Proses praktis restrukturisasi aparatur telah menempatkan banyak kader dan pegawai negeri sipil di depan perubahan mendasar dalam posisi kerja mereka; hal ini mudah menimbulkan kekhawatiran. Tanpa perhatian dan arahan yang tepat waktu, mentalitas "menunggu waktu yang tepat" atau "melewatkan tanggung jawab" dapat muncul, yang secara langsung memengaruhi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, dalam Kesimpulan 176-KL/TW (4 Juli) dan Kesimpulan 177-KL/TW (11 Juli), Politbiro dan Sekretariat dengan tegas menyatakan bahwa komite dan organisasi Partai harus melakukan pekerjaan yang baik dalam pendidikan politik dan ideologis bagi kader, anggota partai, pegawai negeri sipil, pegawai negeri, dan pekerja, serta segera menangani isu-isu ideologis yang muncul dalam proses pengoperasian aparatur baru. Bersamaan dengan itu, perlu didorong dan didukung untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang mendesak terkait dengan kantor pusat, kondisi kerja, dan perumahan rakyat agar kader dan pegawai negeri sipil dapat bekerja dengan tenang dan melayani masyarakat.
Selain itu, pola pikir kader yang stabil bukan berarti pasrah, melainkan harus bertindak tegas, berani berkomitmen, dan berani menghadapi tekanan baru. Kunci dari syarat stabilitas ini adalah menciptakan fondasi yang kokoh untuk "mempercepat" aksi. Oleh karena itu, banyak daerah sangat proaktif, tidak menunggu "adaptasi diri" dari akar rumput. Misalnya, Kota Ho Chi Minh telah mengorganisir banyak tim survei, berdialog langsung dengan kader akar rumput untuk "menyelesaikan" masalah atau kekhawatiran psikologis, serta merasa aman dalam bekerja dan berkontribusi. Agar semangat tersebut menyebar lebih luas dan lebih sinkron, kuncinya adalah peran keteladanan dan dedikasi para pemimpin itu sendiri. Sebab, di mana masih terdapat fenomena "menghindar dari tanggung jawab" dan "melemparkan tanggung jawab", kekuatan ideologisnya belum memadai. Di mana kader hanya berfokus pada penyelesaian pekerjaan pribadi tanpa koordinasi dan kreativitas, maka perlu dilakukan peninjauan ulang terhadap upaya pendidikan politik.
Contoh khas dari semangat "percepatan aksi" adalah Pusat Layanan Publik Kawasan Administratif Khusus Phu Quoc (Provinsi An Giang ). Selama minggu pertama pengoperasian model unit administratif baru, staf pusat bekerja sepanjang hari hingga jam makan siang atau hingga pukul 20.00 untuk memenuhi permintaan masyarakat yang melonjak. Tidak ada yang meminta mereka untuk bekerja lembur, tetapi mereka melakukannya karena rasa tanggung jawab yang tinggi dan demi kepuasan masyarakat. Kesadaran diri akan "percepatan aksi" ini tidak akan mungkin terwujud tanpa landasan ideologis yang kuat dan keyakinan terhadap proses reformasi.
Di sini, "mempercepat tindakan" bukan berarti mengikuti formalitas, melainkan bergerak lebih cepat dengan kualitas yang lebih tinggi, dalam kerangka yang lebih disiplin dan tertib. Kader tidak hanya harus menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga harus melakukannya dengan benar—cukup—dan kreatif, dengan mempertimbangkan kepuasan masyarakat, serta efektivitas nyata sebagai kriteria evaluasi. Agar dapat bertindak cepat namun tidak tergesa-gesa, aparatur perlu dipimpin oleh kader yang berkemauan politik kuat, peka terhadap realitas, proaktif terhadap hal-hal baru, dan berjiwa pengabdian. Hal ini menuntut penerapan persyaratan perlindungan kader yang berani berpikir, berani bertindak, dan berani bertanggung jawab secara praktis dan efektif.
Di sisi lain, penguatan ideologi juga menjadi peringatan bagi mereka yang “terlalu khawatir”, dengan mentalitas “menunggu instruksi” atau “menjauh” dari tugas-tugas baru. Aparatur tidak bisa menunggu mereka yang tidak memiliki kemauan. Kader yang cakap, berdedikasi, dan visioner, jika tidak dibangkitkan, didukung, dan dimotivasi tepat waktu, akan mudah patah semangat dan meninggalkan jabatannya. Sebaliknya, kader yang tidak bertanggung jawab, dengan mentalitas pasrah dan inovasi yang lambat, jika tidak diidentifikasi dan ditangani dengan segera, akan menciptakan stagnasi dalam proses membangun aparatur yang ramping, efisien, efektif, dan berdaya guna. Oleh karena itu, kemantapan ideologi dan aksi nyata kader dan pegawai negeri sipil bukan hanya tuntutan organisasi, tetapi juga tanggung jawab kepada rakyat dan negara.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/vung-tu-tuong-tang-toc-hanh-dong-post803640.html
Komentar (0)