
Jika sebelumnya bermain game dan jalan-jalan dianggap sebagai dua aktivitas terpisah – satu di depan layar, satu di dunia nyata – kini batasan itu menjadi kabur.
Menurut survei Skyscanner yang dipublikasikan di New York Post , tren perjalanan baru bernama Gami-Vacation (secara harfiah berarti "perjalanan ala gim") sedang marak di kalangan anak muda. Ini adalah bentuk perjalanan yang menggabungkan pengalaman bermain gim video selama perjalanan: mulai dari hotel yang dilengkapi konsol gim seperti PlayStation atau Xbox, hingga homestay yang dirancang dengan konsep ruang gim profesional, atau bahkan wisatawan yang pergi ke arena permainan klasik, kafe gim terkenal di Tokyo, Seoul, atau Berlin untuk "bermain" gim dalam suasana yang benar-benar baru.
Banyak orang bahkan berencana bepergian hanya untuk menghadiri acara esports internasional seperti The International , League of Legends Worlds, atau BlizzCon , menganggap ini sebagai alasan yang sah untuk berkemas dan berangkat.
Tidak hanya sebagai sarana hiburan, video game kini juga berfungsi sebagai… pemandu wisata.
Menurut National Geographic , hingga 35% wisatawan Amerika merencanakan perjalanan karena terinspirasi oleh game favorit. Contoh paling jelas adalah Assassin's Creed , dengan versi-versi yang secara akurat menggambarkan kembali kota-kota bersejarah seperti Florence, Roma, Athena, atau Kairo. Banyak gamer, setelah memainkan game tersebut, memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut dan menjelajahinya secara langsung.
Di India, statistik Skyscanner bahkan lebih mengesankan: 88% anak muda yang disurvei akan memilih destinasi internasional jika berlatar permainan yang mereka sukai. Seorang anak muda yang menghabiskan lebih dari 100 jam bermain Kingdom Come: Deliverance II bercerita bahwa ia merencanakan perjalanan untuk menjelajahi pedesaan Ceko yang bak negeri dongeng – inspirasi sejarah permainan tersebut – sebagai "misi kehidupan nyata".
Jika Anda pernah berpikir taman hiburan hanya untuk anak-anak, cobalah kunjungi Super Nintendo World di Universal Studios Jepang atau AS. Di sini, pengunjung mengenakan gelang pintar untuk "mengumpulkan koin", "melawan bos", dan berpartisipasi dalam misi berbasis level—persis seperti memasuki dunia Mario.
Di Minion Land di Orlando, teknologi AR (augmented reality) memungkinkan pengunjung untuk berburu Minion yang hilang, menemukan harta karun tersembunyi, atau bersaing dengan pemain lain di papan peringkat online untuk mendapatkan skor. Alih-alih duduk di wahana yang indah, Anda benar-benar menjadi bagian dari permainan.

Fox News juga mencatat maraknya permainan peran ramah keluarga di AS dan Eropa. Beberapa resor memungkinkan pemain untuk bertransformasi menjadi penyihir pembunuh naga, mata-mata pemecah kejahatan, atau pemburu harta karun. Anak-anak dan orang dewasa diberikan properti, misi, dan bermain peran di sepanjang perjalanan.
Meledaknya pariwisata bertema gim video bukanlah suatu kebetulan. Para ahli menyebutkan tiga faktor kunci yang menjadikannya tren global: hiburan yang dipadukan dengan penemuan, pengalaman yang dipersonalisasi, dan dorongan media sosial.
Perpaduan antara permainan dan pariwisata membuka ruang pengalaman baru, tempat anak muda tak hanya bisa bersenang-senang, tetapi juga belajar dan menjalani perjalanan mereka sendiri. Para pakar pariwisata internasional memprediksi bahwa Gami-Vacation akan menjadi salah satu tren paling berkelanjutan dalam dekade mendatang, terutama dalam konteks teknologi interaktif, AI, dan realitas virtual yang semakin berkembang.
Dan siapa tahu, pada perjalanan Anda berikutnya, Anda mungkin bukan sekadar menjadi turis, tetapi juga seorang pejuang, penyihir, atau penjelajah yang menjalani pengalaman yang "diprogram" dengan cermat tetapi sangat realistis.
Sumber: https://baolaocai.vn/kham-pha-xu-huong-du-lich-theo-phong-cach-tro-choi-dien-tu-post879372.html
Komentar (0)