi. Diperkirakan sekitar 270.000 anak putus sekolah setiap tahun, meskipun pemerintah berupaya membantu mereka. Sebagai tanggapan, lahirlah inisiatif untuk membantu siswa kembali bersekolah.
Said Rifai, 15 tahun, seorang siswa SMP di kota Tiflet, sebelah timur ibu kota Rabat, adalah salah satu wajah gerakan pemuda yang mendorong teman-temannya untuk kembali bersekolah. Setiap hari sepulang sekolah, ia mengunjungi keluarga-keluarga yang anak-anaknya putus sekolah. Sambil menjalin pertemanan, Said mendorong mereka untuk kembali bersekolah.
Rifai ditemani oleh teman-teman seperti Doha El Ghazouli dan Huda Enebcha, keduanya berusia 15 dan 16 tahun. Mereka tidak hanya menyemangatinya, tetapi juga secara langsung mendukung studinya agar studinya tidak terganggu.
Namun, tantangan tetap ada. Ruang kelas di Maroko seringkali penuh sesak, dan kesenjangan antara pendidikan negeri dan swasta masih lebar. Angka putus sekolah sangat tinggi di daerah pedesaan akibat kesulitan ekonomi dan kurangnya fasilitas. Statistik UNICEF menunjukkan bahwa hampir seperempat penduduk Maroko, sekitar 9 juta orang, buta huruf, yang mencerminkan kesenjangan besar dalam akses pendidikan.
Oleh karena itu, selain mendukung siswa untuk kembali bersekolah, pemerintah Maroko juga menyelenggarakan sekolah pelatihan kejuruan. Anak-anak yang putus sekolah dapat memilih untuk mempelajari keterampilan untuk mencari nafkah, alih-alih tinggal di rumah sepenuhnya.
Di pusat pelatihan kejuruan yang dikelola oleh sebuah LSM, lebih dari 100 siswa mengikuti kelas seni, tata rias, tata rambut, dan bahasa Arab klasik, tempat banyak dari mereka menemukan makna dalam pembelajaran.
Sanae Sami, 17 tahun, bercerita: “Ketika saya meninggalkan sekolah, saya pikir tidak ada yang tersisa bagi saya. Sekarang, saya kembali berkat dorongan dari guru-guru dan teman-teman saya.”
Selain upaya nasionalnya, Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) juga memainkan peran kunci dalam mendukung pendidikan anak-anak di Maroko. UNICEF bekerja sama erat dengan Kementerian Pendidikan Maroko dan mitra sosial untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar, mendorong pendidikan inklusif, dan mengurangi angka putus sekolah, terutama di kalangan kelompok rentan seperti anak perempuan di pedesaan, anak-anak penyandang disabilitas, dan anak-anak dari keluarga miskin.
Upaya kemanusiaan yang dilakukan oleh para siswa dan lembaga pendidikan telah menciptakan perubahan positif. Di tengah tingginya angka putus sekolah dan ketimpangan pendidikan yang masih terjadi, semangat "saling membantu" dari generasi muda Maroko tidak hanya membawa harapan bagi mereka yang tertinggal, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk masyarakat yang lebih adil dan progresif.
Siswa Said Rifai berbagi: “Saya ingin membantu teman-teman saya kembali bersekolah. Karena usia kami berdekatan, orang-orang lebih terbuka dan percaya kepada saya. Saya berharap semakin banyak teman yang bisa bersekolah.”
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/hoc-sinh-morocco-giup-ban-tro-lai-truong-post738192.html
Komentar (0)