Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Độc lập - Tự do - Hạnh phúc

Direktorat Jenderal Pajak Arahkan Pengelolaan Restitusi PPN 2024

Người Đưa TinNgười Đưa Tin02/04/2024

[iklan_1]

Menurut Direktorat Jenderal Pajak, pada tahun 2023, dengan arahan kuat dari Majelis Nasional, Pemerintah, Kementerian Keuangan , dan upaya otoritas pajak di semua tingkatan, pengelolaan pengembalian pajak pertambahan nilai (PPN) di seluruh sektor pajak pada bulan-bulan terakhir tahun ini telah mengalami banyak perubahan dan mencapai hasil yang lebih positif daripada sebelumnya, berkontribusi dalam menciptakan kondisi bagi bisnis untuk pulih, mengembangkan produksi dan bisnis, serta mengekspor barang; pada saat yang sama, pekerjaan pemeriksaan dan pemeriksaan pengembalian pajak telah dilakukan secara efektif, sehingga mendeteksi dan menangani banyak pelanggaran faktur dan pengembalian PPN.

Namun demikian, beberapa Kantor Pelayanan Pajak Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota belum proaktif dalam mengorganisasikan pelaksanaan pengelolaan restitusi PPN, dan masih terjadi keterlambatan dalam pengurusan berkas restitusi PPN.

Sehubungan dengan hal tersebut, agar pengelolaan berkas restitusi PPN dapat terus berjalan dengan baik, maka pada tahun 2024 Direktorat Jenderal Pajak meminta kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk segera melaksanakan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, Direktur bertanggung jawab penuh atas pengelolaan restitusi PPN di daerah, bertanggung jawab mengalokasikan sumber daya yang memadai, mengarahkan organisasi untuk melaksanakan restitusi pajak di dalam kewenangan dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan; memberikan informasi secara menyeluruh kepada seluruh kader dan pegawai negeri sipil tentang disiplin industri, wewenang, kewajiban dan tanggung jawab kader dan pegawai negeri sipil yang bertugas dalam restitusi PPN, memastikan berkas restitusi pajak wajib pajak diproses dalam batas waktu (06 hari kerja untuk berkas yang tergolong pra restitusi dan 40 hari untuk berkas yang tergolong pra pemeriksaan sejak tanggal otoritas pajak menerbitkan Pemberitahuan penerimaan berkas permohonan restitusi wajib pajak); memastikan restitusi pajak diproses untuk subjek dan kasus yang tepat yang memenuhi syarat untuk restitusi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Berdasarkan tugas pengelolaan perpajakan yang bersifat spesifik di masing-masing daerah, Kepala Dinas Pajak mengambil langkah-langkah penguatan pengelolaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dinas dan pegawai negeri sipil yang diberi tugas menangani berkas restitusi PPN.

Kedua, melakukan peninjauan kepada badan usaha yang melakukan kegiatan ekspor barang, jasa dan proyek investasi di daerah agar secara proaktif melakukan sosialisasi dan pembinaan sejak tahap penyampaian SPT, penyampaian SPT pengembalian pajak dan tata cara pengembalian pajak sesuai ketentuan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 126/2020/ND-CP dan Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor 80/2021/TT-BTC untuk mendukung badan usaha dalam mengatasi kendala dalam penyampaian SPT pengembalian pajak agar tepat waktu, lengkap dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketiga, organisasi penerima permohonan restitusi PPN wajib mematuhi komponen dan prosedur yang diatur dalam Pasal 28 Surat Edaran 80/2021/TT-BTC. Apabila permohonan tidak diterima karena prosedur yang tidak memadai, organisasi penerima wajib memberitahukan secara tertulis kepada wajib pajak dengan menyebutkan secara jelas alasan penolakan permohonan sebagaimana diatur dalam Pasal 32 Surat Edaran 80/2021/TT-BTC.

Keempat, bagi badan usaha yang telah menerima restitusi pajak, agar menugaskan unit kerja untuk secara proaktif melakukan kajian dan pengumpulan informasi guna membangun basis data informasi badan usaha restitusi PPN, informasi pihak terkait (penyedia barang dan jasa badan usaha restitusi pajak, informasi pelanggan impor badan usaha restitusi pajak) sesuai masa restitusi pajak agar memiliki informasi yang cukup untuk melayani analisis dan penilaian risiko bagi badan usaha restitusi pajak dan pihak terkait. Atas dasar itu, dipilih subjek yang akan dilakukan pemeriksaan pascarestitusi pajak bagi badan usaha yang telah menerima restitusi pajak dan pemeriksaan serta pengujian terhadap pihak terkait (berdasarkan urutan prioritas bagi badan usaha yang masih menerima restitusi pajak pada tahun 2024).

Pengumpulan informasi, penilaian, dan analisis risiko harus didasarkan pada setiap berkas pengelolaan pajak spesifik dan informasi serta praktik pengelolaan pajak di area implementasi; sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip manajemen risiko yang ditentukan dalam Undang-Undang Manajemen Pajak 2019, pedoman pelaksanaan, proses bisnis dan serangkaian kriteria, indikator risiko, dan dokumen panduan pelatihan profesional dari Departemen Jenderal Perpajakan.

Dalam hal pemasok barang dan jasa diketahui berisiko tinggi, maka kantor pajak yang mengelola perusahaan restitusi pajak mengusulkan penambahan rencana pemeriksaan dan pengujian untuk melakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap pemasok barang dan jasa pada perusahaan restitusi pajak sesuai ketentuan; atau mengajukan permintaan tertulis kepada kantor pajak yang mengelola pemasok barang dan jasa untuk mengusulkan penambahan rencana pemeriksaan dan pengujian terhadap pemasok barang dan jasa pada perusahaan restitusi pajak.

Otoritas pajak yang mengelola pihak penyedia barang dan jasa kepada badan restitusi pajak, setelah menerima permintaan tertulis dari otoritas pajak yang mengelola badan restitusi pajak, wajib mengusulkan rencana pemeriksaan dan pemeriksaan tambahan untuk melakukan pemeriksaan dan pemeriksaan terhadap pihak penyedia barang dan jasa kepada badan restitusi pajak; atau segera memberikan informasi mengenai pemeriksaan, pemeriksaan, dan penanganan pelanggaran kepada otoritas pajak yang mengelola badan restitusi pajak. Apabila, melalui analisis dan penilaian, ditetapkan bahwa pihak penyedia barang dan jasa tidak termasuk dalam kategori berisiko tinggi, maka otoritas pajak tersebut wajib memberitahukan kepada otoritas pajak yang mengelola restitusi pajak.

Kelima, Otoritas Pajak wajib menerapkan langkah-langkah profesional dan melaksanakan tugas untuk menyelesaikan berkas restitusi PPN sesuai dengan ketentuan Pasal 34 dan 35 Surat Edaran 80/2021/TT-BTC.

Untuk permohonan restitusi PPN yang diklasifikasikan sebagai pra-audit dan sedang diperiksa serta diverifikasi untuk jumlah pajak yang memenuhi syarat, wajib pajak harus diberitahu alasan belum melakukan restitusi karena verifikasi masih diperlukan untuk memastikan publisitas dan transparansi. Otoritas pajak wajib melakukan restitusi pajak bagi wajib pajak untuk jumlah pajak yang telah diperiksa dan diverifikasi memenuhi syarat restitusi, tanpa menunggu hasil verifikasi lengkap untuk melakukan restitusi pajak bagi wajib pajak sesuai ketentuan Pasal 34 Surat Edaran 80/2021/TT-BTC.

Terhadap permohonan restitusi PPN yang tidak memenuhi syarat restitusi atau tidak memenuhi syarat restitusi, Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan surat tanggapan pemberitahuan tertulis kepada wajib pajak sesuai dengan formulir No. 04/TB-HT yang diterbitkan dengan Surat Edaran 80/2021/TT-BTC.

Terhadap permohonan restitusi pajak perusahaan ekspor yang sedang dilakukan pemeriksaan dan verifikasi, namun telah melampaui batas waktu penyelesaian, apabila hasil pemeriksaan dan verifikasi sampai dengan batas waktu penyelesaian permohonan restitusi pajak tidak ditemukan adanya tindak pidana perpajakan, maka Direktorat Jenderal Pajak menetapkan besarnya jumlah pajak yang dapat direstitusi dan melakukan penyelesaian restitusi pajak sesuai ketentuan yang berlaku berdasarkan permohonan dan dokumen pelengkap yang diajukan perusahaan.

Apabila setelah dilakukan pengurusan pengembalian pajak, ternyata fiskus mengetahui bahwa perusahaan telah membuat surat pernyataan yang tidak benar mengenai jumlah pajak yang dimintakan pengembalian, maka fiskus wajib menagih jumlah pajak yang dikembalikan, mengenakan denda, dan menghitung denda keterlambatan (bila ada) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, dan perusahaan wajib bertanggung jawab penuh di hadapan hukum atas pelanggaran yang dilakukan.

Keenam, berkoordinasi secara proaktif dengan otoritas yang berwenang untuk mencegah penyalahgunaan kebijakan restitusi PPN untuk menyelewengkan anggaran negara. Untuk berkas permohonan restitusi pajak, apabila Otoritas Pajak menemukan adanya tindakan penipuan dan indikasi yang bertujuan untuk mengambil keuntungan dari restitusi pajak dari anggaran negara, maka Otoritas Pajak wajib mengkonsolidasikan berkas tersebut untuk diserahkan kepada kepolisian guna diinvestigasi, sekaligus memberitahukan kepada Wajib Pajak secara tertulis dan berdasarkan kesimpulan dari otoritas yang berwenang untuk diproses sesuai dengan Pasal 34 dan Pasal 35 Surat Edaran 80/2021/TT-BTC.

Ketujuh, mengenai pekerjaan pemeriksaan untuk menyelesaikan berkas restitusi PPN:

+ Mendorong pemanfaatan dan sintesis informasi dari sistem aplikasi teknologi informasi yang ada di industri dan informasi yang diterima dari pihak ketiga (Bea Cukai, Bank, dll.) untuk melakukan pemeriksaan dan pengawasan restitusi pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Direktorat Jenderal Pajak menyelenggarakan pemeriksaan restitusi pajak sesuai dengan ketentuan Pasal 77, 110, 112, dan 115 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2019 tentang Administrasi Perpajakan beserta dokumen pelaksanaannya, serta Tata Cara Pemeriksaan Pajak yang diterbitkan melalui Keputusan 970/QD-TCT tanggal 14 Juli 2023.

+ Untuk berkas yang diklasifikasikan untuk pemeriksaan pra-refund, Direktorat Jenderal Pajak akan mengatur penugasan dan pelaksanaan pemeriksaan berkas restitusi pajak segera setelah berkas diterima. Selama proses pemeriksaan, jika terdapat alasan force majeure yang menghalangi pemeriksaan, Ketua Tim Pemeriksa akan melapor kepada pihak yang menerbitkan Keputusan Pemeriksaan untuk menerbitkan Surat Pemberitahuan Penghentian Sementara Pemeriksaan.

Alasan keadaan kahar dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Pasal 27, Pasal 3 Undang-Undang Administrasi Perpajakan 2019 dan Pasal 1, Pasal 3 Keputusan 126/2020/ND-CP. Pimpinan Dinas Pajak dan pimpinan unit pemeriksaan dan pemeriksaan pajak bertanggung jawab untuk mengorganisir pengawasan terhadap setiap tim pemeriksa guna memastikan bahwa prosedur dan tata tertib telah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Administrasi Perpajakan 2019 dan proses pemeriksaan pajak yang diterbitkan melalui Keputusan 970/QD-TCT tanggal 14 Juli 2023.

+ Apabila jangka waktu penyelesaian restitusi pajak telah berakhir dan tidak ada tanggapan dari instansi yang berwenang, maka Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan surat teguran dan permintaan kepada instansi yang berwenang untuk memberikan penjelasan mengenai alasan tidak dapat memberikan keterangan; menyelesaikan pemeriksaan tepat waktu dan menyelesaikan berkas restitusi pajak sesuai ketentuan Pasal 34 Ayat (1) huruf d Surat Edaran 80/2021/TT-BTC.

+ Dalam hal badan usaha yang menjadi subjek rencana pemeriksaan dan pengujian yang telah disetujui di kantor pusat wajib pajak mempunyai permohonan pengembalian pajak yang menjadi subjek pemeriksaan pendahuluan pengembalian pajak, maka Direktorat Jenderal Pajak mengutamakan pemeriksaan dokumen permohonan pengembalian pajak, mengatur dan mengorganisasikan sumber daya untuk melaksanakan rencana tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pemeriksaan dan pengujian pajak, ketentuan penyelesaian pengembalian pajak dalam Undang-Undang Administrasi Perpajakan Tahun 2019, dan dokumen pelaksanaannya.

Kedelapan, pemeriksaan dan pengujian pasca-refund harus dilakukan secara tegas untuk mengendalikan restitusi PPN secara ketat guna memastikan kepatuhan terhadap kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Direktorat Jenderal Pajak menetapkan tugas dan menetapkan pemeriksaan pasca-refund secara spesifik dan jelas kepada masing-masing instansi. Otoritas pajak wajib melakukan pemeriksaan dan pengujian pasca-refund atas keputusan restitusi pajak yang dikenakan pra-refund dan pasca-refund sesuai dengan ketentuan Pasal 77, 110, 112, dan 115 Undang-Undang Administrasi Perpajakan Tahun 2019 beserta dokumen pelaksanaannya, ketentuan Undang-Undang Pemeriksaan Tahun 2022 beserta dokumen pelaksanaannya, Tata Cara Pemeriksaan Pajak yang diterbitkan dengan Keputusan 1404/QD-TCT tanggal 28 Juli 2015, dan Tata Cara Pemeriksaan Pajak yang diterbitkan dengan Keputusan 970/QD-TCT tanggal 14 Juli 2023.

Apabila ditemukan perusahaan yang melakukan pelanggaran hukum berupa penggunaan faktur pajak yang tidak sah atau penggunaan faktur pajak secara melawan hukum, mengambil keuntungan dari pengembalian pajak, dan pelanggaran hukum lainnya dengan tujuan merugikan keuangan negara, segera berkoordinasi dengan instansi yang berwenang untuk menindak tegas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Atas jumlah pajak yang telah dilunasi sesuai berkas pra-refund wajib pajak, namun setelah pemeriksaan dan pemeriksaan pasca-refund di kantor pusat wajib pajak selesai dilakukan, belum ada tanggapan atau hasil verifikasi dari instansi terkait, maka Otoritas Pajak wajib menyatakan secara jelas dalam berita acara pemeriksaan dan kesimpulan pemeriksaan bahwa jumlah pajak tersebut tidak memenuhi syarat untuk direstitusi. Apabila terdapat tanggapan dan hasil verifikasi dari instansi terkait, Otoritas Pajak menetapkan bahwa jumlah pajak yang telah direstitusi tidak memenuhi syarat untuk direstitusi, maka Otoritas Pajak akan menerbitkan Surat Keputusan tentang Pemulihan Restitusi Pajak dan mengenakan denda serta denda keterlambatan (jika ada) sesuai dengan ketentuan Pasal 77, Pasal 113 Undang-Undang Administrasi Perpajakan 2019, dan Pasal 39 Surat Edaran 80/2021/TT-BTC.

Kesembilan, segera menyelesaikan dan menuntaskan permohonan restitusi pajak tahun 2023 yang tertunda, dengan memastikan batas waktu penyelesaian permohonan restitusi pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 Undang-Undang Administrasi Perpajakan Tahun 2019; dalam hal Wajib Pajak tidak setuju dengan keputusan Otoritas Pajak, wajib pajak berhak mengajukan keberatan atau gugatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang administrasi perpajakan.

Usulan Perubahan, Penghapusan dan Penambahan Banyak Peraturan Baru tentang Restitusi PPN

Rancangan Undang-Undang PPN (perubahan) terdiri dari 4 bab dan 16 pasal: Ketentuan umum; Dasar dan cara penghitungan pajak; Pengurangan dan pengembalian pajak; Ketentuan pelaksanaan.

Pada dasarnya, rancangan undang-undang ini masih mewarisi undang-undang yang berlaku saat ini, tetapi telah disesuaikan dan dilengkapi agar sesuai dengan isi kebijakan. Secara spesifik, rancangan undang-undang ini mempertahankan ketentuan dalam 5 pasal Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai yang berlaku saat ini, termasuk: ruang lingkup pengaturan, PPN, objek pajak, dasar pengenaan pajak, dan metode penghitungan pajak. Rancangan undang-undang ini menghapus 1 pasal dari Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai yang berlaku saat ini, yang mengatur faktur dan dokumen.

Terkait subjek yang dikenakan tarif pajak 0%, RUU ini menambahkan ketentuan khusus mengenai nama-nama jasa ekspor yang dikenakan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) 0%, yaitu: jasa ekspor adalah jasa yang diberikan kepada badan dan orang pribadi di luar negeri; menambahkan ketentuan mengenai "barang yang dijual di kawasan karantina kepada orang pribadi (WNA atau WNA) yang telah menyelesaikan prosedur keluar" dan "barang yang dijual di toko bebas bea" yang dikenakan tarif PPN 0%; menambahkan ketentuan mengenai penugasan kewenangan kepada Menteri Keuangan untuk mengatur tata cara, dokumen, dan persyaratan penerapan tarif pajak 0% terhadap barang dan jasa ekspor.

Selain itu, RUU ini menambahkan ketentuan khusus mengenai 3 kelompok barang yang tidak dikenakan tarif pajak 0%, meliputi: rokok, minuman beralkohol, dan bir impor yang kemudian diekspor; bensin dan oli yang dibeli di dalam negeri yang dijual kepada mobil milik badan usaha di kawasan bebas bea, mobil yang dijual kepada organisasi dan perorangan di kawasan bebas bea; barang dan jasa yang diberikan kepada perorangan yang tidak terdaftar untuk melakukan usaha di kawasan bebas bea.

Rancangan Undang-Undang ini juga menambahkan ketentuan bahwa tarif pajak 0% tidak dapat diterapkan pada produk dan layanan yang disediakan di platform digital sesuai dengan peraturan Pemerintah untuk memastikan fleksibilitas dalam menentukan apakah produk dan layanan tersebut dikonsumsi di Vietnam atau di luar negeri pada saat penyediaan. Penentuan tempat konsumsi produk dan layanan yang disediakan di platform digital sangat rumit, saat ini hanya berdasarkan pernyataan wajib pajak.

Selain itu, konten yang juga menjadi kepentingan publik adalah usulan untuk mengubah, menghapus, dan menambah banyak peraturan baru tentang pengembalian PPN yang diatur dalam Pasal 14.

Rancangan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (RUU PPN) (perubahan) telah masuk dalam program pembentukan undang-undang dan peraturan daerah tahun 2024, akan dibahas pada masa sidang ke-7 bulan Mei 2024 dan diharapkan akan disetujui pada masa sidang ke-8 bulan Oktober 2024.

Kebijaksanaan


[iklan_2]
Sumber

Komentar (0)

No data
No data

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Jet tempur Su-30-MK2 jatuhkan peluru pengacau, helikopter mengibarkan bendera di langit ibu kota
Puaskan mata Anda dengan jet tempur Su-30MK2 yang menjatuhkan perangkap panas yang bersinar di langit ibu kota
(Langsung) Gladi bersih perayaan, pawai, dan pawai Hari Nasional 2 September
Duong Hoang Yen menyanyikan "Tanah Air di Bawah Sinar Matahari" secara a cappella yang menimbulkan emosi yang kuat

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

No videos available

Berita

Sistem Politik

Lokal

Produk