Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Độc lập - Tự do - Hạnh phúc

Musim apel bintang kembali dalam ingatan

(ĐN) - Di kampung halaman saya, setiap musim memiliki aromanya sendiri. Musim semi memiliki aroma tajam asap jerami setelah panen musim dingin, musim panas memiliki aroma kuat lengkeng matang, musim dingin dingin dan memiliki aroma tajam tanah yang lembap. Namun, mungkin, musim gugur adalah musim yang paling saya ingat karena aroma apel bintang. Setiap kali saya berkesempatan pulang ke kampung halaman, melewati pohon apel bintang di rumah adat desa, saya mendongak untuk melihat dedaunan hijau yang rimbun, seolah-olah masa kecil saya masih utuh di setiap daun, setiap ranting tua.

Báo Đồng NaiBáo Đồng Nai11/08/2025

Pohon ara tua itu telah berdiri diam di pintu masuk rumah komunal desa saya selama beberapa generasi. Tak seorang pun di desa ini ingat persis kapan pohon itu ditanam, tetapi kami hanya tahu bahwa sejak kakek saya masih kecil, berlarian dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek, pohon ara itu telah berdiri di sana, megah dan sunyi.

Setiap tahun, sekitar akhir Juni dan awal Juli (kalender lunar), desa saya memasuki musim belimbing. Kanopi pohon yang bundar menutupi salah satu sudut halaman rumah warga. Setiap buah belimbing yang bulat dan berwarna keemasan bagaikan permata kecil yang tersembunyi di balik lapisan daun hijau. Seluruh desa seakan dibanjiri aroma manis, menandakan bahwa musim gugur sedang mengetuk pintu dengan lembut. Setiap pagi, mengikuti ibu saya ke ladang, melewati pohon belimbing itu, saya melihat apakah ada buah yang sudah jatuh. Aroma khas belimbing, begitu tercium, sulit dilupakan.

Buah ini memang bukan buah yang populer saat liburan dan Tet, juga bukan makanan lezat yang membuat orang ketagihan. Namun bagi warga kampung halaman saya, buah ini adalah bagian dari kenangan, bagian masa kecil yang tak tergantikan. Buah ini adalah aroma hari-hari yang damai, kicauan burung di pagi hari, suara bakiak kayu nenek yang pergi ke pasar pagi-pagi, dongeng yang sering diceritakan ibu sebelum tidur: "Buah ini, buah ini jatuh di tasku, kubiarkan dia menciumnya tapi dia tidak memakannya". Mungkin karena cerita itulah, saya dan teman-teman sangat menyukai buah ini, buah yang harum, seolah menyaring semua kenangan masa kecil kami ke dalam setiap cium dan kenangan.

Pada sore musim panas yang terik, kami anak-anak berkumpul di pohon beringin di pintu masuk desa untuk bermain lompat tali, bulu tangkis, lempar kelereng, dan sebagainya. Pohon beringin tua itu berdiri tegak bagai kanopi hijau yang sejuk, merangkul masa kecil kami dalam naungannya. Suatu hari, badai datang, dan kanopinya membentang luas, menghalangi angin hingga ke seluruh halaman rumah warga. Ketika badai berlalu, dedaunan menutupi tanah, ranting-ranting kering patah dan berguguran, serta buah-buahan muda dan matang berserakan di mana-mana. Para perempuan dan ibu-ibu memungut daun-daun untuk dikeringkan dan dimasak, lalu membawa pohon beringin yang sudah matang untuk ditaruh di dalam rumah agar harum. Sedangkan kami, kami berpelukan erat dengan pepohonan beringin hijau, berceloteh dan bermain tarik tambang, menikmati waktu yang menyenangkan.

Sudah menjadi kebiasaan, setiap kali musim belimbing tiba, Ibu selalu meletakkan piring kecil di atas meja kopi, seolah memamerkan salah satu sudut rumah yang bernuansa musim gugur. Buah belimbing yang bulat dan berwarna keemasan ini dipilih Ibu dengan cermat, disisihkan untuk dipajang beberapa hari agar harum. Aroma belimbing menyebar lembut di udara, memenuhi setiap sudut, bahkan hingga ke dalam tidur siang yang damai. Setiap kali ada tamu datang, Ibu selalu menuangkan secangkir teh teratai hangat. Aroma teh berpadu dengan aroma belimbing, menciptakan keharuman yang lembut, bagai harmoni pedesaan yang asri. Aku masih ingat gambaran Nenek yang duduk di dekat jendela, memegang sebuah kantung kain kecil berisi belimbing. Sesekali, ia mendekatkan kantung itu ke hidungnya, mengendus pelan, lalu tersenyum, senyum yang damai, seolah semua masa muda dan kenangan masa lalunya kembali hadir dalam aroma belimbing yang manis itu.

Pohon ara tua itu telah menua seiring waktu, batangnya kasar dan hitam berkilau, diam bagaikan saksi bisu pergantian musim. Aku pun tumbuh dewasa seiring bergantinya musim. Saat kecil, pohon ara itu seperti mainan bagiku, hadiah mungil namun harum. Saat beranjak dewasa, pohon ara itu adalah aroma kenangan, kelembutan yang tersisa di tengah hiruk pikuk kota. Setiap tahun saat berkesempatan pulang kampung, melewati pohon ara di ujung rumah komunal, hatiku tiba-tiba menjadi tenang. Pohon ara itu masih tegak berdiri, dedaunannya masih rimbun, buahnya masih keemasan seperti dulu, hanya saja tak ada lagi tawa riang anak-anak di masa lampau.

Di tengah hiruk pikuk kota, saya masih sesekali menjumpai beberapa kios kecil di pinggir jalan yang menjual apel bintang matang. Saya sering mampir untuk membeli beberapa, bukan untuk dimakan, melainkan untuk menyimpan sesuatu yang familiar. Aromanya, meskipun masih tercium, cukup untuk menarik saya kembali ke sudut desa, di mana terdapat pohon apel bintang tua, halaman rumah komunal yang berlumut, dan hari-hari yang cerah dan riang.

Orang sering bilang ada aroma yang mengikuti kita sepanjang hidup. Bagi saya, aroma itu adalah aroma apel bintang yang matang, aroma familiar yang membuat hati saya sakit setiap musim gugur. Musim apel bintang, musim hal-hal sederhana namun bermakna. Dan bagi saya, tak ada yang lebih sederhana namun menyentuh selain apel bintang kuning yang matang, yang memancarkan aromanya dengan tenang, mengingatkan saya pada masa lalu yang damai dan tak pernah pudar.

Ha Linh

Sumber: https://baodongnai.com.vn/van-hoa/202508/mua-thi-ve-trong-noi-nho-ea21ed3/


Komentar (0)

No data
No data

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Close-up 'monster baja' yang memamerkan kekuatan mereka di A80
Ringkasan latihan A80: Kekuatan Vietnam bersinar di bawah malam ibu kota berusia seribu tahun
Kekacauan lalu lintas di Hanoi setelah hujan lebat, pengemudi meninggalkan mobil di jalan yang banjir
Momen-momen mengesankan dari formasi penerbangan yang bertugas di Upacara Agung A80

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

No videos available

Berita

Sistem Politik

Lokal

Produk