Penyebabnya sebagian besar karena penyalahgunaan aplikasi penerjemahan AI seperti Papago dan ChatGPT.
Menurut Penilaian Nasional Prestasi Pendidikan 2024, hanya 61,3% siswa kelas sembilan yang sangat termotivasi untuk belajar bahasa Inggris, turun 2,5 poin persentase dari tahun 2023. Proporsi siswa yang menilai bahasa Inggris sebagai mata pelajaran "sangat penting" juga turun dari 73,1% menjadi 69,6%.
Banyak guru mendapati siswa menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas, alih-alih belajar sendiri. Semakin banyak siswa SMP yang bertanya, "Apakah saya perlu belajar bahasa Inggris lagi?" padahal perangkat AI dapat menerjemahkan dan menulis untuk mereka. Bahkan siswa yang tertarik setelah bepergian ke luar negeri kini mengandalkan teknologi, alih-alih mempraktikkan keterampilan di dunia nyata.
"Bahasa Inggris di Korea selalu menjadi mata pelajaran ujian, bukan untuk penggunaan sebenarnya," seorang pejabat Kementerian Pendidikan memperingatkan. "Ketika AI mempermudah segalanya, siswa yang kurang percaya diri akan menjadi yang pertama menyerah, sehingga memperlebar kesenjangan pembelajaran."
Perkembangan AI menimbulkan tantangan besar bagi sektor pendidikan dalam mempertahankan dan memperkuat motivasi belajar bahasa siswa di era teknologi otomasi.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/hoc-sinh-han-quoc-chan-tieng-anh-vi-ai-post742167.html
Komentar (0)