
Simanjuntak selalu terlihat kecil saat berdiri di samping rekan satu timnya - Foto: PSSI
Di antara pemain Indonesia kelahiran tahun 1990-an, terdapat tiga bintang yang menonjol: Andik Vermansah – yang sering disebut "Messi kepulauan", Riko Simanjuntak, dan Iran Jaya. Ketiganya hanya memiliki tinggi sekitar 1,60 m, dengan Riko bahkan lebih pendek lagi, hanya 1,58 m.
Pemain penyerang yang terampil dan berbakat secara teknis seringkali tidak terlalu tinggi. Namun sebagai perbandingan, Quang Hai dan Cong Phuong dari Vietnam sama-sama memiliki tinggi hampir 1,70 meter.
Dari generasi yang lahir di tahun 1990-an hingga Generasi Z saat ini, sepak bola Indonesia tertinggal dalam hal perkembangan tinggi badan. Ini juga merupakan alasan utama mengapa mereka memutuskan untuk mengambil jalan pintas dengan kebijakan naturalisasi pemain Barat.
Untuk menjelaskan postur tubuh pemain Indonesia yang pendek, ada beberapa alasan objektif dan subjektif sebagai berikut:
Orang Indonesia bertubuh pendek, termasuk dalam kelompok etnis Austronesia.
Penduduk Indonesia pada dasarnya adalah Austronesia, sebuah kelompok etnis yang berasal dari kepulauan Asia Tenggara dan Pasifik .
Kelompok etnis ini memiliki tinggi badan rata-rata yang lebih rendah dibandingkan dengan orang-orang keturunan Asia Timur, Asia Tengah, atau Eropa. Beberapa studi genetik telah menunjukkan bahwa:
Populasi Austronesia cenderung membawa gen yang terkait dengan perawakan kecil, karena adaptasi nenek moyang mereka terhadap lingkungan pulau kecil di mana sumber makanan tidak sebanyak di daerah daratan yang lebih besar.

Andik Vermansyah selalu terlihat seperti orang bertubuh kecil - Foto: BL
Beberapa kelompok etnis memiliki varian gen HMGA2 dan LCORL, yang terkait dengan tinggi badan yang lebih unggul, tetapi gen-gen ini kurang umum di populasi Asia Tenggara dibandingkan dengan Asia Utara dan Eropa.
Selain itu, gen ACAN, yang umum di Indonesia, mengandung varian langka yang menyebabkan gangguan pertumbuhan parah, sehingga menyulitkan orang-orang di sana untuk mencapai postur tubuh tinggi alami seperti orang Eropa atau Korea.
Nutrisi yang tidak sehat dan dampaknya terhadap tinggi badan atlet Indonesia.
Kurangnya protein berkualitas tinggi dalam makanan.
Pola makan tradisional Indonesia sebagian besar didasarkan pada nasi, jagung, kentang, dan makanan gorengan berlemak, bukan sumber protein berkualitas tinggi seperti daging sapi, salmon, dan produk susu.
Hal ini memengaruhi kemampuan untuk mensintesis hormon pertumbuhan (GH), kemampuan untuk membangun tulang rawan dan tulang...
Jepang dulunya juga memiliki tinggi badan rata-rata yang relatif kecil, tetapi setelah Perang Dunia II, mereka meningkatkan konsumsi susu, daging merah, dan salmon, yang menyebabkan peningkatan signifikan pada tinggi badan rata-rata.
Banyak keluarga di Indonesia masih mempertahankan pola makan tradisional yang miskin protein berkualitas tinggi, yang memperlambat laju pertumbuhan tinggi badan.
Dampak negatif dari makanan yang digoreng dan berminyak
Masyarakat Indonesia banyak mengonsumsi makanan yang digoreng, seperti tempe goreng, ayam goreng, dan gorengan (pangsit goreng tradisional). Hal ini berdampak negatif pada tinggi badan mereka.
Penghambatan hormon pertumbuhan: Lemak jahat (lemak trans, minyak terhidrogenasi) yang ditemukan dalam makanan gorengan mengurangi kadar hormon pertumbuhan dan menghambat penyerapan nutrisi penting untuk kesehatan tulang.

Pola makan tinggi lemak menyulitkan orang Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi - Foto: HU
Peradangan kronis: Lemak tidak sehat meningkatkan respons peradangan, yang memengaruhi perkembangan tulang rawan dan jaringan tulang.
Dampak pada penyerapan kalsium: Terlalu banyak lemak menghambat penyerapan kalsium di usus, yang menyebabkan tulang lebih lemah dan pertumbuhan tulang lebih lambat.
Kandungan gula yang tinggi dalam makanan
Makanan dan minuman yang tinggi gula, seperti teh manis, soda, dan kue-kue Indonesia, juga merupakan masalah besar:
Menyebabkan resistensi insulin: Gula menyebabkan peningkatan insulin yang berlebihan, secara tidak langsung menghambat IGF-1, faktor penting untuk pertumbuhan tinggi badan.
Menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi: Terlalu banyak gula mengurangi penyerapan protein dan mikronutrien (seng, kalsium, magnesium), yang menyebabkan perkembangan tulang yang buruk.
Genetika memainkan peran penting dalam perawakan kecil orang Indonesia, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu.
Gizi buruk, khususnya kurangnya protein berkualitas tinggi dan konsumsi berlebihan makanan gorengan, gula, dan lemak, merupakan alasan utama mengapa rata-rata tinggi badan atlet Indonesia belum meningkat.
Sumber: https://tuoitre.vn/vi-sao-cau-thu-indonesia-thuong-thap-be-20250605125525689.htm






Komentar (0)