Menurut seorang reporter VNA di Thailand, tren perjalanan baru yang disebut “Naked Flying” tengah menarik perhatian kaum muda, terutama Gen Y dan Gen Z.
Meskipun namanya mungkin menyesatkan, tren ini tidak ada hubungannya dengan pakaian, tetapi mencerminkan gaya perjalanan minimalis tanpa bagasi terdaftar yang bertujuan untuk mengurangi stres dan menyederhanakan pengalaman perjalanan.
Pelancong Naked Flying hanya membawa barang-barang paling penting sebisa mungkin, seperti ransel kecil, tas laptop, atau bahkan barang-barang yang muat di saku.
Mereka tidak membawa barang bawaan dan bagasi terdaftar untuk mempersingkat waktu check-in, meningkatkan fleksibilitas saat bepergian dan menghindari kerepotan yang tidak perlu di bandara.
Tren ini saat ini terbagi menjadi tiga kelompok utama. Pertama, kelompok minimalis absolut, yang terdiri dari wisatawan yang hanya membawa barang-barang penting seperti ponsel, pengisi daya, dompet, dan kacamata hitam, tanpa membawa pakaian ganti atau barang pribadi. Metode ini cocok untuk perjalanan singkat atau liburan akhir pekan.
Kelompok kedua adalah "orang-orang berkantong". Pelancong dalam kelompok ini dengan cerdik memanfaatkan setiap saku untuk membawa barang-barang kecil seperti sikat gigi, obat-obatan, tabir surya, dll. Mereka tetap meminimalkan barang bawaan, tetapi memastikan mereka memiliki cukup barang penting untuk perjalanan.
Kelompok ketiga—kelompok yang biasanya paling cermat merencanakan—disebut "tim pengiriman". Alih-alih membawa barang bawaan, mereka mengirimkan barang-barang mereka ke destinasi wisata terlebih dahulu melalui layanan pengiriman ekspres. Hal ini membuat mereka bergerak lebih ringan, tetapi membutuhkan biaya dan persiapan yang matang.
Sebuah studi perjalanan global tahun 2024 menemukan bahwa sekitar 35% wisatawan kini memilih untuk hanya membawa tas jinjing kecil atau barang pribadi saat bepergian, dan sepenuhnya menghindari check-in bagasi.
Salah satu alasan utama di balik preferensi ini adalah keinginan untuk mengurangi “kelelahan dalam mengambil keputusan” – gagasan bahwa semakin sedikit barang bawaan berarti semakin sedikit pilihan, sehingga perjalanan menjadi lebih sederhana dan tidak terlalu menegangkan.
"Naked Flying" telah menarik perhatian beberapa maskapai penerbangan di AS dan Eropa karena mereka mulai menawarkan manfaat khusus bagi penumpang tanpa bagasi kabin, seperti prioritas naik pesawat atau peningkatan kursi.
Di Asia, tren “Naked Flying” juga menyebar, terutama di India di mana banyak influencer media sosial melihatnya sebagai simbol kehidupan modern, minimalis, dan mandiri.
Namun, tren ini tidak sepenuhnya bebas risiko. Banyak pelancong yang awalnya berencana untuk bepergian minimal akhirnya berbelanja terlalu banyak di tempat tujuan, bahkan harus membeli koper tambahan untuk dibawa pulang.
Selain itu, jika tidak diperhitungkan dengan matang, membawa barang yang kurang dari yang dibutuhkan dapat menyebabkan timbulnya biaya tak terduga dan mengganggu pengalaman yang diharapkan sederhana dan fleksibel.
Meskipun masih banyak perdebatan tentang kepraktisannya, “Naked Flying” mencerminkan perubahan kebiasaan bepergian, yang menekankan inisiatif, fleksibilitas, dan pengalaman daripada ketergantungan pada material dan kenyamanan tradisional.
Sumber: https://www.vietnamplus.vn/xu-huong-du-lich-toi-gian-len-ngoi-trong-gioi-tre-toan-cau-post1048194.vnp
Komentar (0)