Akan memproduksi dan menyebarkan sel surya super dalam skala besar

Sel surya perovskite (PSC) merupakan terobosan dalam teknologi energi surya. Material canggih ini memiliki efisiensi konversi cahaya menjadi listrik yang luar biasa, bahkan dalam kondisi minim cahaya.

PSC juga memiliki keunggulan lebih ringan dan lebih fleksibel dibandingkan panel silikon tradisional. Oleh karena itu, panel ini dapat diaplikasikan pada berbagai permukaan non-standar, membuka potensi yang tak terhitung jumlahnya untuk mengintegrasikan teknologi surya ke dalam infrastruktur perkotaan.

Panel super juga lebih efisien dalam menghasilkan listrik bahkan saat sinar matahari terbatas, menjadikan PSC pilihan ideal untuk area berpenduduk padat di mana panel surya tradisional menghadapi tantangan ruang dan efisiensi.

Karena Jepang menghadapi tantangan unik dalam memperluas energi terbarukan karena keterbatasan lahan dan lingkungan perkotaan yang padat, teknologi terobosan ini dapat memanfaatkan potensi energi yang sangat besar di wilayah perkotaan, mengubah gedung-gedung tinggi, atap mobil, lampu jalan... dan bahkan peralatan kecil menjadi sumber energi terbarukan yang besar.

baterai surya
Panel surya super yang dapat mengubah energi selamanya baru saja diluncurkan di Jepang. Foto: Shutterstock

Lebih jauh lagi, PSC dapat dengan mudah diintegrasikan ke dalam sistem hibrida, menggabungkan tenaga surya dan angin untuk meningkatkan efisiensi energi.

Khususnya, Jepang bertujuan untuk memperluas produksi dan penggunaan baterai PSC dalam skala besar, dengan rencana mencapai kapasitas tenaga surya 20 GW pada tahun 2040. Angka ini setara dengan 20 reaktor nuklir, yang berkontribusi signifikan terhadap upaya global dalam memerangi perubahan iklim.

Mengubah permainan dalam energi terbarukan

Sejak bencana nuklir Fukushima 2011, Jepang telah membuat langkah signifikan dalam mengurangi ketergantungannya pada bahan bakar fosil dan energi nuklir.

Tenaga surya kini menyumbang proporsi yang semakin besar terhadap total produksi listrik negara ini. Kehadiran teknologi sel surya perovskite diperkirakan akan mempercepat tren ini, dan sejalan dengan tujuan ambisius Jepang untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050.

Pemerintah Jepang bermaksud meningkatkan proporsi penggunaan energi terbarukan menjadi 38% dari total konsumsi energi pada tahun 2030, di mana teknologi energi surya canggih akan memainkan peranan penting.

Dengan berinvestasi besar-besaran dalam produksi dan penerapan PSC, Jepang tidak hanya mempercepat transisi energi tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan pada sumber energi impor dan meningkatkan ketahanan energi. Dengan demikian, Jepang menegaskan posisi pionirnya dalam perlombaan inovasi teknologi terbarukan dan memimpin pasar energi terbarukan global.

Secara khusus, pengembangan panel surya super merupakan bukti komitmen Jepang untuk memerangi perubahan iklim dan membangun masa depan yang berkelanjutan.

Kehadiran sel surya perovskite juga menandai tonggak penting dalam pengembangan teknologi surya. Kemampuannya untuk menghasilkan listrik secara efisien dan beradaptasi dengan berbagai aplikasi menjadikan PSC sebagai pengubah permainan dalam industri energi terbarukan.

Dalam beberapa dekade mendatang, PSC diperkirakan menjadi lebih murah dan lebih tahan lama, membuka jalan bagi adopsi yang luas baik di rumah tangga maupun bisnis.

Panel surya super Jepang bukan hanya sebuah terobosan teknologi, tetapi juga mewakili pergeseran dalam cara energi terbarukan diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengoptimalkan pemanenan energi perkotaan dan mengurangi emisi karbon, teknologi ini berpotensi mengubah lanskap energi global. Seiring dengan penurunan biaya dan peningkatan skala produksi, PSC dapat membantu menghadirkan energi bersih dan terbarukan bagi jutaan orang di seluruh dunia .

Dengan demikian, revolusi energi surya Jepang tidak hanya memecahkan masalah energi domestik tetapi juga memetakan jalan menuju inovasi berkelanjutan secara global.

(Menurut IDR)

Panel surya murah China membanjiri Eropa Menurut statistik, China menyumbang 98% pasar fotovoltaik surya (PV) Eropa (UE).