Dalam konteks persaingan teknologi AS-Tiongkok yang terus memanas, serta dominasi Tiongkok atas teknologi 5G yang menimbulkan banyak risiko bagi Washington dan sekutu-sekutunya di Eropa, berbagai negara tengah meneliti dan mengembangkan teknologi 6G ke arah "keandalan yang mampu melindungi keamanan nasional".
Pernyataan bersama tersebut dikeluarkan oleh Amerika Serikat, Australia, Kanada, Republik Ceko, Finlandia, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Swedia, dan Inggris. Negara-negara tersebut menekankan perlunya menciptakan teknologi yang aman, tangguh, dan melindungi privasi yang mematuhi standar global.
Tidak hanya itu, teknologi 6G perlu dipastikan terjangkau, berkelanjutan, dan dapat diakses di seluruh dunia , termasuk di negara-negara berkembang.
Teknologi nirkabel generasi keenam, atau 6G, menjanjikan revolusi telekomunikasi dengan kecepatan data hingga 50 kali lebih cepat daripada 5G. Latensi dalam pengiriman dan penerimaan informasi diperkirakan akan berkurang hingga sepersepuluh dari generasi sebelumnya. 6G juga diperkirakan akan melampaui 5G dalam hal kecepatan data puncak, jumlah koneksi, mobilitas, efisiensi spektrum, dan kemampuan lokasi.
Beberapa ahli percaya bahwa teknologi generasi berikutnya ini dapat menciptakan inovasi terobosan dalam sektor informasi dan komunikasi karena setiap aspek, mulai dari penetapan standar hingga peralatan manufaktur, dipantau secara ketat.
Masih belum jelas kapan 6G akan tersedia untuk umum, tetapi sebagian besar perkiraan menunjuk sekitar tahun 2030.
Pernyataan bersama kedua negara menekankan tujuan menciptakan ekosistem 6G yang aman, inklusif, dan berkelanjutan, dengan menyatakan bahwa "kerja sama dan persatuan sangat penting untuk mengatasi tantangan signifikan yang kita hadapi dalam pengembangan teknologi 6G."
Mitra-mitra tersebut mencakup negara-negara yang menjadi rumah bagi perusahaan-perusahaan telekomunikasi besar seperti AT&T di AS, Nokia di Finlandia, Ericsson di Swedia, dan Samsung di Korea Selatan. Namun, perlu dicatat, daftar tersebut tidak mencakup Tiongkok.
Seorang analis yang berbasis di Beijing di firma riset pasar IDC melihat langkah tersebut sebagai upaya untuk mengekang pengembangan 6G di China, tetapi mungkin tidak efektif.
6G masih dalam tahap penelitian di seluruh dunia, kata pakar tersebut, seraya menambahkan bahwa lintasan teknologi baru akan bergantung pada bagaimana aktivitas komersial dan prinsip teknologi berkembang.
Ukuran pasar tempat teknologi tersebut dikembangkan juga menjadi faktor, ujar seorang peneliti di sebuah universitas di Tiongkok. Tiongkok memiliki keunggulan unik karena basis penggunanya yang besar dibandingkan negara-negara berpenduduk lebih kecil, ujarnya.
Tiongkok telah mencapai kemajuan luar biasa di bidang komunikasi seluler, diam-diam memimpin di era 5G. Negara ini memimpin dunia dalam jumlah stasiun pangkalan, perangkat terhubung, dan paten yang dimiliki, menandai lompatan besar dari posisinya di era 3G dan menyelaraskan laju perkembangannya dengan standar global di era 4G.
Langkah terbaru ini tidak mungkin menghalangi kemajuan China dalam mengembangkan sistem komunikasi seluler 6G, kata peneliti tersebut, seraya mencatat bahwa raksasa teknologi seperti Huawei Technologies akan memiliki strategi independen untuk 6G.
(Menurut IDC, SCMP)
[iklan_2]
Sumber: https://vietnamnet.vn/my-xay-dung-cong-nghe-6g-an-toan-toan-dien-ben-vung-va-khong-trung-quoc-2310932.html
Komentar (0)