Selama lebih dari dua dekade aktivitas artistiknya, Ryu Soo-young, aktor yang dicintai karena sikapnya yang tenang dan tatapan matanya yang mendalam, selalu bersinar dalam sorotan.
Namun di balik layar, ia menemukan sumber inspirasi lain yang sifatnya benar-benar berlawanan: dapur keluarga.
“Di lokasi syuting, jantungku berdebar kencang seperti ada api yang membakar dadaku,” katanya.
Namun, menjadi aktor berarti bersinar sendirian, sementara yang lain hanya menonton dari jauh. Sebaliknya, memasak baginya adalah "api" yang berbeda, membara dan dekat.
"Tidak ada api, hanya kehangatan yang lembut. Dan kehangatan itulah yang menyatukan orang-orang," ujarnya.
Dengan konsep itu, dapur bukan sekadar sudut pribadi yang tenang di tengah hiruk pikuk industri hiburan, tetapi juga tempat yang membantunya menemukan kembali nilai-nilai hubungan antarmanusia yang sederhana namun mendalam.
Sejak 2020, Ryu telah berbagi resep-resep pribadinya di acara KBS "Stars' Top Recipe at Fun-Staurant" - sebuah perjalanan yang penuh keberuntungan namun terus-menerus yang telah ditonton lebih dari 300 juta kali di YouTube dan secara bertahap membentuk "jati dirinya yang kedua" - seorang seniman kuliner.
Dan kini, perjalanan itu telah "disuling" dalam buku masak pertamanya "Ryu Soo-young's Forever Recipe" yang memuat 79 resep khas pilihan dari lebih dari 300 hidangan yang ia ciptakan dan bagikan.
Resep yang penuh kehidupan, tidak rumit, tidak aneh
Berbeda dengan buku masak mengilap pada umumnya, “Forever Recipe” mengambil jalur yang berbeda: sederhana, praktis, dan sangat aplikatif.
"Tidak ada yang istimewa dalam buku ini. Hanya makanan pokok sederhana dan familiar yang kita makan sehari-hari," tegas Ryu.
Dari gimbap tradisional, pasta satu panci gaya Korea-Eropa, hingga gochujang jjigae (semur pasta cabai merah) atau bahkan churros yang terbuat dari kulit pangsit, semuanya dibuat dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan dan metode memasak yang sudah dikenal.
"Awalnya, saya mencoba mengikuti resep koki terkenal, tetapi kemudian saya bertanya pada diri sendiri: Apakah saya benar-benar membutuhkan bahan-bahan yang mahal dan rumit ini? Jadi saya menguranginya atau menggantinya," ungkapnya.
Ryu memilih menggunakan alat ukur yang dikenal di setiap keluarga Korea seperti sendok nasi, cangkir minum atau gelas soju dan sama sekali tidak membutuhkan oven.
Kiat-kiat kecil untuk meningkatkan rasa, seperti merebus miyeokguk (sup rumput laut) dengan setengah apel atau menumis isi gimbap dengan minyak wortel, adalah bukti nyata gaya “less is more” (sedikit lebih baik).
"Tidak ada teknik yang rumit, tidak ada bahan-bahan mewah," kata Ryu. "Tapi kalau kamu mengikuti resepnya dengan bahan-bahan yang sudah ada di rumah, kamu bisa mencicipinya dan bertanya-tanya, 'Kenapa ini enak?' Itulah jenis masakan yang ingin aku bagikan."
Makanan untuk dibagikan
Yang membedakan Ryu Soo-young bukan hanya kemampuan memasaknya, tetapi juga filosofinya, yang menganggap makanan sebagai sarana koneksi dan nutrisi emosional. Makanan adalah tentang berbagi, bukan hanya keterampilan, tetapi juga hati.
Itulah sebabnya dalam video memasaknya, pemirsa tidak hanya belajar cara memasak, tetapi juga merasakan cinta, perhatian, dan kepribadian tenang yang terpancar dari setiap gerakannya.
Dan ini juga tercermin dalam arah yang ada dalam pikirannya untuk buku keduanya, yang akan berfokus pada lauk musiman (banchan) dan resep-resep yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, sebagai kelanjutan yang ringan namun mendalam dari seluruh hidangan keluarga.
Duta kuliner tidak resmi namun berpengaruh
Tidak berhenti di dalam batas-batas Korea, Ryu Soo-young juga diam-diam mengambil peran sebagai duta budaya kuliner dalam perjalanan internasional.
Ia pernah menyajikan galbijjim (iga pendek rebus) untuk bintang-bintang Hollywood seperti Ryan Reynolds dan Hugh Jackman saat mereka berkunjung ke Korea, dan memasak hidangan tersebut untuk 200 anak di perkemahan musim panas Korea di Bemidji, Minnesota, di mana mereka semua “membersihkannya” dengan penuh semangat.
Tahun lalu, Ryu mempresentasikan masakan Korea di Universitas Stanford dan telah membagikan hidangannya di berbagai negara, termasuk Spanyol, Peru, Vanuatu, dan Amerika Serikat. Ia percaya bahwa kuliner hanya dapat bertahan melalui fusi dan pertukaran.
"Gochujang cocok dipadukan dengan saus pedas atau mayones; kimchi cocok dipadukan dengan tomat," ujarnya. Oleh karena itu, ia memandang ekspansi K-food tidak hanya terbatas pada hidangan pedas, tetapi juga beragam, fleksibel, dan siap beradaptasi dengan selera global.
“Kehangatan” Korea menyebar
Dari lampu panggung hingga asap tipis yang mengepul dari panci di atas kompor, Ryu Soo-young menulis babak baru dalam perjalanan artistiknya, sederhana namun meyakinkan.
Ini bukan sekadar tentang resep, tetapi juga tentang pesan cinta, berbagi, dan keramahtamahan Korea yang dibungkus rapi dalam setiap hidangan hangat yang ia bawa untuk semua orang, di mana pun.
Sumber: https://baovanhoa.vn/du-lich/ryu-sooyoung-va-hanh-trinh-bep-nuc-mang-hoi-am-ket-noi-con-nguoi-150467.html
Komentar (0)