Dengan rasa hormat dan cinta
Ayah Ibu Thanh Vân (Kelurahan Tan Son Hoa, Kota Ho Chi Minh) adalah Bapak Nam Thang, yang kini hampir berusia 90 tahun. Selama 20 tahun terakhir, sejak ibunya meninggal, dialah yang paling dekat dengannya dan merawatnya. Bapak Nam pendiam dan tertutup. Setelah menderita stroke ringan, ia menjadi jauh lebih lemah di satu sisi tubuhnya, dan kepribadiannya menjadi semakin tertutup. Awalnya, Ibu Vân menganggap merawat ayahnya sebagai pemenuhan tanggung jawab dan kewajibannya sebagai seorang anak perempuan. Ada kalanya ayahnya sedang bermasalah dan sedih, dan meskipun ia merasakannya, ia tidak terlalu memikirkannya, karena menganggap suasana hati orang tua memang berubah-ubah. Menyeimbangkan pekerjaan dan merawat ayahnya yang lanjut usia siang dan malam, Ibu Vân seringkali kelelahan. Kadang-kadang, ia merasa stres dan tidak ingin berbicara, hanya melakukan tugasnya dalam diam karena kebiasaan. Akibatnya, ada hari-hari ketika Ibu Vân dan ayahnya tidak bertukar sepatah kata pun...

Ibu Vân bercerita: “Suatu malam, ketika saya tiba-tiba terbangun, saya diam-diam pergi ke kamar ayah saya untuk mengeceknya, tetapi kamar itu kosong. Bingung, saya segera menuju ruang tamu untuk mencarinya. Bahkan sebelum sampai di sana, saya mendengar ayah saya berbisik… Saya mendekat dengan tenang, bersembunyi di balik dinding agar ia tidak melihat saya. Saya mendengarnya berbicara kepada potret ibu saya. Ia mengungkapkan kekhawatirannya tentang saya setelah ia meninggal… Semua kasih sayang dan cinta yang dimilikinya untuk saya diungkapkan oleh ayah saya di malam yang sunyi itu, hanya dengan cahaya redup lampu minyak di altar leluhur yang menerangi ruangan. Saya berdiri di sana dalam kegelapan, diam-diam mendengarkan percakapan ayah saya, air mata mengalir di wajah saya…” Pada saat itu, ia sepenuhnya memahami cinta yang selalu dimiliki ayahnya yang sudah lanjut usia untuk putrinya, cinta yang tetap melimpah, baik saat ia sehat maupun sakit, muda maupun tua. Ia hanya tidak mengatakannya dengan lantang; ia menyimpannya sendiri, dan akibatnya, ia merasa cemas dan gelisah untuk waktu yang lama.
Dari percakapan dari hati ke hati dengan ayahnya itu, Van memahami dan merasakan lebih dalam kekhawatiran ayahnya tentang waktu singkat yang tersisa bersamanya. Sejak saat itu, ia mencurahkan dirinya untuk lebih merawat ayahnya, mencintainya bukan hanya sebagai seorang anak perempuan tetapi juga sebagai satu-satunya anggota keluarga yang berada di sisinya di masa senjanya. Ia menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbicara, mengobrol, dan berbagi dengannya, mencoba setiap hari untuk memberinya senyum sebanyak mungkin, dan lebih menghargai waktu ketika ayahnya masih sehat, jernih pikirannya, mampu makan dengan baik, dan tidur nyenyak.
Menikmati masa keemasan hidup...
Penulis Le Thi Thanh Lam baru saja merilis bukunya, "The Keeper of Time, " yang berfokus pada bagaimana "membantu orang tua menikmati masa tua mereka dengan tenang." Dalam buku tersebut, penulis menceritakan perjalanannya merawat ayahnya tidak hanya dengan cinta tetapi juga dengan pengamatan yang tajam, kesabaran, dan kemampuan untuk mengubah momen sehari-hari menjadi pesan tentang kasih sayang keluarga.
Kata-kata tulus yang tertulis dalam "The Keeper of Time" dengan mudah membangkitkan rasa keakraban pada pembaca, seolah-olah mereka pernah menjumpai adegan serupa dalam kehidupan mereka sendiri. Gambaran-gambaran ini dapat dilihat tepat di rumah setiap orang, mendorong refleksi tentang seberapa baik mereka telah merawat orang tua mereka yang lanjut usia, apakah mereka cukup dekat, cukup penyayang, cukup berempati, dan apakah mereka sepenuhnya memahami pikiran dan keinginan orang tua mereka. Buku ini juga menekankan kesepian para lansia, yang menghadapi masa senja dengan rasa sakit karena kehilangan kendali atas tubuh mereka sendiri, serta perasaan dan keinginan sebenarnya dari orang tua mereka. Bakti kepada orang tua dan perhatian tulus dari anak-anak membantu orang tua mengatasi tantangan dan rintangan hidup selama masa keemasan mereka.
Menurut Dr. Dao Le Na: " Buku 'Penjaga Waktu' memiliki isi yang sangat sederhana tetapi menyampaikan pelajaran yang mendalam, menunjukkan bahwa para lansia takut dilupakan, bahwa kehadiran anak-anak mereka adalah hadiah yang paling berharga, dan bahwa cerita-cerita lama yang diceritakan orang tua bukan hanya informasi tetapi juga cinta yang ingin mereka sampaikan... dari situ, buku ini membantu pembaca memahami bahwa merawat orang tua bukan hanya kewajiban tetapi juga kesempatan bagi setiap orang untuk memperlambat langkah, kembali ke nilai-nilai kasih sayang dari akar mereka..."
Meskipun kisah penulis Le Thi Thanh Lam bersifat pribadi, kisah ini juga mencerminkan masalah umum saat ini. Karya ini berfungsi sebagai pengingat bagi anak-anak yang memiliki orang tua lanjut usia untuk memahami, berempati, dan merawat orang tua mereka dengan penuh kasih sayang. Menghabiskan waktu bersama orang tua, yang dipenuhi kasih sayang keluarga, melalui momen-momen yang tampaknya biasa saja, adalah sesuatu yang sulit untuk didapatkan kembali setelah mereka tiada. Selama beberapa dekade, orang tua telah menjadi sumber dukungan, kepercayaan, dan kasih sayang yang besar bagi anak-anak mereka. Sekarang, seiring bertambahnya usia dan kesehatan mereka menurun, persahabatan, perhatian, kasih sayang, dan dukungan dari orang tua menjadi cara paling praktis untuk menunjukkan rasa syukur dan bakti kepada orang tua.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/diem-tua-cho-cha-me-luc-xe-chieu-post803550.html








Komentar (0)