Terkait kasus Vu Tuan K. yang dipukuli oleh sekelompok teman, yang menyebabkan trauma psikologis, pada tanggal 28 November, Bapak Do Cong Duc, Kepala Sekolah Menengah Dai Dong, mengatakan bahwa K. telah kembali ke sekolah selama beberapa hari.
Siswa laki-laki Vu Tuan K. (kiri) telah tiba di sekolah.
Menurut Pak Duc, keluarga mengizinkan K. bersekolah beberapa jam sehari agar ia bisa lebih tenang dalam menjalani perawatan penyakitnya dan mengenal teman-temannya tanpa harus menetapkan target prestasi akademik. Pihak sekolah menyetujui metode ini.
"Kondisi fisik K. tidak sesehat anak-anak lain. Selama masa ini, K. datang ke sekolah untuk berintegrasi kembali, menciptakan suasana yang harmonis dan ramah, serta memberi teman-temannya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan mereka. Pagi ini, saat persiapan akhir jam pelajaran ke-4, saya kebetulan turun ke ruang serbaguna dan melihatnya bermain bulu tangkis dengan teman-temannya, bermain dengan sangat fokus," kata Pak Duc.
Pak Duc menilai kembalinya K. ke sekolah merupakan pertanda baik. Di kelas, K. masih mencatat dengan normal. "Kami berharap kesehatan dan semangat K. akan berangsur-angsur pulih," tambah Pak Duc.
Menghadapi besarnya biaya yang harus dikeluarkan keluarga K. untuk membiayai anak mereka, Tn. Duc menegaskan bahwa keluarga siswa laki-laki yang memukul K. telah berkomitmen untuk mendukung K. dengan perawatan, obat-obatan, transportasi... sampai ia stabil.
Panggilan untuk waspada terhadap kekerasan di sekolah
Pengacara Dang Van Cuong, anggota Komite Eksekutif Asosiasi Vietnam untuk Perlindungan Hak Anak, mengatakan bahwa dalam insiden tersebut, orang tua siswa yang memukul temannya harus bertanggung jawab untuk mengganti kerugian yang dialami korban. Kerugian tersebut meliputi biaya pengobatan, biaya rehabilitasi, upah pengasuh, dan kerugian lain yang dialami selama pemeriksaan dan perawatan K.
Saat K. diserang oleh teman-temannya
Semua anak adalah korban kekerasan di sekolah. Bukan hanya anak-anak yang dipukuli dan mengalami trauma psikologis, tetapi juga anak-anak yang melakukan kekerasan terhadap teman-temannya adalah korban kekerasan di sekolah.
Menurut Bapak Cuong, siswa adalah korban dari kurangnya pendidikan , kurangnya perhatian dari orang tua, kurangnya tanggung jawab dari guru, dan kurangnya tanggung jawab dari lembaga pendidikan. Kurangnya tanggung jawab ini menyebabkan siswa bertindak tanpa kesadaran, sehingga mengganggu kesehatan siswa lainnya. Hal ini merupakan peringatan bagi situasi kekerasan di sekolah yang rumit saat ini.
Selain mempertimbangkan tanggung jawab orang tua, lembaga pendidikan, dan peserta didik yang menjadi penyebab terjadinya suatu peristiwa, pihak berwenang juga perlu memperjelas sebab-sebab dan kondisi terjadinya perbuatan melawan hukum agar dapat dilaksanakan penyelesaian secara preventif yang aktif.
"Orang tua perlu belajar dari pengalaman dalam mengelola dan melindungi anak-anak mereka. Guru dan pimpinan sekolah perlu belajar dari insiden ini. Pihak berwenang akan mempertimbangkan tanggung jawab kepala sekolah dan wali kelas ketika membiarkan konsekuensi serius dari kekerasan di sekolah terjadi," tambah Bapak Cuong.
Keluarga memutuskan bahwa K. memerlukan perawatan jangka panjang.
Menurut laporan Dinas Pendidikan dan Pelatihan Distrik Thach That, selama liburan musim panas tahun ajaran 2022-2023 hingga September lalu, K. dipukuli berkali-kali oleh teman sekelasnya, baik di dalam maupun di luar sekolah. Karena takut dengan teman-teman sekelasnya, K. tidak melaporkan kejadian tersebut kepada guru dan orang tuanya. Keluarga dan sekolah baru mengetahui kejadian tersebut pada 16 September.
Wali kelas mengidentifikasi 6 siswa yang memukul K., menyebabkan siswa laki-laki tersebut mengalami pembengkakan kepala dan memar di sekujur tubuhnya. Pada tanggal 20 September, Sekolah Menengah Dai Dong mengadakan rapat disiplin untuk mendisiplinkan siswa yang memukul temannya. Para siswa dan keluarga mereka juga mengakui kesalahan mereka.
Pada tanggal 21 September, K. menunjukkan tanda-tanda kesehatan yang tidak normal, sehingga keluarganya membawanya ke Rumah Sakit Umum Phuc Tho ( Hanoi ) untuk perawatan; pada tanggal 22 September, ia diizinkan pulang.
Pada tanggal 25 September, K. pergi ke sekolah tetapi diancam oleh seorang teman di kelompok siswa yang telah memukulinya. K. menunjukkan tanda-tanda panik. Keluarganya membawa K. ke Rumah Sakit Anak Nasional (Hanoi) untuk perawatan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa K. menderita gangguan disosiatif.
Pada akhir Oktober, Ketua Komite Rakyat Distrik Thach That meminta peninjauan kembali atas tanggung jawab Dewan Direksi Sekolah Menengah Dai Dong dan para pemimpin Komite Rakyat Komune Dai Dong dalam mengelola ketertiban di wilayah tersebut, sekolah, dan siswa ketika K. dianiaya, yang mengakibatkan trauma psikologis.
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)