Olahraga orang kaya
Dalam kehidupan sosial Barat ratusan tahun lalu, anggar dianggap sebagai hobi kelas atas dan bangsawan.
Saat ini, untuk mempelajari anggar, siswa perlu menyiapkan peralatan khusus untuk olahraga ini seperti pedang, topeng, kostum... Membeli barang-barang ini dengan kualitas bagus bisa menghabiskan biaya hingga ribuan USD, jadi bahkan langkah persiapan dasar pertama pun cukup mahal.
Biaya belajar dengan pelatih yang baik tidaklah kecil. Jika siswa ingin mengikuti les privat dengan guru dan siswa, biaya lesnya akan lebih mahal lagi.
Anggar dianggap sebagai olahraga untuk orang kaya (Foto: RB).
Selain itu, ruang dan lantai latihan harus dirancang dengan standar tertentu, sehingga biaya operasional fasilitas pusat pelatihan atau klub anggar sangat mahal. Oleh karena itu, biaya keanggotaan untuk mendaftar di pusat pelatihan atau klub anggar tidaklah murah.
Olahraga pikiran
Sejak abad ke-18, anggar telah berubah dari metode pertahanan diri menjadi olahraga untuk kelas atas.
Pada masa itu, maestro anggar Italia, Domenico Angelo (1716-1802), membuka akademi anggar pertama. Sejak saat itu, anggar dipandang dalam aspek baru: sebagai olahraga.
Atlet anggar Vivian Kong (kiri) dan Lee Kiefer (kanan) (Foto: SCMP).
Pada Olimpiade Paris 2024, masyarakat internasional tercengang oleh pendidikan dua atlet anggar wanita yang memenangkan medali emas.
Vivian Kong dari Hong Kong (Tiongkok) memenangkan medali emas di nomor anggar tunggal putri. Ia meraih gelar sarjana hubungan internasional dari Universitas Stanford (AS). Atlet berusia 30 tahun ini juga meraih gelar magister hukum dari Universitas Renmin, Tiongkok. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan doktor hukum di departemen hukum Universitas Tiongkok Hong Kong.
Atlet AS Lee Kiefer memenangkan medali emas di tunggal putri dan anggar beregu putri di Olimpiade 2024.
Lee Kiefer meraih gelar sarjana penelitian ilmiah dari Universitas Notre Dame (AS). Ia sedang menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Kentucky (AS). Dalam keluarga Kiefer, anggar merupakan hobi yang umum. Ayahnya adalah seorang ahli bedah saraf yang juga menekuni anggar.
Kakak perempuan Lee, Alex Kiefer, adalah atlet anggar ternama di AS. Alex kuliah di Universitas Harvard dan kini menjadi dokter.
Anggar telah lama dikenal sebagai olahraga yang sangat intelektual, membutuhkan kombinasi kekuatan fisik dan pemikiran taktis yang cepat. Atlet anggar harus terus-menerus menghadapi tantangan "perang psikologis".

Anggar dianggap sebagai olahraga intelektual (Foto; RB).
Seringkali, pemain anggar yang handal juga merupakan orang-orang yang tahu cara "bermain psikologi", mereka memiliki jati diri yang kuat dan tahu cara "membaca" lawan mereka. Ratusan tahun yang lalu, para bangsawan dan kelas atas Eropa menekuni anggar sebagai hobi untuk melatih tubuh dan pikiran mereka. Dari segi spiritual, olahraga ini membawa banyak manfaat.
Pertama-tama, seorang pemain anggar harus mengembangkan konsentrasi tinggi. Konsentrasi ini digunakan untuk mengamati gerakan lawan, memprediksi arah pedang lawan, dan merespons dengan cepat dan akurat. Mempertahankan konsentrasi tinggi sepanjang pertandingan merupakan tantangan yang tidak semua orang bisa lakukan.
Kedua, siswa anggar harus mampu mengendalikan emosi. Karena saat bertanding, membiarkan emosi meluap-luap akan mengganggu konsentrasi dan berujung pada kekalahan.
Terakhir, anggar mendorong improvisasi. Anggar sering dibandingkan dengan catur, karena atlet harus cepat mengamati gerakan lawan dan menyusun strategi yang tepat selama pertandingan. Oleh karena itu, anggar dianggap sebagai olahraga yang menantang mental dan membutuhkan pemikiran cepat.
[iklan_2]
Sumber: https://dantri.com.vn/giao-duc/tai-sao-gioi-nha-giau-va-nguoi-co-hoc-van-cao-thich-mon-dau-kiem-20240830103201682.htm
Komentar (0)