Meskipun ada banyak bahan alternatif lain, orang-orang zaman dahulu sering menggunakan kayu nangka untuk membuat patung pemujaan. Mengapa demikian?
Kayu nangka dianggap sebagai kayu berharga dalam kehidupan dan budaya masyarakat Vietnam. Orang-orang zaman dahulu sering menggunakan kayu nangka untuk membuat patung, terutama patung Buddha dan patung dewa di kuil dan tempat suci. Pemilihan kayu nangka didasarkan pada faktor-faktor seperti sifat material, nilai spiritual, dan nilai budayanya.
Mengapa orang zaman dahulu sering menggunakan kayu nangka untuk membuat patung pemujaan?

Berikut ini adalah alasan-alasan yang menjelaskan mengapa di antara sekian banyak kayu berharga, orang-orang zaman dahulu kerap memanfaatkan kayu nangka untuk membuat patung-patung pemujaan.
Bahan yang tahan lama namun mudah diukir
Kayu nangka memiliki banyak khasiat unggul sehingga menjadi pilihan ideal untuk membuat patung pemujaan.
Kayu nangka tahan lama, tahan rayap, dan tidak mudah melengkung. Hal ini membuat patung-patung yang terbuat dari kayu nangka awet tanpa kerusakan, sehingga keindahan dan nilai artistiknya tetap terjaga. Kayu nangka mampu menahan cuaca buruk, cocok untuk berbagai kondisi iklim di Vietnam, terutama lingkungan lembap di pagoda atau kuil.
Struktur kayu nangka tidak terlalu keras, serat kayunya halus, sehingga memudahkan pengrajin untuk mengukir detail yang rumit. Berkat itu, kayu nangka menjadi pilihan utama untuk membuat patung pemujaan dengan garis-garis halus dan lembut. Mengukir patung Buddha atau dewa membutuhkan ketelitian dan presisi tinggi, sehingga kayu nangka menjadi material yang ideal.
Kayu nangka berwarna kuning cerah saat pertama kali diolah, kemudian berubah menjadi cokelat tua seiring waktu. Warna alami kayu nangka menghadirkan nuansa hangat, dekat, namun tetap khidmat. Khususnya, warna kuning kayu nangka juga dikaitkan dengan warna Buddhisme, yang melambangkan kemurnian dan pencerahan. Hal ini menjadikan kayu nangka ideal untuk membuat patung Buddha dan benda-benda pemujaan.
Konsep spiritualitas
Selain keunggulan materialnya, kayu nangka juga memiliki banyak nilai spiritual dan makna religius yang mendalam, sehingga populer digunakan untuk membuat patung pemujaan.
Di banyak daerah pedesaan Vietnam, pohon nangka sering ditanam di sekitar rumah, terutama di pagoda dan rumah adat. Masyarakat Vietnam percaya bahwa pohon nangka membawa keberuntungan, rezeki, dan kedamaian bagi keluarga. Oleh karena itu, ketika menggunakan kayu nangka untuk mengukir patung, orang percaya bahwa patung tersebut akan menyerap roh baik pohon ini, yang akan membantu membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi pemujanya.
Kayu nangka memiliki aroma yang lembut dan menyenangkan, tidak terlalu kuat, sehingga membantu ruang ibadah menjadi lebih khidmat dan murni. Dalam upacara keagamaan, kesucian dan kekhidmatan merupakan faktor yang sangat penting. Oleh karena itu, penggunaan kayu nangka, sejenis kayu dengan aroma yang lembut, telah berkontribusi dalam menciptakan suasana sakral dalam upacara keagamaan.
Populer dan mudah ditemukan
Alasan lain mengapa kayu nangka menjadi pilihan populer adalah karena cukup mudah ditemukan di Vietnam. Pohon nangka mudah tumbuh, tumbuh cepat, dan tersedia secara luas di semua wilayah. Orang-orang sering menanam nangka di kebun mereka, tidak hanya untuk buahnya tetapi juga untuk kayunya saat dibutuhkan. Oleh karena itu, kayu nangka mudah didapat dan lebih murah daripada kayu berharga lainnya seperti kayu sonokeling dan kayu sua.
Berkat popularitas dan kemudahan mendapatkannya, kayu nangka telah menjadi bahan yang akrab bagi masyarakat Vietnam, tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga dalam kegiatan keagamaan dan kepercayaan.
Penggunaan kayu nangka untuk membuat patung pemujaan juga menunjukkan hubungan antara manusia dan alam. Pohon nangka ramah lingkungan, mudah tumbuh, minim hama dan penyakit, serta tidak membutuhkan banyak perawatan. Penggunaan kayu nangka tidak berdampak besar pada sumber daya hutan, sehingga turut melindungi lingkungan ekologis.
Hal ini mencerminkan filosofi hidup orang dahulu: hidup selaras dengan alam dan menghargai keberlanjutan dalam keyakinan dan kehidupan.
Sumber
Komentar (0)