Menurut Associate Professor Dr. Bui Hoai Son, nama baru setelah penggabungan provinsi dapat menjadi kekuatan pendorong solidaritas dan menginspirasi orang untuk menatap masa depan.
Pada tanggal 28 Februari, Politbiro dan Sekretariat mengeluarkan Kesimpulan 127 tentang pelaksanaan penelitian dan proposal untuk melanjutkan reorganisasi sistem politik. Isinya mencakup penelitian tentang orientasi penggabungan sejumlah unit tingkat provinsi, yang menjamin perampingan, efisiensi, efektivitas, dan efisiensi.
Semangat "berlari dan antre bersamaan" telah diterapkan secara gencar oleh instansi pusat di masa lalu, dan kini semangat ini menyebar dalam pelaksanaan penataan batas wilayah administratif. Terlebih lagi, terdapat konsensus yang sangat tinggi dari seluruh masyarakat, serta upaya aktif dari seluruh sistem politik, dari tingkat pusat hingga daerah.
Hal ini membuktikan bahwa kebijakan penataan aparatur dari pusat hingga daerah, serta kajian dan pertimbangan penataan batas wilayah administrasi, sangat tepat. Hal ini diidentifikasi sebagai peluang untuk menata kembali ruang pembangunan nasional di tingkat daerah guna memenuhi tuntutan pertumbuhan ekonomi dua digit.
Dalam proses tersebut, jika nama dan batas administratif diubah, perubahan tersebut tentu bukan sekadar nama dan akan menimbulkan banyak masalah. Untuk lebih memahami masalah ini, seorang reporter dari Surat Kabar Industri dan Perdagangan berbincang dengan Lektor Kepala, Dr. Bui Hoai Son - Anggota Tetap Komite Kebudayaan dan Pendidikan Majelis Nasional.
Nama provinsi setelah penggabungan akan menjadi simbol persatuan yang baru. Foto ilustrasi |
Lebih dari sekedar gelar administratif
Menurut delegasi Majelis Nasional, Profesor Madya, Dr. Bui Hoai Son, nama suatu daerah bukan hanya sebutan administratif, tetapi juga membawa kenangan sejarah, nilai-nilai budaya, dan kebanggaan masyarakatnya. Ketika suatu provinsi bergabung dengan provinsi lain, ruang budaya masing-masing daerah akan saling bertukar dan terjalin. Nama tempat bukan hanya sebutan geografis, tetapi juga simbol spiritual masyarakat yang telah tinggal di sana selama beberapa generasi.
Menurut delegasi Majelis Nasional, Profesor Madya, Dr. Bui Hoai Son, pemilihan nama setelah pemekaran provinsi untuk memastikan faktor identitas budaya, sejarah, dan lokal harus didasarkan pada kriteria tertentu. Menurutnya, pemilihan nama setelah pemekaran provinsi bukan sekadar keputusan administratif, melainkan juga sebuah kisah sejarah, budaya, dan identitas lokal. Sebuah nama bukan sekadar gelar, melainkan juga sebuah kenangan, sumber kebanggaan bagi banyak generasi, penghubung antara masa lalu dan masa depan.
" Saya pikir ketika menamai provinsi baru, kita perlu mewarisi nilai-nilai yang telah terbentuk sejak lama, menghindari memudarnya tanda-tanda sejarah penting. Saya menyadari bahwa nama yang bermakna harus mencerminkan karakteristik tanah, mengekspresikan semangat dan budaya yang khas, sehingga ketika disebutkan, orang dapat langsung membayangkan apa yang menjadi milik tempat itu. Berkonsultasi dengan pendapat masyarakat, para peneliti sejarah dan budaya sangatlah penting, karena merekalah yang paling memahami nilai setiap nama, setiap nama tempat yang telah memasuki alam bawah sadar masyarakat. Tanpa konsensus, sebagus apa pun sebuah nama, sulit untuk menjadi sumber kebanggaan bersama, " tegas Associate Professor Dr. Bui Hoai Son dan mengatakan bahwa menggabungkan dua nama tempat secara mekanis terkadang bukanlah solusi optimal, karena dapat menghilangkan kealamian bahasa dan menyulitkan terciptanya ciri khas. Nama yang indah tidak hanya mudah diucapkan dan diingat, tetapi juga membangkitkan citra positif, yang mengekspresikan aspirasi lokalitas untuk pembangunan di masa depan. Dan yang terpenting, nama tersebut harus membawa rasa kedekatan dan keakraban bagi masyarakat yang tinggal di tanah tersebut, sehingga mereka dapat merasakan bahwa, meskipun terjadi perubahan administratif, identitas tanah air tetap utuh.
“ Saya yakin bahwa, jika dipertimbangkan dengan cermat dan dipilih secara cermat dengan konsensus masyarakat, nama baru tersebut tidak hanya akan menjadi penghubung antarwilayah, tetapi juga simbol solidaritas, pembangunan, dan integrasi di era baru,” ungkap Associate Professor, Dr. Bui Hoai Son.
Bagaimana nama tersebut mempengaruhi sektor ekonomi?
Banyak orang percaya bahwa perubahan nama provinsi atau kota juga dapat memengaruhi pengenalan merek lokal, terutama di bidang ekonomi. Nama tempat yang terkait dengan produk khas, indikasi geografis, dan merek terkenal, jika tiba-tiba diubah, dapat menyebabkan kesulitan dalam promosi dan pemasaran. Oleh karena itu, jika terjadi perubahan, diperlukan peta jalan komunikasi yang sistematis, beserta kebijakan untuk mendukung bisnis selama masa transisi.
Terkait hal ini, Lektor Kepala Dr. Bui Hoai Son berpendapat bahwa, dari segi sosial-ekonomi, sebuah nama dapat memberikan dampak positif jika mampu menciptakan identitas yang jelas, sehingga dapat memperkuat citra lokal. Dalam konteks integrasi dan pembangunan, nama tempat dengan merek yang kuat dapat berkontribusi dalam menarik investasi, mempromosikan pariwisata, dan meningkatkan posisi lokal di mata investor domestik maupun mancanegara. Sebaliknya, jika nama baru tersebut tidak menarik, tidak mencerminkan identitas, atau terlalu asing bagi masyarakat, hal tersebut dapat menyebabkan lokalitas tersebut kehilangan daya saingnya, sehingga sulit membangun citranya di forum nasional maupun internasional.
Oleh karena itu, banyak pendapat berpendapat bahwa, untuk memaksimalkan manfaat yang dibawa oleh sebuah nama baru, pemilihannya perlu dilakukan secara sistematis, dengan melibatkan masyarakat, peneliti, dan pakar. Yang terpenting adalah memastikan pewarisan dan pengembangan, baik dengan melestarikan nilai-nilai yang ada maupun mengekspresikan aspirasi lokal untuk bangkit di era baru, mengawali era kebangkitan nasional.
Para ahli berpendapat bahwa nama provinsi setelah penggabungan bukan sekadar keputusan administratif, melainkan juga kisah tentang emosi, kenangan, dan identitas. Untuk mencapai keputusan yang masuk akal dan mencapai konsensus tertinggi, hal terpenting adalah konsultasi yang mendalam dengan para peneliti sejarah dan budaya, pakar manajemen, dan terutama pendapat masyarakat.
“ Selain itu, media juga berperan penting dalam membantu masyarakat memahami dan menyetujui keputusan ini. Ketika konsultasi dan komunikasi berjalan dengan baik, perubahan tidak lagi menjadi beban, melainkan menjadi peluang bagi daerah untuk memasuki tahap pembangunan baru, baik dengan mewarisi nilai-nilai tradisional maupun menatap masa depan, ” ujar Associate Professor, Dr. Bui Hoai Son.
[iklan_2]
Sumber: https://congthuong.vn/dai-bieu-bui-hoai-son-ten-goi-sau-sap-nhap-tinh-se-la-bieu-tuong-moi-cua-su-doan-ket-377614.html
Komentar (0)