Dalam masyarakat digital, kebutuhan akan tulisan tangan perlahan tergantikan oleh kemudahan perangkat elektronik. Namun, dalam konteks inilah nilai tulisan tangan semakin ditegaskan. Kemudahan dan kecepatan yang dihadirkan teknologi memang tak terbantahkan. Namun, seiring perkembangan tersebut, orang-orang tampaknya mulai kehilangan sebagian koneksi personal dan emosi yang dibawa oleh tulisan tangan.
Surat yang ditulis tangan dengan rapi, kartu ucapan dengan garis-garis yang mengalir, atau sekadar catatan yang disajikan dengan rapi selalu menghadirkan perasaan yang lebih tulus dan intim daripada pesan elektronik yang tak bernyawa.

Tulisan tangan yang indah tidak hanya menunjukkan kehati-hatian dan ketelitian sang penulis, tetapi juga dianggap sebagai bentuk seni yang mencerminkan kepribadian dan jiwa. Banyak orang percaya bahwa berlatih menulis tangan yang indah juga membantu melatih kesabaran, disiplin, dan konsentrasi—kualitas-kualitas berharga dalam kehidupan modern.
Menyadari kebutuhan ini, kelas dan pusat kaligrafi semakin banyak bermunculan, menarik minat segala usia, mulai dari siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, siswa yang ingin meningkatkan tulisan tangan mereka untuk meraih hasil yang lebih baik dalam studi mereka, hingga orang dewasa yang ingin meningkatkan keterampilan sosial mereka, atau sekadar mencari hobi yang elegan. Di Ha Tinh , tidak sulit menemukan tempat untuk mengajar kaligrafi dengan jumlah siswa yang terus meningkat.

Menurut Ibu Nguyen Thi Dieu, pendiri Klub Latihan Tulisan Tangan Ibu Dieu, akhir-akhir ini jumlah pendaftar meningkat pesat. Tak hanya mahasiswa, mahasiswa, dan pekerja pun datang untuk belajar dengan keinginan berlatih kehati-hatian dan kesabaran. Bahkan para lansia pun datang untuk memperbaiki tulisan tangan mereka atau sekadar mencari tempat yang tenang untuk berlatih sendiri.
Nguyen Thao Vy (Kelurahan Thanh Sen, Provinsi Ha Tinh) dengan gembira berbagi: "Awalnya, saya mengikuti kelas kaligrafi karena orang tua ingin saya memperbaiki tulisan tangan saya. Dulu, tulisan tangan saya jelek dan berantakan. Setelah beberapa kelas, saya merasa semakin menyukainya. Latihan kaligrafi tidak hanya membantu saya menulis lebih baik, tetapi juga melatih saya untuk bersabar, teliti, dan fokus. Setiap kali saya menyelesaikan satu baris tulisan yang indah, saya merasa sangat bahagia dan bangga."

Dapat dikatakan bahwa di era 4.0, profesi kaligrafi indah tidak hilang tetapi terus berubah dan beradaptasi menemukan nilai dan ruang pengembangan baru.
Menurut Ibu Dao Quynh Chung (Wakil Presiden Klub Kaligrafi Indah Vietnam) yang telah berpengalaman bertahun-tahun mengajar kaligrafi indah di Ha Tinh, dalam menghadapi era digital , berlatih kaligrafi indah berarti melatih pikiran. Tak hanya melatih tulisan tangan, tetapi juga melatih karakter. Tulisan tangan juga memiliki nilai budaya yang mendalam. Melestarikan dan mempromosikan keindahan bahasa nasional merupakan cara generasi masa kini menunjukkan rasa hormat terhadap warisan budaya leluhur yang berharga.
Terlihat bahwa, di tengah hiruk pikuk era 4.0, profesi menulis indah tidak terabaikan, melainkan justru menegaskan vitalitas dan nilai uniknya. Menulis indah bukan sekadar berlatih menulis, melainkan sebuah perjalanan penemuan dan pengembangan diri, membantu siswa dan orang dewasa menemukan kedamaian dan kegembiraan dalam setiap goresan pena. Hal ini sungguh merupakan "daya tarik yang unik" namun sarat makna dalam konteks teknologi digital yang semakin mendominasi kehidupan.
Sumber: https://baohatinh.vn/luyen-chu-dep-suc-hut-la-giua-thoi-dai-40-post291922.html
Komentar (0)