Pada tanggal 22 Agustus, Kementerian Pendidikan Denmark mengumumkan bahwa mulai tahun 2026, siswa di beberapa sekolah menengah atas di negara tersebut akan diizinkan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mempersiapkan ujian bahasa Inggris.
Keputusan itu muncul saat kementerian pendidikan di seluruh dunia berdebat apakah AI merupakan alat pembelajaran yang berguna di era digital saat ini, atau merupakan faktor yang merusak kualitas siswa generasi mendatang.
Pemerintah Denmark mengatakan bahwa mengizinkan penggunaan AI dalam ujian bahasa Inggris akan menjadi proyek percontohan dan hanya akan berlaku untuk bagian lisan ujian kelulusan sekolah menengah atas.
Oleh karena itu, setelah menerima ujian, siswa akan memiliki waktu 60 menit untuk mempersiapkan diri dan diperbolehkan menggunakan semua perangkat yang tersedia, termasuk generator AI. Siswa kemudian akan mengikuti ujian di hadapan penguji.
Untuk ujian tertulis, siswa harus menulis sebagian soal dengan tangan agar tidak terlalu bergantung pada teknologi. Pada tahun-tahun sebelumnya, ujian tertulis sepenuhnya dilakukan di komputer dengan koneksi internet.
Program percontohan AI ini hanya akan berlaku untuk SMA yang bersedia berpartisipasi. Dalam sebuah pernyataan, Menteri Pendidikan Mattias Tesfaye mengatakan bahwa kementerian meluncurkan program percontohan AI untuk "menemukan keseimbangan yang tepat" antara mendorong digitalisasi pembelajaran dan pengajaran serta menjaga kualitas pendidikan.
Di negara lain di Eropa, siswa sekolah menengah diharuskan mengikuti ujian dengan tulisan tangan, bukan diketik.
Denmark telah mengizinkan siswa menggunakan Internet dalam ujian sejak 2008.
Source: https://tuoitre.vn/dan-mach-cho-phep-hoc-sinh-dung-ai-trong-ky-thi-tieng-anh-20250823201441954.htm
Komentar (0)