Surat kabar antariksa mengutip pengumuman Badan Antariksa Eropa (ESA) yang menyatakan bahwa satelit observasi Bumi ADM-Aeolus buatan ESA akan jatuh kembali ke Bumi setelah 5 tahun beroperasi di orbit malam ini, 28 Juli (waktu setempat). Satelit Aeolus akan berhenti beroperasi pada April 2023.
Satelit Aeolus memiliki panjang 1,9 meter, lebar 1,74 meter, tinggi 2 meter, dan berat sekitar 1,2 ton. Aeolus telah beroperasi sejak 2018, sebagai satelit pertama yang mampu mengukur angin di planet kita dari luar angkasa.
Satelit Aeolus saat masih beroperasi di orbit pada ketinggian 320 km. (Foto: ESA)
Misi Aeolus berlangsung jauh lebih lama dari rencana awal satu tahun. Akibatnya, satelit kehabisan bahan bakar dan jatuh ke Bumi dengan kecepatan yang semakin cepat.
ESA berupaya mengarahkan Aeolus kembali ke tempat aman menggunakan sedikit bahan bakar yang tersisa di dalam wahana. Proses ini dimulai dengan serangkaian manuver jarak jauh yang menurunkan satelit dari ketinggian 280 km menjadi 250 km dan menempatkannya ke orbit elips.
Jika semuanya berjalan sesuai rencana, ESA akan menjatuhkan Aeolus ke Samudra Atlantik.
Menurut ESA, risiko Aeolus bertabrakan dengan wahana antariksa lain selama navigasi sangat rendah. Kalaupun terjadi, kemungkinan besar tidak akan menimbulkan ancaman, karena area pendaratan satelit sebagian besar tidak berpenghuni.
Lintasan yang direncanakan ESA adalah mengarahkan Aeolus ke Samudra Atlantik.
"Sebelum operasi apa pun, kami mempertimbangkan skenario dan risiko yang dikombinasikan dengan penilaian pada saat itu," kata Isabel Rojo Escude-Cofiner, direktur program peluncuran pesawat ruang angkasa ESA.
Tentu saja, hanya karena satelit mendarat dengan selamat bukan berarti ia akan selamat. Para ilmuwan ESA memperkirakan sekitar 80% massa Aeolus akan terbakar saat bersentuhan dengan atmosfer Bumi. 20% sisanya akan jatuh ke Samudra Atlantik dan segera tenggelam ke dasar.
Tra Khanh (Sumber: Luar Angkasa)
Berguna
Emosi
Kreatif
Unik
Kemarahan
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)