Direktur saluran Jagi Mangat Panda menyebut debut Lisa sebagai "tonggak sejarah dalam dunia penyiaran dan jurnalisme digital." Baik positif maupun negatif, tampaknya semua orang punya pendapat tentang pembawa acara kecerdasan buatan Odisha TV ini.
Mengenakan sari kuning-cokelat, Lisa bertugas menyajikan berita di platform digital, membaca horoskop, dan memberikan informasi cuaca serta olahraga . Panda menjelaskan bahwa MC virtual menangani tugas-tugas yang berulang, sehingga staf dapat lebih fokus pada kreativitas dan menyampaikan berita yang lebih berkualitas.
Meski demikian, kemunculan Lisa dan pembawa acara AI terkini lainnya telah memicu perdebatan tentang masa depan media di India, sebuah fenomena yang dapat dilihat di negara-negara Asia lainnya, dari Tiongkok hingga Asia Tenggara.
AI adalah alat yang ampuh untuk menjangkau audiens di negara seperti India, tempat ratusan bahasa hidup berdampingan. Lisa bukanlah pembawa berita AI pertama di negara ini, melainkan Sana dari grup India Today. Selain menyajikan berita dalam bahasa Inggris, Hindi, dan Bangla, Sana juga menguasai 75 bahasa lainnya.
Wakil Presiden India Today, Kalli Purie, menggambarkan Sana sebagai "cerah, bersemangat, awet muda, dan tak kenal lelah". Di Karnataka, Power TV juga menggunakan pembawa acara virtual Soundarya.
Gelombang baru pembawa berita AI didukung oleh algoritma pembelajaran mesin yang menganalisis data dari berita hingga video . Menurut situs web pemerintah INDIA, pembawa berita virtual "mengumpulkan, memantau, dan mengklasifikasikan apa yang dikatakan, siapa yang mengatakannya, lalu mengubah data tersebut menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti."
Host virtual hemat biaya, memungkinkan saluran berita untuk menyiarkan dalam berbagai bahasa, dan memproses data dalam jumlah besar dengan kecepatan luar biasa, dan tidak menderita "penyakit selebriti" seperti manusia, kata produsennya.
Namun, para kritikus mengatakan teknologi ini berisiko merusak kredibilitas media. Robot juga tidak memiliki keterampilan observasi dan pengalaman seperti jurnalis manusia. Seorang guru di Delhi mengatakan ia langsung mengganti saluran ketika melihat pembawa berita virtual karena suaranya yang monoton dan gesturnya yang datar.
Mirip dengan teknologi AI lainnya, aplikasi MC virtual telah menimbulkan kekhawatiran tentang karyawan yang kehilangan pekerjaan, meskipun produsen meyakinkan mereka bahwa mereka tidak akan pernah menggantikan manusia.
Seorang juru bicara Power TV mengatakan bahwa saluran tersebut hanya ingin memanfaatkan kekuatan teknologi untuk mencoba hal-hal baru dan menarik. Selain itu, pembawa acara virtual multibahasa akan membantu lebih banyak orang mengakses berita.
Apa pun perdebatannya, AI di ruang redaksi merupakan tren yang tak terelakkan. Sebuah survei yang dirilis pada Mei 2023 oleh Asosiasi Penerbit Berita Dunia menemukan bahwa 49% ruang redaksi global menggunakan perangkat AI seperti ChatGPT.
Mateen Ahmad, asisten profesor di Pusat Studi Komunikasi Massa AJK di India, mengatakan bahwa setiap teknologi baru menyebabkan kebingungan awal. Misalnya, para produser film khawatir animasi akan menggantikan film live-action, tetapi hal itu tidak pernah terjadi.
Kekhawatiran serupa telah menghambat industri penerbitan seiring pesatnya perkembangan internet. Banyak yang khawatir internet akan menjadi lonceng kematian bagi buku dan surat kabar, tetapi kenyataannya, untuk pekerjaan kreatif apa pun, manusia tak tergantikan. Hingga AI menjadi lebih pintar daripada manusia, manusia akan tetap menjadi kunci inovasi.
Ahmad memperkirakan bahwa AI akan menciptakan lebih banyak pekerjaan di industri media seiring dengan peningkatan konten.
(Menurut Nikkei)
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)