Transformasi digital bukan hanya masalah teknologi, tetapi juga restrukturisasi menyeluruh terhadap cara rumah sakit diorganisasikan, dioperasikan, dan dilayani. |
Meningkatkan kualitas dan kuantitas
Menurut statistik terbaru Kementerian Kesehatan , pada Juli 2025, negara ini akan memiliki lebih dari 400 rumah sakit swasta berlisensi, yang mencakup 24% dari total 1.665 rumah sakit. Jumlah fasilitas medis swasta yang berpartisipasi dalam pemeriksaan dan perawatan asuransi kesehatan juga meningkat tajam, dengan 1.132 unit menandatangani kontrak pada tahun 2024, 2,1 kali lebih tinggi dibandingkan tahun 2015.
Banyak fasilitas swasta seperti Vinmec, Tam Anh, Hop Luc, Medlatec, Hai Phong International, Saigon ITO, Hung Vuong... telah menjadi merek medis bergengsi. Tak hanya memperluas skala, banyak unit juga telah meningkatkan klinik mereka menjadi rumah sakit, membuka departemen khusus untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Tahun 2025 ditetapkan sebagai tahun percepatan peta jalan transformasi digital di fasilitas pelayanan kesehatan swasta. Asosiasi Rumah Sakit Swasta Vietnam telah aktif mempromosikan dan menyebarluaskan mekanisme dan kebijakan transformasi digital. Secara khusus, Asosiasi berperan dalam menghubungkan kerja sama antara perusahaan teknologi, penyedia layanan teknis, dan rumah sakit untuk menerapkan infrastruktur digital, membantu proses digitalisasi berlangsung cepat, lancar, dan efektif.
Prof. Nguyen Van De, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Vietnam, menekankan bahwa fasilitas medis swasta perlu menyatukan kesadaran mereka akan pentingnya transformasi digital, karena ini merupakan tren yang tak terelakkan, dan tidak ada pilihan lain yang lebih layak dan optimal di era teknologi 4.0.
Menurutnya, transformasi digital bukan hanya sekadar pelaksanaan program transformasi digital nasional Pemerintah dan proyek transformasi digital Kementerian Kesehatan saja, tetapi juga merupakan kebutuhan praktis yang terkait dengan operasional sehari-hari rumah sakit, khususnya rumah sakit swasta, di mana pasien dianggap sebagai pusat, pelanggan khusus yang perlu dilayani dengan sepenuh hati dan efektif.
Oleh karena itu, mendorong transformasi digital merupakan hal yang harus segera dilakukan dan tidak dapat ditunda. Investor dan pimpinan rumah sakit perlu menciptakan kondisi yang paling menguntungkan, memprioritaskan modal dan sumber daya manusia, sekaligus menunjukkan tekad untuk berinovasi guna menemukan solusi yang tepat guna mendorong penerapan rekam medis elektronik.
Contoh khas implementasi transformasi digital adalah sistem layanan kesehatan Medlatec. Menurut Master, Doktor Sains Dao Danh Vinh, Direktur Pusat Diagnostik Pencitraan Medlatec, dalam konteks banyaknya unit layanan kesehatan swasta yang masih menghadapi kesulitan dan hambatan dalam proses transformasi digital, Sistem Layanan Kesehatan Medlatec telah menegaskan posisi pionirnya dengan pendekatan yang metodis dan komprehensif.
Dengan visi jangka panjang dan strategi yang jelas, Medlatec secara proaktif berinvestasi dalam mengembangkan infrastruktur teknologi, membangun ekosistem perangkat lunak manajemen rumah sakit pintar, dan menerapkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung diagnosis dan perawatan.
Khususnya, unit ini telah menerapkan layanan medis daring secara luas, seperti pendaftaran pemeriksaan dan perawatan medis daring, pengembalian hasil tes melalui aplikasi, SMS, atau email, serta pemeriksaan medis jarak jauh. Solusi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi manajemen dan pengalaman pasien, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap tujuan transformasi kesehatan digital nasional.
Rumah Sakit Umum Duc Minh di Ha Giang (sekarang Tuyen Quang) juga merupakan rumah sakit swasta di wilayah perbatasan utara. Meskipun merupakan rumah sakit swasta di wilayah perbatasan utara, sejak awal beroperasi, rumah sakit ini telah menerapkan rekam medis elektronik di semua departemen, baik rawat inap maupun rawat jalan. Berkat sistem ini, proses pemeriksaan dan perawatan medis menjadi lebih singkat dan transparan, sehingga dokter dapat mengakses informasi pasien hanya dalam hitungan detik.
Selain itu, Rumah Sakit juga menerapkan teknologi modern seperti sistem pengarsipan dan komunikasi citra medis (PACS), pengujian otomatis, dan komunikasi data dua arah untuk mengoptimalkan proses perawatan, meminimalkan kesalahan medis, dan meningkatkan kualitas layanan.
Demikian pula, Rumah Sakit Umum Internasional Hai Phong dan Rumah Sakit Obstetri dan Pediatri Internasional Hai Phong telah meraih banyak keberhasilan berkat penerapan teknologi digital. Sistem ini berhasil meraih juara pertama di tingkat kota berkat penerapan kode elektronik, pembayaran biaya rumah sakit melalui kode QR, dan penerapan solusi untuk meminimalkan kesalahan profesional. Setelah 6 tahun menggunakan rekam medis elektronik, sistem ini telah mengintegrasikan banyak fitur seperti koneksi pencarian cepat, dukungan pemeriksaan daring, dan pembayaran melalui dompet elektronik, yang membantu mengurangi biaya operasional dan meningkatkan transparansi dalam pengelolaan data.
Restrukturisasi dan reformasi komprehensif
Transformasi digital bukan hanya soal teknologi, melainkan restrukturisasi menyeluruh organisasi, operasional, dan layanan di rumah sakit. Dr. Nguyen Bao Uyen, CEO Hop Luc Healthcare System, mengatakan bahwa yang terpenting adalah mengubah kesadaran karyawan akan manfaat transformasi digital. Rekam medis elektronik hanyalah langkah awal, tujuan jangka panjangnya adalah membangun model rumah sakit pintar yang optimal dan transparan serta melayani pasien dengan lebih baik.
Biaya investasi merupakan kekhawatiran umum bagi banyak manajer. Tergantung pada skala implementasinya, biayanya dapat mencapai puluhan miliar VND, yang membutuhkan efisiensi operasional yang nyata dan menghindari formalitas.
Banyak rumah sakit masih menghadapi masalah seperti perangkat lunak rekam medis yang tidak memenuhi standar, ketidaksesuaian dengan asuransi kesehatan, dan kegagalan dalam mendukung pencetakan rekam medis kertas, yang menyebabkan penagihan. Beberapa unit tidak mematuhi kode identifikasi medis, sehingga menyulitkan koneksi data. Selain itu, infrastruktur teknologi yang lemah dan sumber daya manusia yang kurang terampil juga memengaruhi efisiensi implementasi.
Dalam persaingan transformasi digital, fasilitas pelayanan kesehatan berperan sebagai penggerak, sementara perusahaan teknologi berperan sebagai arsitek yang merancang dan membangun sistem. Namun, teknologi hanya bernilai jika diterapkan secara efektif dalam praktik, sehingga meningkatkan kualitas operasional dan layanan. Hal ini membutuhkan kombinasi solusi yang tepat dan tekad untuk berubah dari rumah sakit itu sendiri.
Transformasi digital membutuhkan rencana yang terperinci: survei, pelatihan, pengujian, evaluasi, dan konversi data. Rumah sakit perlu memilih penyedia yang tepat, memanfaatkan infrastruktur yang ada, dan melatih sumber daya manusia secara menyeluruh. Tidak ada solusi universal, hanya solusi yang sesuai untuk setiap situasi. Oleh karena itu, banyak ahli menyarankan agar Pemerintah memiliki kebijakan dukungan keuangan, terutama untuk sektor swasta dan rumah sakit tingkat bawah.
Sumber: https://baodautu.vn/y-te-tu-nhan-but-pha-trong-cuoc-cach-mang-so-d350088.html
Komentar (0)