Majelis Nasional telah memutuskan untuk mengesahkan Undang-Undang Lembaga Perkreditan yang telah diamandemen pada tanggal 18 Januari 2024, dan berlaku efektif sejak tanggal 1 Juli 2024. Dengan demikian, undang-undang yang baru diamandemen ini memberikan pengaturan terkait pencegahan kepemilikan silang, manipulasi, dan dominasi dalam kegiatan perbankan lembaga perkreditan.
Mengurangi rasio kepemilikan pemegang saham dan pihak terkait
Berdasarkan laporan Bank Negara yang disampaikan kepada Majelis Nasional pada Sidang ke-7 Majelis Nasional ke-15, kepemilikan saham yang melampaui batas, kepemilikan silang antar lembaga perkreditan, lembaga perkreditan, dan perusahaan setelah diproses telah menurun secara signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Namun, permasalahan penanganan kepemilikan silang menjadi sulit ketika pemegang saham mayoritas dan pihak terkait dari pemegang saham mayoritas dengan sengaja menyembunyikan, meminta individu/organisasi lain untuk mewakili mereka dalam kepemilikan saham guna menghindari ketentuan hukum, yang mengakibatkan lembaga perkreditan dikendalikan oleh pemegang saham tersebut, yang berpotensi menimbulkan risiko beroperasi tanpa publisitas dan transparansi.
Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya hal tersebut di atas, Undang-Undang Lembaga Perkreditan Tahun 2024 telah mengatur kembali ketentuan rasio kepemilikan saham pemegang saham lembaga perkreditan dibandingkan dengan Undang-Undang yang lama, yaitu sebagai berikut:
Pemegang saham perorangan tidak boleh memiliki saham melebihi 0,5% dari modal dasar lembaga kredit. Pemegang saham organisasi tidak boleh memiliki saham melebihi 10% (sebelumnya 15%) dari modal dasar lembaga kredit. Pemegang saham dan orang-orang terkaitnya tidak boleh memiliki saham melebihi 15% (sebelumnya 20%) dari modal dasar lembaga kredit. Pemegang saham utama lembaga kredit dan orang-orang terkaitnya tidak boleh memiliki saham 0,5% atau lebih dari modal dasar lembaga kredit lain.
Keterbukaan Informasi Pemegang Saham dan Pihak Terkait kepada Publik
Sebelumnya, Undang-Undang Lembaga Perkreditan Tahun 2010 mengamanatkan lembaga perkreditan wajib mengumumkan kepada publik kepentingan yang terkait dengan anggota Direksi, Dewan Anggota, Dewan Pengawas, Direktur Jenderal/Direktur, Wakil Direktur Jenderal/Direktur, dan jabatan yang setara.
Selain itu, Undang-Undang Efek tahun 2019 juga mengatur bahwa pemegang saham lembaga kredit yang memiliki modal 5% atau lebih wajib mengungkapkan informasi.
Namun, menurut Undang-Undang Lembaga Perkreditan 2024, kelompok pemegang saham yang memiliki 1% atau lebih dari modal dasar juga diharuskan untuk menyatakan informasi.
Undang-undang baru ini juga menetapkan bahwa individu yang terkait dengan pemegang saham juga harus menyatakan informasi yang transparan. Individu-individu ini meliputi: anak perusahaan dari anak perusahaan lembaga kredit; kakek-nenek, cucu, bibi, paman, keponakan, keponakan perempuan, dan sebaliknya.
Perketat kepemilikan silang dan manipulasi perbankan secara tegas
Menurut Bank Negara, di masa mendatang, pihaknya akan terus memantau keamanan operasional lembaga perkreditan dan melalui pemeriksaan permodalan, kepemilikan saham lembaga perkreditan, pemberian kredit, investasi, dan kegiatan penyetoran modal... Apabila ditemukan risiko atau pelanggaran, lembaga ini akan mengarahkan lembaga perkreditan untuk menangani permasalahan yang ada guna mencegahnya.
Apabila ditemukan indikasi tindak pidana, maka Bank Negara akan mempertimbangkan untuk melimpahkan kepada kepolisian guna dilakukan penyidikan, klarifikasi pelanggaran hukum (bila ada) dan melakukan penyidikan serta penanganan.
[iklan_2]
Sumber: https://laodong.vn/kinh-doanh/siet-chat-tinh-trang-so-huu-cheo-thao-tung-ngan-hang-tu-172024-1358767.ldo
Komentar (0)