Kita hidup di dunia yang terglobalisasi, sehingga cara kita mendidik juga harus berubah. Selain pengetahuan, anak-anak perlu belajar berpikir kritis, keterampilan komunikasi, kemampuan mengelola informasi, dan kemampuan mengatasi segala kesulitan yang mereka hadapi dalam hidup.
Pendidikan komprehensif bukan tentang melatih "manusia super" yang pandai di semua mata pelajaran. (Sumber: TT) |
Faktanya, selama ini kita seringkali hanya menilai anak berdasarkan nilai (nilai ujian, rapor sekolah, dll.). Sementara itu, penerimaan yang hanya berdasarkan nilai bersifat sepihak. Menurut teori kecerdasan majemuk Howard Garner, terdapat hingga 8 jenis kecerdasan, yaitu: logika-matematika, gerak, ruang visual, bahasa, musik , interaksi komunikasi, alamiah, dan batiniah. Oleh karena itu, melalui tes, kita seringkali menekankan keunggulan dalam logika-matematika, dan bahasa. Lalu, bagaimana dengan siswa yang memiliki kecerdasan jenis lain?
Karena penilaian yang salah, kita dapat dengan mudah mengarahkan anak-anak kita secara keliru, tanpa sengaja mendorong mereka ke dalam siklus belajar dan belajar untuk ujian. Itulah kenyataan banyak anak yang harus belajar keras siang dan malam, belajar di akhir pekan, belajar di musim panas, berlatih untuk ujian, berlatih soal...
Pendidikan komprehensif bukan tentang melatih "manusia super" yang pandai di semua mata pelajaran, seperti kisah tentang tidak memaksa ikan memanjat pohon. Banyak negara di dunia merekrut siswa yang berprestasi dalam beberapa aspek, bukan hanya berdasarkan nilai mereka. Tidak mengherankan jika anak muda yang lemah di Matematika pun bisa diterima di sekolah ternama.
Kembali ke kisah pendidikan di negeri kita, mungkin masih banyak anak yang masih menanggung beban ujian. Banyak pelajaran berharga yang dipetik dari tekanan belajar. Rasa takut gagal ujian, rasa takut berada di sekolah khusus, membuat banyak anak kehilangan kepercayaan diri, bahkan melakukan tindakan bodoh.
Kebanyakan orang masih percaya bahwa kemampuan anak dinilai melalui penerimaan di sekolah khusus, rapor yang bagus, dan nilai sempurna 10. Kapan orang dewasa akan memberi anak hak untuk tidak lulus ujian, hak untuk mendapatkan pengalaman, hak untuk gagal, dan menghargai usaha mereka apa pun hasilnya?
Siswa membutuhkan lingkungan belajar yang memungkinkan mereka mengembangkan harga diri dan berpartisipasi dalam proyek pembelajaran yang menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah kehidupan nyata, bukan hanya memecahkan masalah matematika dengan cepat atau menulis esai sesuai templat.
Kenyataannya, tidak ada model pendidikan yang sempurna untuk semua orang. Yang penting adalah mencegah anak-anak tertekan dengan belajar dan mengikuti ujian. Banyak pakar pendidikan dan psikolog masih bersuara, mengatakan bahwa perlu mengurangi waktu yang dihabiskan untuk mempelajari huruf agar anak-anak dapat belajar menjadi manusia, mempelajari keterampilan hidup, melatih keterampilan, dan sebagainya.
Di atas segalanya, pendidikan keluarga selalu menjadi prioritas utama dalam proses mendidik anak. Namun, banyak orang tua yang mengutamakan pendidikan sekolah, menitipkan anak-anak mereka kepada guru, dan mengharapkan masa depan yang cerah.
Untuk mengurangi tekanan belajar pada anak, mungkin orang tua perlu berubah terlebih dahulu. Orang tua harus mengubah orientasi pendidikan anak-anak mereka, bahwa tujuan mereka bukanlah untuk masuk sekolah khusus, bukan untuk mendapatkan penghargaan, bukan untuk masuk universitas bergengsi. Yang penting adalah mendidik anak-anak untuk mencapai unsur-unsur dasar seperti keterampilan hidup, dengan tujuan menjadi pribadi yang baik dan bahagia.
Untuk itu, anak-anak tidak boleh "membuang-buang" waktu di kelas tambahan, atau rajin mengerjakan PR bahkan saat liburan dan akhir pekan, karena apa gunanya belajar siang dan malam? Yang terpenting, orang tua harus bersimpati dan mendampingi anak-anak mereka. Anak-anak ibarat pohon, orang tua perlu merawat dan menyiraminya secara teratur.
Secara lebih luas, ini adalah kisah empat anak yang secara ajaib selamat di hutan hujan Amazon dan diselamatkan oleh tim penyelamat Kolombia pada 9 Juni. Anak tertua, 13 tahun, menggunakan keterampilan yang ia pelajari dari permainan neneknya untuk membantu anak-anak bertahan hidup di hutan hujan Amazon sambil menunggu tim penyelamat. Artinya, keterampilan bertahan hidup dari permainan tersebut membantu anak-anak tersebut menghadapi situasi berbahaya yang mereka hadapi dalam hidup.
Kita hidup di dunia yang terglobalisasi, sehingga cara kita mendidik juga harus berubah. Faktanya, selain pengetahuan, anak-anak perlu belajar berpikir kritis, keterampilan komunikasi, kemampuan mengelola informasi, dan kemampuan mengatasi segala kesulitan.
Mungkin, kita tidak membutuhkan "produk keluaran" yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan cepat, tetapi kita membutuhkan orang-orang yang mampu memecahkan masalah dan bekerja secara efektif dalam kelompok. Dari sana, anak-anak tidak hanya dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga kesadaran dan gaya hidup, serta tidak bingung ketika memasuki kehidupan.
Untuk menciptakan generasi muda yang sukses dan bahagia, penting untuk membangkitkan dan memupuk semangat serta membantu anak-anak mengembangkan kekuatan mereka sendiri. Anak-anak juga perlu belajar dan berlatih bagaimana berperilaku dengan orang tua, guru, orang dewasa, dan teman-teman; serta melatih kepercayaan diri seperti berbicara, berdiskusi, dan berdebat di depan umum. Ketika faktor-faktor ini ditekankan, tolok ukur yang ditetapkan dalam setiap ujian tentu tidak lagi didasarkan pada nilai.
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)